Jejaring Sosial Memperluas Jangkauan

1 , , , Permalink 0

Tulisan ini ringkasan dari materi berbagi pengalaman mengelola publikasi VECO Indonesia pada pelatihan media online untuk lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Pelatihan di Bogor pada 31 Agustus – 2 September 2010 ini diikuti mitra VECO Indonesia, Koalisi Rakyat Kuntuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Aliansi Petani Indonesia (API), serta lembaga jaringan VECO Indonesia, Prakarsa dan Bina Desa. Aku berbagi cerita mengelola website VECO Indonesia, termasuk social media (jejaring sosial) di dalamnya.

Website bagi VECO Indonesia adalah hal baru. Bentuk media publikasi ini baru aktif pada Mei tahun lalu setelah terus tertunda sejak tahun 2007. Dibandingkan bentuk publikasi lain, seperti laporan tahunan, buku, dan majalah, website punya beberapa keunggulan.

Keunggulan tersebut, antara lain daya tampung sangat besar, kemudahan untuk mengelola (bandingkan dengan majalah yang harus dikelola banyak orang), cepat update (tinggal seberapa besar waktu dan sumber informasi yang kita punya), dinamis dan interaktif (bisa menggabungkan berbagai format media seperti audio, video, gambar), tak terbatas ruang, dan bisa menjangkau khalayak lebih luas.

Kemampuan menjangkau lebuh luas dimungkinkan karena internet memang borderless alias tanpa batas. Selama ada koneksi internet, website bisa diakses dari mana pun. Bandingkan dengan, misalnya, majalah yang jangkauannya paling banyak malah numpuk di pulau Jawa.

Agar bisa menjangkau khalayak lebih luas, jejaring sosial mutlak digunakan. Jejaring sosial ini, misalnya Facebok, Twitter, Flickr, dan semacamnya. Bagi sebagian orang, jejaring sosial sepertinya cuma untuk bersenang-senang. Padahal, dia berfungsi penting menyebarluaskan publikasi.

Facebook
Data per Agustus ini menyebut jumlah pengguna jejaring sosial ini mencapai 500 juta orang di seluruh dunia. Itu dua kali lipat jumlah penduduk Indonesia. Kalau semua pengguna tersebut bisa kita jangkau dengan publikasi kita, maka sebanyak itu pula pembaca media kita.

Facebook untuk lembaga seperti LSM bisa dibuat dalam bentuk personal, group atau page. Pengguna Facebook lain bisa menjadi teman (kalau daftar sebagai personal), penyuka page, atau anggota group. Tiap kali ada update dari website, otomatis akan terhubung ke Facebook. Aplikasi untuk menyambungkan ini bisa lewat beberapa plugin, seperti Wordbooker.

Melalui plugin semacam ini, otomatis informasi dari website semakin tersebar luas di jejaring sosial.

Twitter
Jejaring sosial ini berfungsi memberikan perbaharuan (update) dengan cepat pada saat yang sama (real time update). Format update terbatas dalam jumlah 140 karakter. Jadi, tidak bisa panjang dan sangat terbatas.

Informasi yang bisa kita masukkan di Twitter pun singkat. Contohnya, “VECO Indonesia adakan pelataihan media online bagi lembaga mitra dan jaringan di Bogor.” Bagiku, selain untuk mengababarkan informasi singkat, Twitter juga bisa berfungsi untuk melatih menulis info dalam bentuk pendek tapi jelas. Dalam teori menulis, sih, ada prinsip makin pendek kalimat makin nyaman dibaca. Kita bisa belajar dengan rajin menulis di Twitter.

Twitter juga bisa sebagai alat untuk mengumumkan tiap kali kita update di website atau Flickr. Aplikasi yang bisa digunakan untuk menghubungkan website dengan Twitter ini adalah dlvr.it, yang tak hanya mengirim update ke Twitter tapi juga jejaring sosial lain, seperti Buzz dan Linkedin.

Jadi, begitu ada update di website, otomatis Twitter ataupun situs mikroblogging tersebut akan memberikan informasi. Ibarat tukang woro-woro, jejarig sosial ini akan teriak ke banyak orang, “Eh, ada tulisan baru, lho, di websiteku….”

Orang lain akan tahu bahwa ada update di website kita. Soal mereka kemudian membuka website atau tidak itu urusan belakang. Yang penting kan kita sudah umumkan ke mereka.

Flickr
Fungsi utama jejaring ini untuk menyimpan dan menyebarluaskan foto ataupun video. Aku sendiri belum pernah memasukkan video meski lumayan rajin memasukkan foto. Seperti juga Facebook dan Twitter, layanan jejaring ini pun gratis. Tak perlu bayar untuk menggunakan.

Tapi, Flickr juga menyediakan layanan berbayar sebesar sekitar Rp 250.000 per tahun. Kita bisa menyimpan tanpa batas kalau menggunakan akun Pro ini. Kalau yang gratisan, sih, cuma bisa sampai 200 lembar foto. Setelah foto kita lebih dari 200, foto yang lama akan disimpan di server dan tidak bisa tampil lagi.

Apa gunanya Flickr? Itu tadi: menyimpan dan menyebarluaskan foto. Jadi, tiap lembaga kita punya kegiatan tertentu, dengan segera bisa kita masukkan fotonya di Flickr. Tak hanya kegiatan tapi juga bisa laporan program dari lapangan.

Penyimpanan foto di Flickr bisa disusun berdasarkan tema tertentu. Contohnya berdasarkan tema program, isu yang digeluti, atau kegiatan tertentu.

Penggunaan Flickr ini memudahkanku ketika mau menggunakan foto untuk ilustrasi artikel tertentu di website. Kita tinggal cari foto tersebut, lalu salin (copy) alamat foto di website, dan… walla!, foto itu pun nongol di website.

Pencarian ini sangat mudah. Tinggal masukkan kata kunci (tag) yang kita gunakan atau judul foto tersebut. Bandingkan dengan mencari di hard disk, baik eskternal atupun internal, yang lumayan makan waktu.

Menyimpan di Flickr juga membantu pihak lain yang ingin menggunakan foto dengan tema program lembaga kita. Katakanlah di VECO Indonesia, orang dengan mudah mencari foto tentang petani perempuan di Timor, penyadaran konsumen di Bali, atau organisasi petani di Boyolali.

Jadi, tak hanya untuk pekerjaan sendiri,menggunakan jejaring sosial ini juga memudahkan orang untuk mengenal seperti apa lembaga kita dan untuk siapa kita bekerja.

Foto diambil dari Kozinets.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *