Jejak Hindu di Tanah Kelahiran Amrozi

2 No tags Permalink 0

Lamongan hanya dikenal gara-gara Amrozi. Padahal ada juga jejak Hindu di pesisir utara Jawa Timur itu yang menarik dikunjungi. Bangunan dan upakara Hindu tersisa di Makam Sunan Drajat dan Sunan Sendangduwur. Kurangnya perawatan dan perhatian mengancam bukti akulturasi Hindu dan Islam ini.

Supiyah, 60 tahun, menengadahkan tangan ketika saya menyusuri jalan setapak di area makam. Jalan itu menghubungkan makam Sunan Drajat dengan museum. Tanahnya berdebu dan berkerikil selebar tak sampai semeter melewati pinggir ratusan nisan batu hitam. Menyusuri jalan sepanjang sekitar 100 meter ini, saya menjumpai sekitar 15 pengemis. Umumnya mereka berbaju lusuh, tanpa alas kaki, dan berteduh di bawah pohon atau tubuh bersandar tembok. Mereka membawa piring atau gelas untuk tempat koin pemberian pengunjung.

Tujuan utama pengunjung, termasuk saya, adalah Makam Sunan Drajat. Sunan atau wali adalah sebutan untuk penyebar Islam pada masa dulu. Disebut Makam Sunan Drajat karena makam ini terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sekitar 120 km barat laut Surabaya. Menggunakan kendaraan umum, pengunjung dari Surabaya biasa naik bis kecil jurusan Terminal Osowilangun (Surabaya) – Tanjung Kodok (Lamongan) dan turun di pertigaan Desa Banjarwati.

Ketika berkunjung Agustus lalu, saya menyewa tukang ojek di pertigaan jalan menuju lokasi. Dengan Rp 25.000, kita bisa minta tukang ojek mengantar ke beberapa tempat wisata di Paciran seperti Tanjung Kodok, Gua Maharani, ataupun Makam Sunan Drajat. Gua Maharani dan Tanjung Kodok, satu sama lain berjarak sekitar 500 meter, merupakan kawasan objek wisata.

Tanjung Kodok dikenal karena bentuk karangnya mirip katak (dalam bahasa Jawa disebut kodok). Hempasan ombak membuat bagian bawah batu karang menjadi ceruk sehingga seperti katak menghadap ke laut jawa. Menurut mitos setempat, katak itu jelmaan seorang pemuda yang terpisah dengan kekasihnya di seberang lautan. Maka, kadang ada yang tidak mau berkunjung ke Tanjung Kodok bersama kekasihnya karena takut akan putus hubungan. Kebenarannya? Silakan Anda coba sendiri. Toh banyak juga pengunjung remaja yang datang bersama pasangannya.

Objek lain, gua Maharani, mulai dikenal sekitar 1994. Menurut buku wisata di sana, gua ini disejajarkan dengan Gua Altamira di Spanyol, Gua Mammoth dan gua Carlsband di Amrik, serta Gua Coranche di Perancis. Ada ratusan stalaktit dan stalakmit di dalam gua dengan bentuk beraneka ragam. Salah satunya berbentuk singgasana yaitu Selo Dampar Singgasana. Karena itulah gua ini disebut Gua Istana Maharani. Sebab diyakini stalakmit tersebut dulunya tempat duduk putri Maharani, salah satu putri di Lamongan.

Kedua objek wisata itu jadi tempat favorit warga setempat dan sekitarnya untuk menghabiskan waktu luang dengan keluarga, teman, atapun pacar. Kini sedang dibangun Pusat Wisata Bahari dengan dunia buatan mulai dari tempat bermain, hotel, dan fasilitas lain. Barangkali pemerintah setempat tergiur gemerlap pariwisata seperti halnya Bali.

***

Bali dan Lamongan memang punya “hubungan khusus”. Sebulan setelah bom Bali pada 12 Oktober 2002, Tim Investigasi Kasus Bom Bali menangkap Amrozi, warga desa Tenggulun, kecamatan Solokuro, salah satu desa di kabupaten Lamongan. Tak lama kemudian, polisi juga menangkap Mukhlas dan Ali Imron, keduanya saudara Amrozi. Menurut penyelidikan polisi dan kemudian dibuktikan di pengadilan, Trio Tenggulun inilah kunci utama peledakan bom Bali. Lamongan yang sebelumnya hanya samar-samar terdengar tiba-tiba muncul di setiap koran lokal, nasional, bahkan internasional. Bahkan, hingga saat ini warga Lamongan di Bali pun lebih dikenal sebagai “Tonggone Amrozi” (tetangga Amrozi), dengan nada yang agak bercanda.

Tenggulun termasuk desa terpencil. Tidak ada angkutan umum ke desa ini. Ketika berkunjung ke tempat ini, saya melewati jalan beraspal bolong-bolong dan naik turun. Ketika musim kemarau, tanah di desa ini retak-retak. Dengan kondisi seperti ini, tidak sedikit warga setempat memilih menjadi tenaga kerja di Malaysia seperti buruh bangunan, buruh kebun kelapa sawit, maupun pembantu rumah tangga.

Menurut Kepala Desa Tenggulun Maskun, lebih dari separuh tenaga kerja produktif di desanya memilih jadi TKI. Denyut kehidupan di desa mereka pun terasa karena ringgit Malaysia. Misalnya pembangunan jalan aspal sepanjang sekitar 5 km. Tiap warga yang bekerja di Malaysia dimintai sumbangan Rp 200.000-Rp 500.000. Maka, sejak 1998, jalan masuk desa sudah diaspal. Listrik masuk desa pun dengan cara sama. “Kalau nunggu dari pemerintah tidak akan dibangun-bangun,” kata Zumrotin, warga setempat.

Hasil mengeruk ringgit terlihat di gaya hidup penduduk. Zumrotin mengaku bisa membangun rumah setelah tiga tahun di Malaysia. Rumahnya mentereng dengan dinding keramik hijau dan lantai keramik putih. Di kamar tamunya ada TV dan tape Aiwa dari Malaysia. Di depan rumah ada Honda Supra tipe terbaru. “Ya itu hasil dari Malaysia, Mas,” akunya. Ketika berbicara, kalung emas menggantung di leher, tiga jari kiri berisi cincin emas, dan lima gelang di tangan kirinya. Logat bicaranya sudah khas Malaysia.

Di Tenggulun ada dua Taman Kanak-kanak, dua SD, satu Madrasah Tsanawaiyah (setingkat SLTP), dan satu pondok pesantren (ponpes) bernama Al-Islam dimana Amrozi dan dua saudaranya pernah mengajar. Ponpes ini kemudian disorot berbagai media karena disangka sangat menyeramkan: jaringan Jama’ah Islamiyah (JI). Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) memasukkan JI sebagai kelompok teroris di Asia Tenggara.

Dilihat secara fisik, Ponpes Al-Islam jauh dari kesan itu. Ada enam bangunan sederhana terdiri dari dua bangunan pondok, dua bangunan untuk ruang kelas, satu bangunan untuk tamu, dan satu masjid. Pondokan tidak tertata rapi. Agak berantakan. Beberapa santri malah tidur di lantai beralas tikar karena kasur berususnnya terbatas. Tiap empat santri punya satu lemari dari papan dan sebagian lemari plastik.

Kegiatan di Ponpes Al-Islam seperti pondok pesantren umumnya. Setiap hari santri harus ikut sholat berjamaah, kegiatan belajar mengajar, pengajian, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti Santri Pecinta Alam (Sapala), Pencak Silat, dan Muhadhoroh (pelatihan berdakwah atau berbicara di depan umum). “Selain itu kami tidak pernah diajak kegiatan macam-macam,” kata Syaifullah Al-Hafidz salah satu santri.

Kurikulumnya tidak istimewa. Matematika, Fisika, Geografi, dan ilmu umum lain prosentasenya lebih kecil dibanding ilmu agama. Kurikulum agama dibuat sendiri. “Karena sebagian besar ustadznya lulusan Pondok Pesantren Al-Mu’min Ngruki, maka lebih berorientasi ke sana,” kata Zakaria pemimpin pondok. Buku pelajaran sebagian besar terbitan Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. “Itu pun, ya, standar pondoklah,” tambahnya. Sebut saja Bulughul Maram (tentang tata bahasa Al-Quran), Riyadhus Sholihin (tentang hadits), Fiqih (tata cara beribadah), Nahwu Sharaf (tata bahasa Arab), Aqidah (moralitas), Tauhid (ketuhanan), dan semacamnya.

Desa Tenggulun yang terpencil, ponpes Al-Islam yang sederhana dan biasa saja, serta Amrozi yang sering tertawa –bahkan dijuluki The Smiling Bomber- itu menghiasi berbagai media sejak November hingga awal 2003. Lamongan kemudian hanya dikenal karena “melahirkan teroris”. Padahal Lamongan juga memiliki beberapa tempat menarik untuk dikunjungi- dan ditulis tentu saja- selain Tenggulun, Al-Islam, dan Amrozi. Termasuk diantaranya adalah Makam Sunan Drajat dan Makam Sunan Sendangduwur yang membuktikan adanya sinkretisme antara Islam dan Hindu.

***

Makam Sunan Drajat berjarak sekitar 10 km dari kawasan Tanjung Kodok. Namun kondisinya jauh berbeda. Ketika masuk areal makam, terlihat tempat yang tidak terlalu diurus. Sampah berserakan di depan areal makam. Tempat parkir tidak beraspal sehingga ketika kendaraan yang datang membuat debu putih beterbangan. Di tempat parkir banyak penjual buah aren -warga setempat menyebutnya siwalan-, legen -minuman dari buah aren-, maupun makanan lokal lainnya. Sepanjang jalan berpaving dari tempat parkir ke areal makam, berderet-deret pedagang kaki lima. Suasananya tidak terlalu nyaman.

Padahal tempat ini sebenarnya memiliki keunikan. Saya melihat jejak-jejak Hindu di sini.

Penataan makam seperti penataan pura dengan tiga bagian utama yaitu nista mandala (paling luar), madya mandala (bagian tengah), dan utama mandala (bagian inti). Bagian paling luar digunakan untuk tempat parkir dan pedagang kaki lima. Sebagai pembatas dengan madya mandala, ada candi bentar berbentuk seperti candi bentar pura di Bali.

Pintu bernama Lawang Agung ini menjadi penmbatas areal makam dengan tempat parkir. Tingginya sekitar tiga meter dengan batu padas hitam. Bisa jadi konsep tersebut memang meniru arsitektur Hindu pada masa itu. Sebab makam Sunan Drajat ini dibangun pada 1622 Masehi, sehingga pengaruh kerajaan Hindu Majapahit masih ada. Sayangnya, kemegahan pintu ini tenggelam di belakang pedagang kaki lima.

Di ujung jalan berpaving setelah Lawang Agung, ada Museum Sunan Drajat dengan koleksi benda-benda yang pernah digunakan Sunan Drajat untuk menyebarkan agama Islam. Sunan Drajat merupakan salah satu dari sembilan wali di Jawa yang dikenal dengan nama Wali Songo. Kelompok ini dikenal moderat dalam mengajarkan agama. Tak jarang mereka pun menggunakan instrumen Hindu ketika mengajar agama. Misalnya pertunjukan Wayang Kulit untuk berkhotbah.

Adapula genta untuk mengumpulkan santri. Genta ini masih tersimpan rapi di ruang museum. Bentuknya seperti kubah dengan ukuran sekepalan tangan. Menurut informasi di tempat tersebut, genta dari perunggu ini biasa digunakan Sunan Drajat untuk mengumpulkan santri sebelum memulai pengajian. Selain itu ada pula Padupan yang biasa digunakan umat Hindu sebagai tempat dupa. Oleh Sunan Drajat padupan ini digunakan untuk tempat lampu ketika mengaji.

Sayangnya informasi tentang benda-benda tersebut sangat sedikit. Hanya ada nama benda, tempat ditemukan, serta fungsinya. Informasi di atas kertas putih itu lusuh karena debu meski berada di ruang berkaca.

Selain benda-benda di dalam museum, jejak Hindu itu juga terlihat di beberapa bagian bangunan. Selain Lawang Agung yang di bagian depan juga ada Gapura Candi Supit Urang. Gapura ini hanya terlihat bekasnya di salah satu pojok areal makam. Adapula Bale Rante seperti halnya bale di pura yang biasa digunakan menyimpan sesajen. Bale Rante ini bersama dengan masjid, museum, dan ratusan makam murid Sunan Drajat berada di kawasan tengah areal makam.

Bagian paling inti, tentu saja, adalah makam Sunan Drajat. Makam sunan bernama asli Raden Qasim ini berada di bangunan terpisah dengan makam lain. Di sepanjang jalan menuju makam inilah puluhan pengemis menunggu setiap pengunjung. Menurut Siti Rukoyah, salah satu bocah pengemis, mereka memilih tempat itu karena paling banyak dilewati. “Pengunjung kan pasti ke makam sunan,” akunya. Namun Siti harus berebut dengan pengemis lain, termasuk Supiyah.

Makam Sunan Drajat dikelilingi puluhan makam keluarganya berada di tempat lebih tinggi. Ketika menaiki dua kali undakan menuju cungkup makam, ingatan saya melayang ke Pura Uluwatu di Bali yang juga punya banyak undakan. Cuma di tempat ini tidak ada monyet nakal seperti di Uluwatu. Yang ada wajah memelas para pengemis. Di seputar makam sunan, beberapa pengunjung khusyu’ berdoa. Di belakang mereka, di pintu masuk makam utama, seorang penjaga tengah memainkan HP Nokia terbaru yang dilengkapi kamera. Saya tersenyum geli melihatnya.

Selesai berkunjung di makam Sunan Drajat, saya menuju Makam Sendangduwur, sekitar 15 km sebelah baratnya. Makam ini terletak di Desa Sendangduwur di kecamatan yang sama. Agak susah ke tempat ini karena lokasinya di ketinggian dan jarang dikunjungi. Untunglah Saiman, tukang ojek saya, sudah terbiasa dengan jalan seperti ini. Setelah menempuh jalan agak berkelok-kelok, sempat tersesat, dan bertanya kepada beberapa warga sekitar, sampai juga saya di depan areal makam.

“Ya Ampun,” kata saya dalam hati ketika sampai di depan makam. Gapura di makam itu sangat mirip dengan candi bentar pura. Bentuknya seperti meru dibelah dua. Karena tidak ada penghalang apapun, seperti pohon ataupun pedagang, candi bentar ini sangat terlihat. Namanya pun sama: Candi Bentar. Kalau tidak ada papan keterangan dengan tulisan Arab, saya pasti mengira tempat tersebut pura.

Makam yang dibangun pada tahun 1585 ini sepi dan lebih terawat. Lokasinya berada di Puncak Gunung Amintuno dengan ketinggian sekitar 75 meter dari permukaan laut. Karenanya, kita bisa melihat desa-desa di sekitarnya. Makam ini persis bersebelahan dengan masjid.

Candi bentar di bagian luar bernama Gapuro Paduraksa seperti halnya Pamedal Agung di pura-pura besar di Bali. Di seluruh areal makam terdapat enam gapura yang menandai batas antar bagian makam. Hampir setiap gapura itu dihiasi relief. Menurut Masrur Hasan, keturunan Sunan Sendangduwur yang juga penjaga makam, relief itu menggambarkan cerita tertentu.

Misalnya Gapura Urung-urung di bagian selatan yang dihiasi mahkota garuda dan lukisan kala atau raksasa dalam ajaran Hindu. Di atas kepala kala terdapat lukisan pohon yang dalam ajaran Hindu disebut pohon hayat, atau pohon harapan. Di dalam ajaran Islam, pohon itu dikenal dengan nama Syajarotul Khuldi atau pohon abadi. “Gapura ini menunjukkan perpaduan unsur Hindu dan Islam,” tutur Hasan.

Makam Sunan Sendangduwur sendiri berada di bagian selatan makam. Menuju tempat ini saya melewati jalan setapak berpaving dan dua kali candi bentar berbentuk cungkup dengan lubang di bawahnya. Candi bentar itu juga terbuat dari batu padas hitam. Bagian lain yang sangat mirip dengan benda-benda di Bali adalah nisan makam. Nisan-nisan itu berukir motif abstrak yang sekilas terlihat seperti wajah rangda atau barong dengan mata melotot. Namun kali ini rangda dengan huruf Arab di tengah sehingga sekilas seperti gigi.

Areal makam yang tidak terlalu luas membutuhkna sekitar 30 menit untuk mencapai setiap bagian di makam ini. Karena itu saya kemudian memilih duduk di salah satu cungkup makam sambil melihat desa di sekitar. Hawa yang sejuk membuat terasa nyaman.

Ketika saya keluar dari areal makam, belasan bocah menunggu di pintu gerbang. Ternyata mereka juga mengemis, meski mereka berbeda dengan pengemis di makam Sunan Drajat. Di Sendangduwur ini mereka berpakaian biasa. Wajahnya juga tidak dibuat memelas meski menengadahkan tangan. Ketika saya menolak memberi uang, karena mereka sangat banyak, mereka juga tidak terlihat sedih. Mereka malah saling menggoda lalu tertawa.. [b]

Versi bahasa Inggris tulisan ini dimuat di majalah Latitudes.

2 Comments
  • suhuri
    October 25, 2008

    trima kasih saudara telah memperkenalkan daerah saya,tentang hal yang positif.

    ReplyReply

    [Reply]

  • yainal
    January 7, 2009

    kok aku kelewatan moco sing iki ya?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *