Ironi Pengemis di Kota Paris

12 , , , , Permalink 0

Paris adalah ironi. Ini mungkin generalisir berlebihan. Tapi, itulah yang aku simpulkan.

Are you speak English?” tanya seorang perempuan paruh baya padaku ketika kami baru saja sampai di depan Notre Dame, Paris, Sabtu lalu. Perempuan berusia sekitar 40 tahun itu memberikan kartu pos padaku.

Isi tulisan dalam Bahasa Inggris di kartu pos itu kurang lebih begini. “Saya dari Bosnia dan sampai di Paris sejak dua bulan lalu. Sekarang ayah saya sakit. Tapi saya tidak punya uang. Tolong saya.”

Karena cepat terpengaruh urusan beginian, aku segera memberikan koin euro padanya. Aku pikir apa yang dia ceritakan di kartu pos itu benar. Ternyata, setan!, itu semua hanya akal bulus pengemis di Paris untuk menarik simpati pengunjung kota ini.

Tak sampai semenit kemudian, pengemis lain datang dengan pola yang sama. Bertanya, “Are you speak English?” lalu memberikan kartu pos.

Karena merasa tertipu, aku langsung kehilangan simpati pada pengemis-pengemis itu. Selain pola yang sama, pakaian mereka juga tak jauh berbeda. Selain gaun dan baju lengan panjang, mereka juga mengenakan kerudung kecil seperti ibu-ibu di Indonesia.

Bukan cuma aku yang merasa jengah dengan pengemis-pengemis ini. Jojo Raharjo, teman seperjalanan dari Indonesia, juga sebal pada mereka. Dia juga tertipu oleh para pengemis itu. Kalau aku cuma memberikan 50 sen, Jojo memberikan sampai 2 euro. Pantes dia marah-marah terus. “I already give to you. Yes. Already,” katanya pada salah satu pengemis yang mendatanginya.

Jumlah pengemis ini, mungkin sampai ratusan. Mereka menyelip di antara padatnya turis di Kota Paris. Tak hanya di Notre Dame, ratusan pengemis lain juga kami temui di pusat-pusat turis lain seperti Menara Eiffel, Arc de Triomphe, dan Concorde. Pola mereka selalu sama.

Di tempat lain, misalnya sepanjang Jalan Champ Elysess, kami menemukan pola yang sedikit berbeda. Para pengemis itu duduk di pinggir jalan. Mereka bersimpuh di atas tulang kering kakinya seperti orang mau menyembah dengan gelas plastik di depannya.

Dia memang tidak mengatakan apa pun. Tapi dengan posisi seperti itu, secara tidak langsung dia berharap agar orang yang lewat akan memberikan sekeping uang. Dan, memang beberapa orang memberikannya.

Tiga Kata Sakti
Cara berbeda dilakukan pengemis laki-laki. Kami menemuinya ketika di dalam kereta bawah tanah yang biasa disebut metro di sini. Laki-laki yang menggendong anaknya itu tiba-tiba maju lalu bicara dalam Bahasa Perancis. Aku tidak tahu apa artinya. Tapi dia ngomong sambil menodongkan tangan ke setiap penumpang. Dia berpindah dari satu gerbong ke gerbong lain ketika metro berhenti di satu stasiun.

Selain pengemis, aku juga melihat tak sedikit gelandangan di kota ini. Di depan kantor Pengadilan Arbitrase Internasional, misalnya seorang gelandangan sedang terlelap di antara ribuan turis yang lalu lalang pagi itu. Dia tidur di anak tangga masuk gedung megah ini. Persis di atasnya ada tiga tulisan sakti Revolusi Perancis: Liberte, Egalite, Fraternite.

Dua gelandangan lain aku temukan di kawasan Opera ketika kami beranjak pulang saat hari sudah petang. Mereka dengan pakaian kumalnya sedang duduk di trotoar di antara gemerlap lampu kota. Satu orang berambut mohawk dan berpenampilan mirip anak punk. Satunya lagi terlihat sudah agak tua. Di sekitar mereka, orang-orang berhahahihi menikmati rintik hujan petang sambil minum bir.

Pengemis dan gelandangan adalah ironi Kota Paris, satu dari empat kota pusat mode di dunia selain Milan, London, dan New York. Pengemis dan gelandangan itu berserak di antara butik-butik mewah seperti Louis Vuitton, Channel, dan Yves Saint Laurent.

12 Comments
  • tri umi sumartyarini
    May 16, 2010

    ha ha ha. tak pikir neng Indonesia thok. ternyata eh ternyata… thanks for sharing…

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    May 16, 2010

    Tumben bisa Komen Pertama… diamankan dulu. :p

    ReplyReply

    [Reply]

    PanDe Baik Reply:

    @PanDe Baik: aaaarrrgg… bukan yang pertama rupanyaaa…

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    May 16, 2010

    Bisa jadi Pengemis di lingkungan Real Estate Beverly Hill jauh beda lagi ya Ton ? Mungkin mereka menganut paham bangsa kita “dimana bumi dipijak… disitu langit di…” apa ya ?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tumik
    May 16, 2010

    bangganya jadi pengemis di Paris. Hagk..

    ReplyReply

    [Reply]

  • antyo rentjoko
    May 16, 2010

    Yah ada di mana-mana memang. Jadi ya bergantung mood kita dan kantong kita. Plus: kesiapan untuk tertipu.

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    May 16, 2010

    sisi lain dr Paris

    ReplyReply

    [Reply]

  • ahmadi
    May 17, 2010

    pengemis seperti pelacur, selalu ada di tempat keramaian ya….

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    May 17, 2010

    ternyata ndak jauh beda dengan kota-kota besar di Indonesia, hehe

    ReplyReply

    [Reply]

  • Cahya
    May 17, 2010

    Sepertinya di mana-mana ada ya Mas Anton, berarti memang dunia belum sejahtera…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Andi Eko
    May 26, 2010

    The other side of Paris .. menarik mas 🙂
    Gembel disana penghasilannya mungkin melebihi dari para pejabat di Indonesia kali ya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • FPS
    June 7, 2010

    membuktikan kalau orang miskin ada dimana-mana…bersyukurlah kita diberikan yg lebih ..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *