Inilah Zaman Tuyul Pakai Wifi

20 , , Permalink 0
Desas-desus itu terbukti juga. Aku dan Bunda membuktikannya Sabtu pekan lalu. Kami melihat dengan mata kepala sendiri. Bungkusan kecil, seukuran jempol kaki, berwarna oranye di bawah meja itu membuatku yakin akan ketidakjelasan zaman kaliyuga ini. Hehe..

Sekitar dua bulan sebelumnya, dari Bunda aku mendengar cerita Ike dan Saylow. Ada satu cafe di daerah Renon yang pakai jampi-jampi atau semacamnya. Intinya pakai kekuatan supranatural untuk menarik pengunjung. Jampi-jampi itu berupa bungkusan kecil yang ditaruh di bawah meja. Lucunya, cafe itu juga menyediakan free wifi.

Sabtu pekan lalu, aku main ke cafe itu untuk ngobrol dengan beberapa teman. Maka, aku niatkan sejak awal untuk membuktikan desas-desus itu. Aku cari banyak alasan untuk lihat benda itu di bawah meja. Menjatuhkan kunci, membersihkan tusuk gigi yang dijatuhkan Bani, sampai nungging tidak jelas. Tapi ternyata susah juga untuk langsung bisa melihat benda itu. Soale tidak enak juga sama pelayan yang melotot terus ke arah kami.

Begitu pelayan itu ke belakang untuk melayani pengunjung lain, aku segera membuka taplak meja itu untuk melihat benda di bawah meja. Dan, aaah, aku melihat benda itu! Benda kecil terbungkus kain oranye itu. Aku langsung ketawa sama Bunda setelah melihatnya.

Ya tentu saja lucu bagiku. Di satu sisi cafe itu membuktikan keterbukaannya pada teknologi dengan menyediakan layanan wifi gratis. Pengunjung cafe itu bisa menikmati layanan internet gratis selama membawa laptop dengan fasilitas wifi. Sambil menyeruput kopi dan bawa laptop sendiri, pengunjung bisa berselancar di dunia maya tanpa kabel.

Wifi, di mana orang bisa berhubungan satu sama lain tanpa tersambung kabel, adalah salah satu kecanggihan abad ini. Kalau sebelumnya orang perlu pakai kabel untuk bisa berhubungan, maka sekarang cukup dengan wifi kita bisa terhubung satu sama lain. Maka, telepon rumah misalnya tergantikan oleh telepon seluler. Telepon rumah yang masih pakai kabel mewakili kejadulan. Ponsel alias HP mewakli zaman kekinian.

Tapi rupanya zaman ini memang serba absurd. Meski ada wifinya, cafe itu rupanya masih mengandalkan kekuatan supranatural. Makanya dia juga memasang jimat. Bertemulah jimat dengan wifi. Kombinasi yang unik bin aneh. Hehe..

Jimat di cafe berwifi itu bagiku memang aneh. Sebab dia mewakili cara berpikir irasional bagaimana agar cafe bisa banyak pengunjung. Ini trip dan trik mudah agar kaya tapi tentu saja tidak masuk akal.

Tapi hal serupa juga terjadi di skala lebih luas tempat. Beberapa minggu ini aku melihat iklan di TV tentang seorang tukang primbon. Tukang primbon itu bilang ke seorang yang ditemuinya. β€œKalau mau memperbaiki nasib, ketiklah Primbon dan kirim ke 9877,” atau semacamnya.

Ini hal yang kontradiktif satu sama lain. Di satu sisi kita menggunakan teknologi, tapi di sisi lain pengguna teknologi juga menganjurkan kita untuk percaya pada hal-hal irasional. Bila ditelan mentah-mentah, arti iklan itu, cukuplah Anda pilih kerjaan sesuai dengan hari lahir Anda, maka Anda akan sukses. Soal kerja keras, itu belakangan.

Primbon, semacam perhitungan tanggal kelahiran dalam tradisi Jawa (juga Bali), menurut tukang ramal bisa menentukan baik buruknya nasib seseorang. Pemilihan pekerjaan harus disesuaikan dengan primbon pekerja itu. Maka, di iklan yang berbeda, si tukang primbon itu juga menyarankan agar si A misalnya harus bekerja sebagai pedagang bukan di air karena primbonnya X.

Bagiku inilah takhayul modern. Zaman di mana di satu sisi kita hidup bergantung pada teknologi, yang dilahirkan oleh akal, namun di sisi lain kita justru menganjurkan orang untuk pasrah pada hal-hal irasional.

Ibarat tuyul pakai wifi. Kita pelihara tuyul agar kaya dengan mudah, bukan dengan bekerja sendiri, lalu tuyulnya pakai wifi. Kok ya aneh. Kenapa tidak kita saja yang pakai wifi untuk bekerja, tanpa melibatkan tuyul di dalamnya..

20 Comments
  • bowo
    August 28, 2008

    saya pernah denger anggapan “antara niskala dan sekala(bener ya?) harus seimbang” , yah mungkin dimaksudkan untuk menyeimbangkan kedua alam itu hehe… percaya gak percaya om wekekekek

    ReplyReply

    [Reply]

  • anton
    August 28, 2008

    tar saya bikin cafe yang isi JIN ah…..hehe
    πŸ˜‰

    ReplyReply

    [Reply]

  • HeLL-dA
    August 28, 2008

    Itulah manusia, Om…
    Dia butuh kekuatan adimanusiawi

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tumik
    August 28, 2008

    Barusan aku cek primbon, pesan yang aku dapet: “Jika ingin duit berlimpah, berusahalah no comment dengan semua tulisan yang anda baca hari ini” So?…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Artana
    August 28, 2008

    Nunggu ada tuyul nyari duit lewat adsense, nggak nyuri lagi…pensiun!

    ReplyReply

    [Reply]

  • kaka kiyudh
    August 29, 2008

    Yak ampun! *ngakak* aku ko malah tawa tawa sendiri yo mas yo….ngebayangin dirimu nungging nungging demi menangkap basah bungkusan lucu berwarna orange itu…gak sempet mbok foto ta…?!?! hihihi wuah seru pisan ituh kalu ada skrinsyut na…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Hendra W Saputro
    August 29, 2008

    Rupanya teknologi masih belum buat manusia yakin akan kemampuannya. Padahal cafe itu sudah mempunyai keunggulan untuk dibanggakan. Saya menilai, pemilik cafe tsb hanya punya uang tapi tidak punya teknologi publikasi (marketing). Agar yakin lagi, pakelah hal yang Maha Besar. Itupun klo pemilik cafe percaya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    August 29, 2008

    @ bowo: ya, om. katanya sih harus begitu. tp kalau dilihat dari sudut pandang akal sehat sih agak aneh aja yg begitu. apalagi kalau kita yg jd korban “jimat” πŸ™‚

    @ anton: ah, kok aneh ya manggil nama sendiri. πŸ™‚ aku ikut aja dah. πŸ˜€

    @ tumik: ah, pantes nasibmu elek terus. ga pernah nurut primbon.

    ReplyReply

    [Reply]

  • pandebaik
    August 29, 2008

    knapa tak dibuka sekalian aja Om. kali aja ada jampi-jampi biar bisa ber-wifi gratis dirumah. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • ayip
    August 30, 2008

    Wah, jangan cepat berasumsi dulu harusnya. Kalo warna bungkusannya orange coba cek ke mas Hendra W. Saputro. Barangkali itu bossnya…. (invisible mode)

    ReplyReply

    [Reply]

  • saylow
    August 30, 2008

    @ AYip : buauahuahaua…

    There is no reason to make me back to those cafe! Spooky! Oh ya cerita dikit lebih detail tentang kejadian gmn caranya kita (aku, prima dan ikha) tahu disana ada “sikepan”. Setelah rehat buat makan pesenan kita setelah discuss sama Prima ditengah-tengah kesibukan kita makan tiba-tiba botol garam diatas meja berjalan sendiri.

    Kita saling lihat dengan expresi menuduh hahaha… terus ketika kita nggak perhatikan lagi botol itu jalan lagi. Karena curiga aku melihat kebawah meja, mungkin ini digerakkan magnet (padahal bahannya plastik) begitu lihat ke bawah meja… AHA!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Didi
    August 30, 2008

    Penasaran.
    Japri dong ke imelku nama tempatnya…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Adiz Wardana
    September 1, 2008

    hehehehehehehehehe…….
    mlh d sekitaran denpasar ada RM mskan padang yang katanya melihara kuntilchildren……
    emang jaman udah semakin aneh……

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    September 2, 2008

    @ hell-da: tapi jangan kemudian pasrah pada adimanusiawi. sekali2 kita perlu membunuh adimanusiawi itu. agar kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas kegagalan kita.

    @ artana: hahaha, kalo gitu ayo bikin pelatian adsense utk tuyul. πŸ˜€

    @ kaka kiyudh: ah, dasar. kamu sih memang tega kalo liat aku jelek2 gitu. huh!

    @ hendra saputra: betul, mas. masak sudah pake wifi, msh pake jampi2 jg. πŸ™‚

    @ pandebaik: maunya sih aku ambil. tp takut aku yg disalahin kalo cafenya bangkrut. πŸ™‚

    @ ayip: hahaha, kayaknya sih gitu. soale warnanya sangat identik dg hendro.

    @ saylow: haha, kali tampangmu memang membuat jimat itu lbh ampuh. makanya gelas smp bisa bergoyang sendiri.

    @ didi: siap..

    @ adiz wardana: kuntilchildren? wahaha, boleh jg tuh masuk sinetron.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    September 2, 2008

    hwhuahuhauahua…

    lama ga pernah main kesini, mantap bin lucu banget postingannya, jadi inget sebuah film indonesia dimana ada seorang dukun menggunakan internet untuk mencari informasi orang hilang… zaman memang semakin aneh..

    ReplyReply

    [Reply]

  • mohammad
    September 7, 2008

    hahahaha….. keren tuh cafe kombinasi ok tuh

    ReplyReply

    [Reply]

  • andi
    November 10, 2008

    Kalau saya pingin sih kaya tapi gak pelihara tuyul,takut ntar matinya ditolak ama bumi.Ihh………takut deh

    ReplyReply

    [Reply]

  • andi
    November 10, 2008

    ada cara baru biar tempat kerja kita ramai dikunjungi orang tanpa harus pelihara yang gaib2 gitu.Bakar aja bangunannya pasti ramai orang datang he….he…..he…..he

    ReplyReply

    [Reply]

  • agus
    May 13, 2009

    halo…..rekan2
    bisa bantu saya?? sampai saat ini saya masih binggung dengan yang di namakan waifi, terutama tentang cara settingnya… tolong dong kalo ada yang tau???

    ReplyReply

    [Reply]

  • yuna
    May 22, 2009

    serius??
    dimana sih??
    pengen tau..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *