Hangatnya Salam, Pahitnya Sirih

5 , , , , Permalink 0

Makan Sirih di TTU

Setelah menempuh perjalanan naik turun dan berkelok-kelok dengan sepeda motor sekitar satu jam dari Kefamenanu, kami mulai masuk kawasan hutan. Agus, teman dari Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) yang menyetir sepeda motor itu bercerita sedikit horor. “Hutan ini ada yang menunggu. Kita harus sopan kalau lewat sini. Kalau tidak, kita akan dapat masalah,” kurang lebih begitu katanya.

Agus melanjutkan cerita. Mantan Petugas Lapangan di Desa Tuntun, Kecamatan Mimaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) itu pernah pulang malam, sekitar pukul 8. Di tengah hutan, motornya tiba-tiba mati tanpa dia tahu apa sebabnya. Maka, dia menghaturkan rokok dan bilang permisi pada penunggu hutan lebat itu. Ajaib. Motornya hidup kembali.

Aku tidak terlalu percaya dengan urusan beginian. Cuma jadi sadar bahwa hutan lebat di mana kami lewat di jalan setapak berupa tanah itu memang angker bagi warga setempat. Menyeramkan.

Toh, angkernya hutan itu segera hilang ketika kami masuk desa-desa setelahnya. Sepanjang perjalanan, kami selalu mendapat salam dari orang yang kami temui. “Selamat, Pak..,” begitu salam yang kami terima. Mereka yang memberi salam selalu tersenyum. Kadang dengan mengangkat tangan atau menganggukkan kepala.

Inilah sapaan khas warga Timor Barat,  setidaknya di tempat-tempat yang aku temui. Meski orang itu tidak kenal kami sama sekali, ucapan ramah itu selalu datang dari mereka. Kami menjawab singkat pula, “Selamat..”

Ucapan khas ini, kata Agus, memang kebiasaan warga setempat. Jadi mereka akan selalu mengucapkan hal yang sama ketika bertemu dengan sesama di antara mereka. Dan, benar. Ketika di jalan kami bertemu dengan anak-anak SD yang pulang sekolah dengan pakaian lusuh tanpa sepatu, semua anak-anak itu saling berteriak, “Selamat, Pak..” pada kami.

Hangatnya ucapan selamat ini hanya salah satu cara menyambut tamu ala masyarakat setempat. Cara lain untuk menerima tamu adalah dengan ritual Kabi Maloet. Ritual ini lebuh formal dibanding ucapan salam tadi itu. Namun dia lebih santai dibanding upacara terima tamu ala masyarakat Flores.

Kalau di Flores kami harus menerima ayam dan selendang, minum moke, lalu harus bayar, maka di Timor Barat kami harus menerima kenyataan pahit, makan sirih!

Ritual terima tamu ini harus dilakukan sebelum si tamu menyampaikan maksud kedatangannya. Begitu pula aku. Ketika akhirnya sampai di kantor Desa Tuntun, sekitar satu jam dari kota Kefamenanu, aku dan Agus duduk dulu di kursi plastik di halaman kantor desa. Petani dari desa setempat dan sekitarnya yang sudah menunggu ikut duduk di sana.

Salah satu tetua kemudian membawa kotak dari anyaman daun kelapa berisi tiga bahan: sirih (manus), daun pinang (puah), dan kapur. Aku diminta untuk makan tiga bahan tersebut. Biar adil, aku suruh saja si Agus untuk makan duluan. Jadi kalau toh bahan itu beracun dan bisa membunuh kami, seperti halnya arsenin yang diminum Munir, maka setidaknya dia yang mati duluan. Wahaha…

Tapi karena Agus ini sudah biasa dengan ritual tersebut, dia santai saja: mengambil sirih dan minang lalu menggigitnya. Wajahnya datar saja. Lalu dia menambah bubuk kapur ke lidahnya. Dia terlihat sangat menikmati menu tersebut.

Lalu giliranku. Aku tak bisa lari lagi. Aku ambil sedikit pinang berwarna coklat dan buah sirih berwarna hijau itu. Sedikiiiit banget. Dengan agak ragu, aku gigit bersama. Whaaaaaa. Rasanya sepet dan pahit banget!!

Aku masih menahan rasa pahit itu karena ada satu bahan yang belum aku makan, bubuk kapur. Bagian ini dioles denga ujung lidah untuk kemudian dicecapkan di lidah. Rasanya tak kalah anehnya dengan dua bahan yang lain.

Setelah aku cecapkan kapur, aku kemudian baru tahu. Kapur itu dibuat dari bebatuan di sungai. Batu itu kemudian dibakar dengan kotoran sapi sampai jadi bubuk halus tersebut. Byuh! Lengkaplah sudah. Setelah pahit pinang dan sepetnya sirih, sekarang bertambah dengan batu kapur dibakar dengan kotoran sapi. Nasib..

Aku segera mengeluarkan kembali semua yang kugigit. Dengan muka malu dan berdosa, aku mohon maaf untuk segera meludahkan kembali semua yang ada di lidahku. Dasar tega, bapak-bapak dan ibu-ibu di sana malah ketawa.

“Berarti Bapak sudah menjadi bagian dari keluarga besar kami,” kata Baselius Loki, salah satu petani di sana.

Makan sirih dan pinang itu sendiri bukan hanya untuk menyambut tamu di Timor Barat. Warga setempat pun biasa memakannya sehari-hari. Mungkin mirip merokok bagi sebagian orang atau camilan bagi orang lain. Lalu, mereka dengan cueknya meludah untuk membuang sisa sirih dan pinang tersebut. Agak jorok bagiku.

Tapi ya itulah budaya. Jorok bagi kita, mungkin mulia bagi mereka. 🙂

5 Comments
  • imadewira
    December 21, 2009

    bukannya di Bali jaman dulu juga begitu, angkatan nenek saya masih mengubah sirih dan temen2nya itu, hehehe

    ReplyReply

    [Reply]

  • nyoman
    December 21, 2009

    iya, bahkan aku masih punya tempat sirih pinang ( “Pabuan”) +” penyawisan” ( Alat untuk menghancurkan sirih pinang bagi mereka yg sdh tiada punya gigi.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Blog Dokter
    December 22, 2009

    Untung di Atambua kebiasaan ini sudah mulai agak memudar sehingga saya tidak harus makan sirih dan minum sofi ketika harus bertamu. Tapi rata rata di pulau Timor ini penduduknya masih sangat primitip mirip Bali era 80an.

    ReplyReply

    [Reply]

  • maullah
    December 24, 2009

    Saat masih kanak2 dulu.banyak tetangga sekitar yang masih nginang (ìstilah makan sirih). Aku pernah mencobanya. Rasanya sensasional!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Alvin
    January 3, 2010

    boz tempat sirih apaan ya namanya?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *