Hal yang Berbeda di Bajawa

27 , Permalink 0

Kuburan Bajawa

Perjalananku ke Bajawa, Ngada, Flores kali ini adalah yang kedua kali. Kunjungan pertama aku lakukan Januari tahun lalu. Waktu itu aku ke sana untuk membuat tulisan tentang para petani di kawasan Cagar Alam Watuata. Petani kopi yang juga warga adat di sana diusir oleh pemerintah atas nama konservasi. Demi menjaga hutan, warga adat itu diusir dari tanahnya sendiri.

Kunjunganku kali ini pun masih terkait dengan hal itu. Lapmas, LSM yang mengadvokasi para petani itu akan menyusun buku tentang hal tersebut bersama berbagai pihak yang terlibat termasuk pemerintah dan petani sendiri. Aku memfasilitasi mereka menyusun kerangka buku tersebut.

Karena itu, kali ini aku punya lebih banyak waktu menikmati Bajawa. Kalau dulu kan seperti hanya mampir setelah menempuh perjalanan panjang dari Labuan Bajo di ujung barat lewat Ruteng di barat Bajawa. Dulu perjalanan dari barat ke timur, maka kali ini sebaliknya. Aku dari Ende di bagian selatan Flores lalu menuju Bajawa.

Dengan waktu yang lebih panjang, aku jadi lebih punya kesempatan untuk mengenal Bajawa. Inilah beberapa hal berbeda di Bajawa yang bagiku menarik tersebut.

Kuburan Dekat Rumah
Salah satu kebiasaan orang Bajawa, juga orang Flores secara umum, adalah mengubur orang di dekat rumah. Jadi tidak seperti orang Hindu Bali yang membakar orang meninggal atau orang Islam yang mengubur jenazah di kuburan, orang Bajawa justru mengubur jenazah itu dekat rumah. Sebagian besar kuburan itu di depan rumah.

Awalnya aku agak ragu melihat satu dua kuburan di depan rumah warga itu. Tapi tanda salib di ujung kuburan dengan tulisan RIP, singkatan dari rest in peace, itu meyakinkanku bahwa itu memang kuburan. Bentuk kuburan ini beragam. Tapi sebagian besar sudah ditembok rapi dengan keramik atau marmer sebagai pelapis. Terlihat mewah.

Menurut warga setempat, penguburan di dekat rumah dilakukan agar orang yang meninggal tersebut tetap dengan dekat dengan keluarga. Juga kalau mendoakan tidak perlu jauh-jauh. Karena itu aku lihat misalnya ada orang yang sedang berdoa khusyu’ dengan lilin dan bunga di depan rumahnya. Mereka tidak perlu jauh-jauh ke kuburan umum yang berada di daerah pinggiran biasanya.

Karena kuburan itu berada di dekat rumah, maka kuburan pun menjadi sesuatu yang akrab. Tidak menakutkan. Ini beda misalnya dengan di Jawa, atau mungkin juga Bali, di mana kuburan jadi sesuatu yang menyeramkan. Di Bajawa, anak-anak biasa saja main di kuburan itu.

Pakai Sarung Kapan Pun
Suhu di kota Bajawa ini bisa sampe di bawah 10 derajat celcius. Hotel Edelweis, tempatku menginap, memasang termometer di dinding hotel. Jadi aku bisa selalu mengecek berapa derajat suhu saat itu. Karena tempatnya dingin, banyak orang pakai sarung di Bajawa. Aku menemukan orang pakai sarung itu di berbagai tempat umum: di jalan, pasar, rumah.

Sebagian besar yang aku temui sih ibu-ibu. Mereka memakai sarung itu sampai menutup seluruh tubuh, kecuali kepala. Bahkan ada pula yang pakai sweater dengan kupluk penutup kepala. Jadi mereka terlihat mirip ulat tapi jalannya berdiri, bukan merayap. Hehe..

Sarung yang dipakai itu kainnya tebal. Ini memang sarung khas Flores yang dibuat dengan tangan, bukan pabrik. Makanya harga sarung ini juga agak mahal, sekitar Rp 200 ribu. Sarung ini bisa juga jadi souvenir. Tiap hari ada saja penjual sarung yang menawarkan jualannya ke aku. Karena harganya mahal, aku beli selendang saja. Murah, cuma Rp 25 ribu. Lumayan juga jadi syal pengusir dingin.

Buka Pintu Kalau Ada Tamu
Di Bajawa, jadi hal yang tabu kalau kita menutup pintu ketika ada tamu apalagi tamu dan pemilik rumah adalah lawan jenis. Kata Hengki, teman yang mengantarku, itu akan jadi bahan omongan tetangga.

Aku tahu hal ini pada malam terakhir di Bajawa. Ketika itu aku berkunjung ke rumah tempat mahasiswa magang dari Belgia tinggal. Tiga mahasiswa cantik ini magang di tempat kerjaku. Tugasnya antara lain di Flores. Nah malam itu aku mau pamitan mereka sekalian ngobrol.

Karena hanya ada satu motor sementara kami yang berkunjung ada tiga orang, maka motor pun bolak-balik. Aku dapat duluan. Karena hanya ada aku dan tiga cewek, maka pintu rumah tidak boleh ditutup. Padahal para cewek itu ngotot mau menutup pintu. Aku mau dikeroyok mereka bertiga. Hehe.. Bukan. Mereka mau menutup pintu karena takut banyak nyamuk yang masuk rumah.

Tapi ya pas mau menutup pintu, Hengki temanku yang memang asli Bajawa langsung bilang, “No. No.. It’s not allowed to close the door while some body visit you, especially boy visit girl.”

Para cewek cantik itu tidak bisa menolak lagi. Mau tak mau mereka harus ikut budaya setempat. Kalau tidak, bisa-bisa malah diseret hansip. Hehe..

27 Comments
  • wira
    April 27, 2009

    lain padang lain belalang, gitu ya sir?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Jackson
    April 29, 2009

    Penulis yang terhormat, mohon informasi transportasi menuju kota bajawa. Adakah bandara kesana, atau bandara terdekat menuju kota tersebut. thx

    ReplyReply

    [Reply]

    Andre Mawo Gili Reply:

    Di Bajawa ada Bandara Namanya Bandara Turelelo Soa Yang bisa ditempuh dengan waktu 30 menit kekota bajawa.

    ReplyReply

    [Reply]

    Stephanie Reply:

    Ada penerbangan Jakarta – Bajawa, itu tergantung harinya apa, yang terpenting dari Jakarta kita terbang dengan Mandala transirt di kupang 30 menit trus dg Transnusa terbang ke Bajawa 30 menit ampe ke bandara Turelelo. dari bandara ke kota Bajawa 5 menit dengan kendaraan roda empat…….

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    Berikut beberapa alternatif transportasi ke Bajawa dari Bali. Saya tidak tahu kalau dari daerah lain.

    1. Bali – Ende ada penerbangan tiga kali tiap minggu. Ini pakai pesawat Merpati kecil. Tiket sekitar Rp 1,1 juta dengan lama terbang sekitar 2 jam. Dari Ende bisa pakai travel yang ada di bandara ke Bajawa. Pakai mobil bagus dan baru dengan harga sekitar Rp 75 ribu per orang, maksimal Rp 100 ribu. Lama perjalanan maksimal 4 jam. Satu mobil biasanya ada sekitar empat penumpang lain. Kalau carter sendiri bayar Rp 400 ribu.

    2. Bali – Kupang lalu dari Kupang – Soa (masuk Bajawa). Saya sendiri belum pernah. Tapi menurut info harganya sekitar 2x lipat.

    3. Bali – Kupang – Ende pakai pesawat dengan harga Rp 1,2 juta. Lalu dari Ende ke Bajawa dengan tarif yang sudah saya sebut di atas. Kemarin sih saya baliknya yang begitu. Dari Bajawa pukul 6 pagi. Pesawat dari Ende pukul 12an tujuan Kupang. Dari Kupang baru naik pesawat ke Bali pukul 3an sore dengan lama penerbangan sekitar 1,5 jam.

    ReplyReply

    [Reply]

  • yuna
    May 8, 2009

    enak ya bang anton, jalan2, bisa mengenal kebudayaan yang beragam di Indonesia..

    salutttt
    *kaya merk coklat yak?!

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    dinikmati saja, yun. sambil menyelam minum bir. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • kris
    May 12, 2009

    Bajawa, kota kelahiranku. oba bha’i.
    i love u 4ever.

    ReplyReply

    [Reply]

  • avend
    June 17, 2009

    bajawa kotaku oba bha’i kota sejuk.

    ReplyReply

    [Reply]

  • djoanne
    June 17, 2009

    waahhh…
    jadi pengen cepat- cepat pulang ke bajawa..
    hiks…hiks..^_^

    ReplyReply

    [Reply]

  • Now3
    June 23, 2009

    kenaganku ada di koding bajawa…
    kota kelahirannku,tempat pembentukan pribadiku menjadi seorang yang kuat menjalani hidup.
    sejauh & selama apapun aku melangkah suatu saat aku pasti kembali….i promise!!!!!
    apapun yg aku lakukan semuanya berasal dari bajawaku yg paling indah…
    keluarga,teman,upacara adat,suasana kotanya,bukit2 hijau di sekeliling kota,hawanya yg dingin sulit dilupakan….
    I Mizzzz U Bajawaku

    ReplyReply

    [Reply]

  • freeds
    June 26, 2009

    bajawa is the best la

    ReplyReply

    [Reply]

  • arya sadhewa
    July 24, 2009

    hi, salam kenal
    saya minta izin untuk mengkopi paste tulisan anda mengenai bajawa di multiply dan fb saya….., thx

    ReplyReply

    [Reply]

    agust Reply:

    Banyak hal mengenai bajawa,juga foto2nya dapat dilihat di yotube…bahkan bahasa bajawa juga ada di situ..guruku pernah bilang bahasa bajawa itu bahasa cawat….tapi mendunia

    ReplyReply

    [Reply]

  • agust
    July 30, 2009

    Sekedar tambahan ..Kalau ke bajawa jangan lupa hiking ke wolo pipipodo..Dari puncak bukit pipipodo,anda dapat menyaksikan pemandangan yg spektakuler.Pemandangan dapat terlihat sampai ke batas kaki langit arah ke nagekeo dan aimere,dengan latar ebulobo juga inerie yang megah. ya..Anda bisa juga mendengar bunyi ketukan mangkok tukang bakso yang lewat di tanalodu…tidak percaya?..silakan coba.

    ReplyReply

    [Reply]

    yb Reply:

    percaya leeee 100 persen. saat sma saya biasa cari kayu di pipipodo karena rumahku tepat di tanalodu.

    ReplyReply

    [Reply]

    agust Reply:

    aha..mungkin Anda sangat bersemangat cari kayu di sana,sekarang tinggal wonga bhara dan bunga bai..sedang loria,kayu kelas satu untuk kayu api,kini jarang dijumpai lagi untuk tidak dikatakan punah.
    Mungkin kita perlu galang lagi “hari hijo”di bajawa agar bukit2 yg mengelilingi koding bajawa bisa kembali hijau dgn loria,lamutoro,kayu putih atau cemara..bagaimana?

    ReplyReply

    [Reply]

  • capoenk aja
    November 27, 2009

    hmmm…..ga selalu gt kok…boleh aja nutup pintu…liat2 sikonnya aja….;)

    ReplyReply

    [Reply]

  • WINDA
    December 2, 2009

    I REALLY MIZZ U BAJAWA…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ngalisabu
    December 6, 2009

    Perasaan di bajawa hansipnya nongol kalu lagi ada pemilu

    ReplyReply

    [Reply]

  • Inana
    April 14, 2010

    thank you infonya…bagi cerita jadi kaya pengalaman

    ReplyReply

    [Reply]

  • Lin Gadi
    April 21, 2010

    Bajawa….ti ada obat….
    dinginnya selalu sejuk dihati….
    hahahaha

    ReplyReply

    [Reply]

  • indri
    June 8, 2010

    wah jd pengen ke tmp kelahiranku niiy, cm numpang lahir di Bajawa,hehe..
    someday mdh2an bs kesana lg bs tau sendiri Bajawa kyk gimana:)

    ReplyReply

    [Reply]

  • ITHA
    June 22, 2010

    BAJAwa makin keyen aja tuch.I LUPH U BAJAW A.Semoga bupati yang baru ini bisa bikin bajawa makin maju terutama dalam dunia pendidikan damn techno.

    ReplyReply

    [Reply]

  • ITHA
    June 22, 2010

    Ke bajawa jangan LUpa yah Aer panas MEngeruda.KEren LHo

    ReplyReply

    [Reply]

  • Albertus
    July 7, 2010

    Ijin nih tulisannya aku share di FB

    ReplyReply

    [Reply]

  • alberto djono moi
    July 31, 2010

    Bajawa tuh indah dan segar. I remember Bajawa. Walaupun aku telah melalang buana ke berbagai benua, tetapi aku tetap tak akan lupa mengenai Bajawa. Dalam buku-buku yang telah aku tulis, aku selalu sebut “engkau… Bajawa….: indah, sejuk, tenang dan menyenangkan. Aku teringat selalu gonggongan anjing di waktu malam dan kotekan ayam menjelang pagi. Bajawa…bajawaku semoga setiap waktu engkau terus maju berkembang: bukan saja penataan kotanya, tetapi juga penataan rumah adatnya, penataan sumber daya manusianya dan sebagainya!!!! Salam sejahtera… bagimu bajawa…: engkau telah membentuk aku untuk menjadi penulis sehingga aku bisa berkiprah di zona nasional!!!!

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *