Hajatan Partai yang Bikin Kemacetan

1 , Permalink 0

PDIP

Tiap kali ada acara partai berskala besar di Bali, saat itu pula banyak keluhan warga.

Begitu pula ketika ada Kongres PDIP di Bali kali ini. Kongres IV itu diadakan di Hotel Bali Beach Sanur.

Seperti juga acara partai lain, kongres kali ini pun mengakibatkan kemacetan. Sejak dua hari lalu, kemacetan panjang panjang terjadi di sekitar perempatan Jalan Hang Tuah – Jalan By Pass Ngurah Rai, Sanur.

Saya termasuk salah satu korbannya. Ketika akan pulang setelah bekerja di daerah Sanur, saya harus terjebak kemacetan selama sekitar 20 menit. Ada iring-iringan pejabat lewat, termasuk mobil berpelat khusus B 1 MSP.

Saya tak sendiri. Malamnya, banyak lagi teman mengeluhkan kemacetan di sekitar sana. Hal serupa selalu terjadi ketika ada acara partai tingkat nasional di Bali. Macet terutama di jalan-jalan sekitar lokasi kongres.

Lokasi favorit kongres, musyawarah nasional, dan semacamnya ini biasanya di Nusa Dua atau Sanur. Di daerah-daerah itulah kemacetan panjang biasa terjadi juga.

Selain kemacetan, dampak lain adalah sampah visual.

Saat Musyawarah Nasional (Munas) PAN di Bali Maret lalu, sampah visual itu menyerbu berbagai ruang publik di Denpasar dan sekitarnya. Jalan-jalan besar, seperti By Pass Ngurah Rai dan Jalan Gatot Subroto dipenuhi bendera dan spanduk PAN.

Setahun terakhir ada tren baru, bendera-bendera itu juga menyerbu hingga kawasan hutan bakau di Teluk Benoa. Pelakunya hampir semua partai: PDIP, PAN, Golkar, Demokrat, bahkan PKS.

Pemasangan bendera di kawasan Teluk Benoa itu bermula sejak Pemilu tahun lalu. Eh, ternyata keterusan sampai sekarang. Terutama saat partai-partai itu punya hajat besar di Bali.

Repotnya, hajatan partai itu nyaris tiap tahun ada di Bali. Makanya tiap tahun pula kemacetan dan sampah visual itu menyerbu Bali.

Biar tak sinis melulu, maka, baiklah. Hajatan partai bisa jadi mendatangkan manfaat juga untuk Bali. Misalnya, hotel-hotel jadi penuh — meskipun saya tak yakin mereka mau menginap di hotel murah milik warga lokal.

Namun, akibat buruk semacam kemacetan dan sampah visual juga tak bisa diabaikan. Jadi, kalau bikin hajatan di Bali, mbok ya tak usah merepotkan orang dengan kemacetan. Terus jangan tidak usah juga mengotori Bali dengan aneka bendera yang merusak pemandangan.

Terakhir, jangan lupa bersihkan kembali atribut-atribut partai yang tak keren itu dari ruang publik. Biar wajah Bali kembalii bersih dan cantik.

1 Comment
  • Made Wirautama
    April 22, 2015

    Kalau soal macet ya mungkin merupakan konsekuensi dari adanya event yang cukup besar, tinggal bagaimana antisipasi dari pihak terkait semacam kepolisian.

    Yang membuat saya risih adalah sampah visual itu, khususnya bendera2 parpol yang dipasang di teluk benoa. Pertama, apakah tidak aturan tentang pemasangan atribut di tengah laut seperti itu. Kedua, setelah sekian hari bahkan lebih dari seminggu ternyata atribut parpol itu belum dibersihkan juga. Walaupun mungkin jumlah yang tersisa bisa dihitung jari, tapi tetap saja itu mengganggu pemandangan.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *