Google, Antara Privasi dan Partisipasi

9 , , , Permalink 0

Raksasa internet ini menawarkan keduanya, privasi dan partisipasi.

Dua hal itu yang aku pelajari selama sekitar tiga jam diskusi bersama tim Google di kantor mereka di Singapura Kamis lalu. Dua staf Google, Robin Moroney dan Mike Orgill, bercerita tentang bagaimana Google memberikan keduanya pada pengguna internet.

Selain aku, dua teman yang ikut diskusi tersebut adalah Nopy dari Surabaya dan Kang Onno W Purbo, pendamping dari Internet Sehat. Diskusi dengan tim Google itu merupakan hadiah untuk Juara I dalam kompetisi video kebebasan berekspresi Internet Sehat.

Setelah selama sekitar 30 menit keliling bersama 12-an blogger dari Indonesia melihat suasana kantor Google di lantai 29 dan 30 Asia Square Tower, kami bertiga kemudian diberi waktu khusus untuk diskusi. Sekitar 15 menit di kantin sebelum kemudian pindah di ruang rapat.

Robin Moroney, Humas Google, memperkenalkan Google+, produk jejaring sosial mereka. Tak banyak hal baru sih. Beberapa aplikasi dalam produk ini sudah aku ketahui dan gunakan. Misalnya, kemudahan membagi “teman” di dunia maya berdasarkan lingkaran.

Dengan cara membagi “teman” dalam lingkaran, maka kita bisa memilah dan memilih apa saja yang ingin kita bagi dan dengan siapa kita ingin membaginya. Setahuku yang agak gagap teknologi ini, kemampuan Google+ ini berbeda dengan Twitter atau Facebook. Kalau di dua jejaring sosial tersebut, Facebook misalnya, setiap update dari teman kita di Facebook akan nongol di layar kita meski kadang agak mengganggu.

Di Twitter pun begitu. Katakanlah kita ingin twit kita hanya diketahui orang tertentu, maka kita tak bisa mengaturnya. Beda dengan Google+ yang memungkinkan kita membagi status hanya pada satu orang amat spesifik sekalipun. Tak hanya status tapi juga hal-hal lain, misal foto dan video, yang kita anggap hanya orang tertentu yang boleh tahu.

“Ya. Ini memang privacy by design,” sahut Mike Orgill,  Country Lead, Public Policy, dan Government Affairs Google di Asia Tenggara.

Bersenang-senang
Hal menarik lain dari Google+ adalah partisipasi. Robin dengan antusias bercerita tentang aplikasi Hangout, video interaktif sesama pengguna jejaring sosial ini. Melalui aplikasi ini tiap orang bisa berpartisipasi dalam obrolan video secara langsung (live).

Robin memberikan beberapa contoh, termasuk video musisi Amerika Daria Musk yang lahir dan dikenal luas karena rajin menyanyi lewat Google+ Hangout ini. Tapi, yang lebih menarik adalah tentang Barack Obama, presiden Amerika Serikat yang juga menggunakan fasilitas ini untuk berbincang dengan rakyatnya.

Pada 30 Januari lalu, untuk pertama kalinya pihak Google mengundang presiden Amerika Serikat pertama dari keturunan kulit hitam ini untuk ikut hangout. Google kemudian undang beberapa pengguna Google+ untuk ngobrol langsung dengan Obama secara interaktif lewat aplikasi Hangout ini.

Hasilnya, selama sekitar 50 menit, Obama melayani wawancara dengan enam warga Amerika yang menggunakan aplikasi ini. Di antara mereka ada pula salah satu demonstran yang ikut aksi Occupy di Portland, Oregon selain juga pekerja profesional ataupun ibu rumah tangga.

Semua wawancara itu diatur dari kantor Google. Tak ada penjelasan bagaimana orang-orang itu dipilih Google dan bisa terlibat di dalamnya. Namun, bagiku, tetap saja menarik. Melalui teknologi web cam ini, partisipasi warga bisa dilakukan. Mereka datang dari mana saja dan latar belakang apa saja namun bisa langsung bertanya ke presiden. Dan, langsung dijawab.

Teknologi informasi memberikan kemudahan bagi partisipasi warga. Google, melalui fasilitas YouTube dan Hangout, memberikannya.

Lalu, melalui berbagi jejaring sosial, termasuk YouTube, Google+, Facebook, dan seterusnya, hasil wawancara itu bisa disebarkan dan dinikmati. Hangout, sesuatu yang kalau di Indonesia diterjemahkan semacam bersenang-senang di klub atau kafe, justru menjadi media penting bagi warga untuk berpartisipasi.

9 Comments
  • gustulang
    February 7, 2012

    Selamat mas… btw, diskusi di milis BBC gak dimasukin jadi bahan mas?? 😀

    btw, facebook kan dah bisa pilih share status berdasarkan friends list (daftar teman) 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    diskusi yg mana tuh? soal privasi? kemarin sebenarnya pengen tanya lebih banyak soal itu. sayangnya gak bisa karena tenggelam di antara bahan diskusi lainnya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • suryaden
    February 9, 2012

    selamat mas, sampe singapur, tapi mosok untuk tahu gitu harus diomongin mike orgil 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    haha. lha kan aku wis disklaimer nek aku ki pancen gaptek. mangkane pas diterangin mereka aku baru bener2 ngeh. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Rusa
    February 9, 2012

    Yupm Privasi masih ajdi PR buat Facebook ya 😀
    Eh koq gak nyambung komennya, hehe.

    Sampeyan tanyakan gak mas, apakah yakin Google+ akan sukses, gak gagal seperti halnya Google Buzz dll dsbnya ?

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    waktu diskusinya kurang. aku sebenarnya lebih tertarik ngobrol lebih banyak soal dukungan google pd komunitas dan pengembangan aplikasi utk daerah tertinggal. tapi ya, begitulah. gak sempat. :((

    ReplyReply

    [Reply]

  • Eka Juni Artawan
    February 10, 2012

    koneksi good, hangout lancar. Bgaimana klo lelet?!?

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    hahaha. mungkin karena itu google memilih berkantor di singapura daripada di indonesia.

    ReplyReply

    [Reply]

  • HeruLS
    February 23, 2012

    Video conference? Hadeh, kapan Indonesia siap. Persoalan koneksi di kota utama saja masih kerap bermasalah.
    Wah, saya baru tahu Mas juara. Penasaran, dimana bisa lihat karyanya?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *