Globalisasi di Balik Kaos Oblong

9 , Permalink 0

Lama tidak menulis resensi di blog. Makanya aku posting aja deh resensi ini. Biarin saja resmi banget bahasanya.

Agak lucu juga nemu buku ini. Sekitar sebulan lalu aku dapat kaos oleh-oleh dari bos di kantor yang baru pulang dari Belgia. Seumur hidup sampai sekarang, baru kali ini aku dapat kaos dengan logo fair trade di belakangnya. Ada logo Max Havelaar dan keterangan bahwa kaos itu diproduksi dengan menerapkan prinsip-prinsip fair trade.

Menurut organisasi fair trade sedunia International Federation of Alternative Trade (IFAT), fair trade adalah perdagangan yang berdasarkan pada dialog, keterbukaan dan saling menghormati. Tujuannya untuk menciptakan keadilan, pembangunan berkelanjutan, melalui penciptaan kondisi perdagangan yang lebih fair serta memihak pada hak-hak produsen dan pekerja yang terpinggirkan.

Ada sembilan prinsip utama yang diterapkan oleh badan usaha maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendukung fair trade. Di antaranya keterbukaan dan pertanggungjawaban, pembayaran yang layak, kesetaraan laki-laki dan perempuan, serta menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu LSM, sekaligus usaha bisnis yang menerapkan fair trade dan mendapat sertifikat dari IFAT di Bali, adalah Mitra Bali.

Merujuk pada prinsip yang diterapkan dalam fair trade, maka aku senang bukan kepalang ketika dapat kaos oleh-oleh itu. Satu karena kaosnya dari Belgia (dasar penderita inferior syndrome! hehehe). Dua karena kaosnya polos tanpa gambar apa pun selain logo kantor pusat (susah banget kan cari kaos polos saat ini). Tiga karena berlabel fair trade itu tadi.

Sekitar seminggu setelah dapat kaos putih polos yang kekecilan itu, aku cari buku di Gramedia Simpang Siur Kuta Timur. Eh, ada buku dengan judul The Travel of a T-Shirt in the Global Economy ini. Tanpa pikir panjang, langsung kusambar saja. Dan, isinya memang menarik banget. Aku jadi tahu betapa di balik kaos yang aku pakais sehari-hari ternyata begitu banyak persoalan di belakangnya. Sebagai pecinta kaos oblong dan penikmat cultural studies, buku ini mengenyangkan otakku.

Di balik kaos yang aku pakai sehari-hari, ternyata tersimpan nasib petani kapas di bawah bayang-bayang globalisasi. Buku ini telah menguak fakta perdagangan dunia di balik kekuasaan dan politik ekonomi. Dan, petani terjepit di antara itu.

Seperti judulnya, buku ini memang fokus membahas bagaimana perjalanan sebuah kaos di tengah globalisasi. Pietra Ravioli, menggunakan kisah sederhana tentang petani kapas di Texas, produsen kaos dan nasib pekerja di Cina, aktivos anti-globalisasi, hingga pucuk pimpinan negara adidaya Amerika Serikat yang terhubung satu sama lain dalam produk kaos. Ravioli, Associate Professor di McDonough School of Business, George Town University, ini mengungkapkannya dalam bahasa sederhana namun didukung data dan fakta lengkap tentang politik ekonomi perdagangan kaos.

Buku terbitan TransMedia Pustaka Jakarta (2007) ini terbagi dalam empat bagian besar dari produksi kapas dan nasib petani, produksi kaos dan nasib buruh, kontroversi impor kaos dalam perdagangan bebas, serta membanjirnya kaos bekas ke negara-negara miskin di Afrika. Tiap bagain menjelaskan lebih detail dari masing-masing persoalan tersebut. Pada Bagian I: Raja Kapas, misalnya, buku setebal 312 halaman ini, mengupas tentang nasib petani kapas di Texas, daerah penghasil kapas terbesar di Amerika Serikat.

Menurut Ravioli, Texas bisa menjadi produsen kapas terbesar di Amerika, bahkan dunia, karena petani kapas di sana mendapat perlindungan dari beragam risiko termasuk risiko harga, pasar tenaga kerja, kredit, dan ancaman cuaca. Majunya pertanian kapas di Texas terjadi karena adanya subsidi oleh pemerintah AS. Namun, besarnya subsidi pemerintah AS ini membuat perdagangan tidak adil bagi petani di negara-negara miskin. Sebab petani kapas dari negara miskin tidak bisa memasarkan produknya ke Amerika dengan harga lebih tinggi dibanding petani dari AS.

Meski demikian, keberhasilan petani Amerika juga karena kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan modernitas. Petani AS mengadaptasi metode produksi, strategi pemasaran, pemanfaatan teknologi, dan organisasi. Salah satunya melalui organisasi seperti Farmer’s Cooperative Compress dan Plains Cotton Cooperative Association. Organisasi-organisasi ini bahkan, misalnya melakukan, pengaturan risk sharing di mana tidak ada petani yang akan mendapat keuntungan terlalu besar maupun terlalu kecil. Dari konteks perdagangan adil (fair trade), organisasi ini juga membuat petani bisa mengatur harga kapas dengan konsumen, tidak hanya diputuskan sepihak oleh pembeli.

Menariknya buku ini karena dia juga memberikan contoh berimbang antara dampak negatif maupun positif dari perdagangan bebas terhadap petani, terutama petani kapas. Salah satunya bahwa penggunaan traktor, mesin, dan sarana pertanian modern lain juga telah melenyapkan tradisi bertani. Bahwa sering kali masalah ekonomi mengalahkan sosial budaya.

9 Comments
  • ady gondronk
    April 12, 2008

    ga ada lagi kaosnya bos?? boleh minta dong satu. πŸ˜†

    mari kita kampanye lewat kaos oblong.
    hidup kaos oblong…huehehehehe


    asal kaos oblongnya gratis, aku pasti mau. πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • pekak belog
    April 12, 2008

    cucuku anton, kok pekak jadinya tusing ngerti sama tulisannya, dimana penekanannya dari si kaos?


    injih, pekak belog. penekanan dari sisi kaos ya yg di awal itu. bahwa trnyata susah cari kaos yg dproduksi dg menerapkan prinsip fair trade. dan buku ini menjelaskan sangat detail ttg bagaimana kaos, yg sangat sederhana itu, trnyata menggambarkan kompleknys globalisasi. tp sayangnya mmg cucumu ini nulisnya keburu nafsu. jdnya dikit banget yg ditulis. πŸ˜‰ *ngeles terus*

    ReplyReply

    [Reply]

  • rama
    April 12, 2008

    sometimes i just hope that everybody is poor.. jadi semuanya susah sama2, biar damai semua.. =)


    wah, kenapa doanya ga semuanya agar kaya aja. biar sama2 enak. kalau semua miskin kan jadinya sama2 ga enak.

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    April 13, 2008

    *masukin dlm list buku wjb beli* πŸ˜€


    yap. sayangnya, karena terjemahan, secara umum penulisannya agak njlimet. tp bagus utk referensi soal kaos dan globalisasi di baliknya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    April 13, 2008

    wkwkkw.. tukeran buku Bli?! πŸ˜€


    ayuok. πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    April 13, 2008

    eh, lom komen postingannya! Postingannya bagus buangets! Sekali lagi, tukeran buku dong Bli! huhuhu…

    ** daripada beli lagi, harga kertas lagi naek!


    ini komen terpaksa sepertinya. πŸ˜€ yuk tukeran buku. kapan mau ketemu?

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    April 15, 2008

    mbah anton, mohon maaf, materinya berat nih..
    ikut doa buat petani yg sedang kejepit.. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • gus tulank
    April 22, 2008

    Wahh… kayanya bukunya seru… cari ahh…

    thanks ya infonya,

    salam….

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 22, 2008

    @ wira: berat di bagian mananya, pak dosen? bukannya biasanya pak dosen suka yg berat2. πŸ˜€

    @ gus tulank: cari di rumahku aja. gratis. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *