Generasi Penulis di Keluarga Kami

5 , Permalink 0

Diam-diam ada tradisi baru di keluarga besar kami, menulis.

Keluarga besar ini adalah aku, saudara-saudara, sepupu-sepupu, dan keturunannya. Kami biasa menyebut keluarga besar ini Bani Taqrib, mengacu pada nama kakek kami, Taqrib.

Kakek nenek kami melahirkan lima anak. Empat di antaranya masih hidup. Mereka tinggal di desa di pesisir Lamongan, Jawa Timur di mana hampir semua di antara kami lahir. Ibuku anak tertua di antara mereka.

Lahir di kampung sama, kini para sepupu ini menyebar di banyak tempat. Mesir, Singapura, Batam, Bengkalis, Jakarta, Malang, Surabaya, dan Bali. Ada yang kuliah, kerja, atau memang sudah menetap di masing-masing tempat tersebut.

Banyak. Amat banyak sih yang bisa ditulis bagaimana kami, para sepupu ini saling memberi dukungan dan pengaruh masing-masing. Namun, satu yang kemudian aku pikir keren adalah karena ternyata kami melahirkan tradisi baru di keluarga kami, menulis.

Hal itu baru aku sadari setelah awal bulan ini ketemu sama Thobib, dan istrinya yang juga sepupu kami berdua, Ela, di Singapura. Pertemuan ini sendiri terasa agak aneh. Kami lama tak ketemu di kampung halaman kami, Lamongan. Eh, malah ketemunya di Singapura. Sok gaul banget deh. :p

Pas ketemu, meski hanya sekitar 3 jam, kami lebih banyak ngobrol tentang keluarga dan hidup di Singapura. Cuma setelah itu kemudian aku baru mikir, ternyata banyak juga hal di antara kami yang saling memengaruhi. Salah satunya ya urusan kebiasaan menulis itu tadi.

Pradana Boy Zulian Thobibul Fata alias Thobib ini bisa jadi peletak dasar tradisi ini. Dia yang memengaruhiku untuk jatuh cinta pada jurnalisme. Tapi gara-gara baca tulisan-tulisannya di Bestari, tabloid Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), aku jadi kepincut untuk aktif di pers mahasiswa meski waktu itu masih SMA.

Ya, tidak satu-satunya sih. Sejak zaman SMP pun aku sudah menulis. Tulisanku yang pertama kali dimuat media umum, kalau tak salah Majalah Trubus, justru pas aku SMP. Pas SMA juga rajin curhat di diari. Cuma, Thobib tetap memberikan pengaruh besar padaku untuk memilih aktif menulis.

Pas baca tulisan-tulisannya di Bestari, baik reportase ataupun opini, aku mikir, “Asyik banget tulisan kita bisa dibaca banyak orang.” Maka, ketika kuliah di Universitas Udayana, Bali, aku langsung ikut Pers Mahasiswa Akademika, rumah di mana aku mengalami banyak perubahan dalam hidup.

Jurnalisme, dunia tulis menulis, termasuk blog kemudian jadi pilihan hidupku hingga saat ini.

Thobib sendiri, meski pernah sebentar jadi wartawan di Malang, kemudian lebih memilih jalur akademis dan intelektual. Tak hanya dosen tapi juga mendirikan dan aktif di Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), kelompok intelektual progresif Muhammadiyah. Lulus S2 di Australian National University (ANU), kini dia ambil program doktor di National University of Singapura (NUS). Dia tetap rajin menulis opini di media arus utama selain juga buku, termasuk novel.

Tak cuma kami berdua yang kemudian punya kebiasaan menulis ini. Adikku kandungku, Humidatun Nisa’ alias Tumik, juga pernah aktif di Bestari ketika kuliah di Fakultas Ilmu Sosial Politik di UMM. Tumik yang kini jadi tenaga honorer Kementerian Sosial masih rajin nulis juga di blog. Tulisannya juga pernah dimuat di majalah cerpen An-Nida dan Kompas ketika dia masih SMA.

Lalu, muncul pula penulis lainnya, Ridlon. Sepupu yang kini kuliah di Universitas Al-Azhar ini ternyata juga aktif di pers kampus. Aku ingat ketika awal-awal dia banyak bertanya ke aku tentang pers kampus, aku langsung girang bukan kepalang. Ternyata dia juga kepincut dunia menulis.

Sekarang, Jauhar Ridloni Marzuq alias Ridlon, setahuku malah jadi Pemred Informatika, majalah perhimpunan mahasiswa dan pelajar Indonesia di Mesir. Adik sepupu yang juga saksi hidup Revolusi Mesir ini sekarang mulai rajin menulis opini ke Republika. Ya, bagiku, kerenlah. Masih mahasiswa dia sudah rajin menulis ke media arus utama meski tempat dia kirim tulisan tersebut kurang aku suka.

Tradisi baru ini terus berlanjut. Media semacam Facebook menjadi tempat kami, termasuk adik-adik kami yang masih kuliah S1 ataupun SMA, untuk menulis tentang cerita kami sehari-hari. Adik-adik kami juga ponakan-ponakanku pun mulai rajin menulis. Tentu saja senang melihat keluarga kami tumbuh dalam tradisi baru ini. Juga membanggakan..

5 Comments
  • Megi Tristisan
    February 26, 2012

    keren ya semuanya suka nulis di keluarganya mas, jadi iri, heheheheheh

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tumik
    February 29, 2012

    wih, bangganya :p
    yaapa lek diadain sayembara nulis bani taqrib? hohoho

    ReplyReply

    [Reply]

  • Gusti 'ajo' Ramli
    March 1, 2012

    mantap… semestinya memang tradisi menulis dimulai dari keluarga dengan membiasakan semua anggota keluarga suka menulis.. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • ibnu ch
    March 9, 2012

    Asyik ya kalo punya grup menulis dlm keluarga(*???)salam kenal …

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agung Pushandaka
    March 12, 2012

    Bani dan Satori menyusul untuk meneruskan tradisi,,

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *