Gaya Bicara Pastika, Sueta, dan Winasa

25 , Permalink 0
Sabtu (15/3) lalu aku bantuin Pers Mahasiswa Akademika untuk jadi moderator seminar yang mempertemukan tiga bakal calon (balon) gubernur Bali. Diskusi ini dilaksanakan dalam rangka ulang tahun lembaga pers mahasiswa di Universitas Udayana Bali tersebut. Sebagai alumni yang baik dan berbakti (hehehe) maka aku pun mengiyakan meski aku grogi bukan kepalang.

Bagaimana tidak grogi. Ini kali pertama aku jadi moderator diskusi politik yang serius banget. Biasanya kan lebih banyak diskusi sama temen-temen LSM yang suasananya jauh lebih cair dan santai. Selain itu, setahuku ini kali pertama para bakal calon itu ada di satu meja untuk ”debat terbuka” terkait pencalonan mereka.

Hal lain yang membuatku grogi banget kemarin itu karena kadang-kadang aku ini suka ngomong nglantur atau becanda yang kelewatan. Takut saja gara-gara candaan itu lalu pendukung bakal calon akan macem-macem ke aku. *Hehe, dasar aku memang paranoid soal beginian.*

Oke, balik kanan ke topik tulisan. Tiga bakal calon yang hadir di Nari Graha Renon, tempat diskusi kemarin, adalah I Made Mangku Pastika, I Nyoman Gede Suweta, dan I Gede Winasa. Setelah seminar yang menghadirkan para balon gubernur maupun wakilnya itu aku tiba-tiba bikin tulisan ini. Kali ini soal bagaimana sih gaya dan (sedikit) materi bicara para kandidat Bali 1 itu di mataku. Tapi informasi ini sangat personal dan subjektif. Inilah enaknya ngeblog. Hehe.

Here we go..

Kandidat pertama adalah I Made Mangku Pastika. Entah kenapa pas seminar kemarin dia dapat giliran berbicara pertama. Bisa jadi karena nama besarnya atau nama besar partai yang akan mengajukannya pada Pilgub Bali Juli nanti. Pastika bersama AA Puspayoga, walikota Denpasar saat ini, diusung PDI Perjuangan.

Sebelum jenderal kelahiran Buleleng ini jadi Ketua Tim Investigasi Kasus Bom Bali 2002, aku hanya sempat mendengar nama ini ketika terjadi kasus korupsi Eddy Tansil. Tapi ya sangat samar-samar. Kalau tidak salah Pastika adalah anggota tim penyidik kasus ini. Aku cek di biodatanya sih Pastika memang penah jadi Kepala Satuan Penyidikan Perbankan Mabes Polri. Jadi wajar kalau kejahatan perbankan adalah salah satu keahliannya.

Namun, nama Pastika memang sangat moncer setelah kasus bom Bali 2002. Di bawah koordinasinya, tentu saja bersama polisi dari berbagai negara dan para dedengkot ahli terorisme Indonesia seperti Gorries Mere, Pastika bisa menangkap pelaku pengeboman seperti Amrozi, Imam Samudra, dan seterusnya. Dua orang ini tambah Ali Ghufron adalah pelaku yang dijatuhi hukuman mati. ”Ketika masuk ruangan ini, saya merinding,” kata Pastika sebelum mulai berbicara di seminar. Tempat seminar itu memang juga tempat persidangan kasus bom Bali, juga tempatku merayakan pernikahan 13 Januari 2006 lalu. Hehe..

Pastika menarik kalau bicara. Pada seminar kemarin dia memilih berdiri di podium, bukan duduk di kursi meja yang sudah disediakan. Tapi itu pun setelah minta izin ke aku. ”Silakan jenderal,” jawabku sambil mikir, ”Mih, kapan lagi Pastika mau minta izin ke aku?” Hahaha..

Bicaranya lugas. Selama dia ngomong, hampir semuanya mendengarkan. Gaya bicaranya memang asik. Terstruktur meskipun sangat tergantung teks yang dibawanya. Dia jarang berimprovisasi selama ngomong pas pembukaan. Tapi pas diskusi dia bisa menjawab dengan lugas.

Gaya bicara Pastika yang seperti ini memang asik banget bagiku. Aku bener-bener menikmati masa-masa ketika dia jadi Kepala Tim Investigasi Kasus Bom Bali. Kalau Pastika ngomong bisa dipastikan berisi. Kalau ngeles juga asik. *Hehe, apa asiknya ya ngeles?*

Sayangnya, Pastika bicara lebih pada tataran ideal. ”Kalau semua dibuka di sini kan bisa dicuri sama calon lain,” kata salah satu anggota tim suksesnya. Bisa saja ini jadi alasan. Namun bagiku sih tetep saja ini karena modal utama Pastika maju memang keamanan sehingga di isu lain agak keteteran. Maklum, dia kan jenderal polisi berbintang tiga. ”Keamanan itu sarapan saya tiap hari,” katanya ketika ditanya tentang konsep keamanan yang akan diterapkan kalau jadi gubernur.

Pastika memang jagoan dalam isu keamanan. Sayangnya banyak orang lupa bahwa bom Bali 1 Oktober 2005 juga terjadi ketika Pastika masih menjabat sebagai Kapolda.

Oke, ganti pembicara kedua, Nyoman Gede Suweta. Mantan Wakil Kapolda Bali ini maju sebagai bakal calon wagub bersama Cok Budi Suryawan (CBS) diusung oleh Partai Golkar dan Koalisi Bali Dwipa. Karena CBS masih ada di Jakarta, maka Suweta yang mewakili di seminar kemarin. ”Saya baru dikasih tahu semalam untuk berbicara di sini,” katanya.

Sama seperti Pastika, dia pun ngomong sambil berdiri di podium, tidak duduk. Tapi gaya bicara polisi berpangkat Brigader Jenderal ini, menurutku, memang tidak sehebat jabatan yang pernah disandangnya. Suaranya agak pelan. Aku sih mendengarkan terus karena memang tugasku begitu. Tapi aku lihat sekitar 200 peserta yang hadir tidak terlalu peduli. Suara Suweta hilang di antara peserta yang sibuk bicara satu sama lain tanpa mendengar omongannya.

Dalam diskusi, Suweta juga kurang lugas menjawab. Rata-rata jawabannya di awang-awang, tidak membumi. Contoh kecil ketika ditanya apa motivasinya maju pada Pilgub kali ini, Suweta menjawab karena ingin mengembalikan Bali dengan keanekaragamannya berupa dresta atau soroh (semacam klan) yang memang punya adat masing-masing. ”Misalnya soal Nyepi. Pelaksanaan Nyepi dari jam enam sampai jam enam itu kan penyeragaman,” katanya.

Aku berusaha mencerna omongannya ini. Tapi karena keterbatasan pengetahuanku tentang ragam budaya Bali, aku tetep tidak bisa memahaminya. Selebihnya, bagiku, omongan Suweta kemarin pada diskusi memang sesuatu yang ngambang. Juga basi. Pantes saja pada cuek.

Pembicara ketiga, I Gede Winasa, sepertinya jadi bintang hari itu. Pertama dari segi kedatangan. Karena dia masih menjabat sebagai Bupati Jembrana, maka dia tinggal di Negara, sekitar 200 km dari Denpasar. Karena alasan ini maka dia telat dan masuk ke ruangan seminar ketika Suweta sudah bicara.

Winasa memang telat sampai di tempat seminar. Tapi menurutku dia sengaja telat masuk ruangan. Sepertinya itu bagian dari strateginya. Maka, pas dia masuk, ruangan bergemuruh. Banyak yang tepuk tangan. Suweta sampai berhenti berbicara sekitar tiga menit ketika Winasa masuk, bersalaman dengan semua pembicara dan aku, lalu duduk. Winasa mencuri perhatian sejak kedatangan.

Dia bicara sambil duduk, berbeda dengan dua pembicara lain. “Karena capek dari perjalanan jauh,” katanya.

Dan, Winasa yang maju lewat koalisi partai gurem bernama Koalisi Kebangkitan Bali bersama Alit Putra ini memang pantas mendapat perhatian khusus. Dia tidak hanya bicara awang-awang. Dia menggunakan data dan menganalisisnya. Misalnya soal pendidikan. Dia menjadikannya sebagai program utama karena imbas pendidikan ini memang ke mana-mana. Misal partisipasi politik. Kalau tidak lulus SMA, maka kita tidak akan bisa maju sebagai calon anggota legislatif.

Ini sesuatu yang baru bagiku. Selama ini hanya melihat pendidikan dari sudut pandang pengetahuan, bukan sudut pandang politik. “Benar juga ya,” pikirku.

Dari gaya bicara, Winasa meyakinkan. Dia paling sering mendapatkan tepuk tangan dari peserta seminar. Ketika dia bicara, banyak pula orang yang semula duduk di luar sampai berdiri dan mengintip dari jendela. Dia juga bisa melucu. Kadang-kadang peserta tertawa mendengar omongannya. Winasa pantas mendapat acungan jempol, setidaknya pas seminar kemarin.

Begitulah gaya bicara para balon gubernur dan wagub pas seminar kemarin. Kapan-kapan mungkin aku bikin lagi soal serupa tapi pada catatanku tentang mereka saja. Itu juga kalau ada mood. :))

Oya, ini sekadar tambahan bagaimana popularitas para calon gubernur dan wakil gubernur Bali tersebut menurut Pak De Google.

Sekitar 29,500 hasil penelusuran untuk Made Mangku Pastika. (0.16 detik)

Sekitar 18,600 hasil penelusuran untuk Gede Winasa. (0.23 detik)

Sekitar 123 hasil penelusuran untuk Nyoman Gede Suweta. (0.31 detik) Tapi dari urutan 1-10 tidak ada yang cocok profilnya sama sekali dengan orang yang saya cari.

25 Comments
  • artana
    March 19, 2008

    Menurut bli, yang paling realistis dan konsisten yang mana ya?
    tolong beri rekomendasi buat saya pilih nanti !..

    ReplyReply

    [Reply]

  • tukang makan
    March 19, 2008

    oh mo ada pilgub to?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Yanuar
    March 19, 2008

    SAYA TIDAK AKAN MILIH SELAMA BAPAK SAYA TIDAK MAJU MENJADI CALON GUBERNUR.!!!
    ha.ha.ha…..

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    March 19, 2008

    @ artana: walah, kayak aku ini tim sukses aja pake rekomendasi. aku pilih pan belog gen. 😀

    @ tukang makan: yoi. semarang barusan selesai kan?

    @ yanuar: makanya suruh bapakmu jadi jenderal dulu. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • widi
    March 19, 2008

    Oh..ternyata darimu toh yang kelihatan di bali tv maren……….

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    March 19, 2008

    Test gravatar….

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dek Didi
    March 19, 2008

    Ulasannya menarik sekali bli Anton. Kapan2 ikut yah kalo ada seminar seperti ini lagi. Penasaran

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    March 19, 2008

    seperti kata cenk-blonk, rakyat milih terus, milih bupati , milih gubernur, milih presiden, milih DPR milih kepala desa, milih ketua pemuda (ups), dst… milih terus, kapan dapetnya.. lama2 kita sibuk dengan pemilihan, lupa kerja, hahahaha

    ReplyReply

    [Reply]

  • Nyoman Ribeka
    March 19, 2008

    saya pilih bapak saya juga bli hahahahahaha …

    ReplyReply

    [Reply]

  • bunda
    March 19, 2008

    nama orang jangan salah2 dong. suweta not sueta. sekalian kampanye: jangan baca tanda bintang (berita yang dibeli semua calon gub)

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agung Wardana
    March 20, 2008

    ton, teman2 NGO mau bikin KIPP..gimana kamu mau gabung ngga? atau mau jadi tim sukses salah satu kandidat??

    Untuk aku sendiri, pesta demokrasi ini berbeda dengan yang lain dan untuk itu aku pasti akan milih, ton!….memilih untuk tidak milih…hehehe…sekali golput tetap golput…Hidup Golput!

    ANcak

    ReplyReply

    [Reply]

  • wwan dputra
    March 20, 2008

    kalo tulisan ini pake tanda bintang ato ga ya??
    xixixiix… saya juga bakal pilih bapak saya…
    *bareng2 mode : on

    ReplyReply

    [Reply]

  • mohammad
    March 20, 2008

    selamat, dah jadi moderator orang2 penting, keren banget tuh.
    kedua, kayaknya winasa yang ok jadi gubernur bali. apa pendapatmu?

    ReplyReply

    [Reply]

  • ady gondronk
    March 20, 2008

    saya juga pingin dengar gaya bicara calon gubernur dan wakil gubernur ini. Kira2 bisa dibuktiin ngga ya antara omongan dengan hasilnya nanti ya??

    ReplyReply

    [Reply]

  • Gusdur
    March 21, 2008

    Gubernur Bali? serahkan pada ahlinya, yang sudah terbukti dan teruji

    ReplyReply

    [Reply]

  • yos
    March 22, 2008

    biar coblosannya makin mantap, mai daptar diri sendiri jadi cagub ! wakakakaka….

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    March 22, 2008

    Kan sudah tak bilangin untuk bikin Partai BBC! Ntar ajukan calon sendiri aja! wkwkwkw…

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    March 23, 2008

    @ widi: oya, masa sih aku keliatan di TV. keyen dong. hihihi..

    @ dek didi: gimana kalau BBC yg bikin dg teman menggunakan blog sbg media kampanye bagi cagub. kita todong mereka utk pasang iklan di blog kita. kan lumayan. daripada pake adsense. 😀

    @ wira: boleh saja sih lupa kerja. asal tidak lupa ngeblog. 😀

    @ winardi: awas, nanti dipulauburukan. 😀

    @ bunda: ya, bunda. mmmuah..

    @ agung: ikut, gung. sekalian ikut nyoblos kalo kamu yg jadi cagub. :p

    @ wawan: pake tanda kodok, bukan bintang. jd bisanya cuma ngorek. 😀

    @ mohammad: selamat jg, cak iqbal. soal cagub, aku pilih pan belog gen. 😀

    @ ady gondronk: sayangnya sih sebagian besar cuma bisa baca di koran yg sudah isi tanda bintang. jdnya susah. tp kita bisa saja inget omongan di koran itu lalu nanti kita tagih kalau dia sudah kepilih.

    @ gusdur: ini gus dur beneran ya? *mikir2* 🙂

    @ yos: mas yos aja deh yg maju. aku pasti pilih golput. 😀

    @ imsuryawan: ayuk ayuk. kita bikin aja. pan belog jd presidennya. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Pak Kumis
    March 24, 2008

    Saya pilih cagub-cawagub yg berkumis! he he he

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    March 25, 2008

    @ pak kumis: kalo gitu pilih pak raden aja. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Ratna
    March 29, 2008

    Tinggal nunggu hasil tanggal 9 Juli aja mas 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • asti musman
    April 1, 2008

    aku pilih yang baik hati, he,he,he…

    ReplyReply

    [Reply]

  • nuarta
    April 6, 2008

    fenomena gras root http://pastika.wordpress.com

    ReplyReply

    [Reply]

  • wayan
    May 8, 2008

    Saya pensiunan pegawai negeri di Gianyar. Saya ingin mengungkapkan beberapa hal mengenai kepemimpinan Cok Budi Suryawan (CBS) ketika masih menjabat Bupati Gianyar. Saya agak risi mendengar dan membaca janji-janjinya. Sebab apa yang dijanjikannya kini jauh dari fakta ketika CBS jadi bupati.

    Beberapa hal yang bisa saya catat adalah sebagai berikut:
    1. Janji perbaikan pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani sangat bertentangan dengan kerusakan subak dan tidak jelasnya ganti rugi tanah akibat kebijakannya LC waktu CBS jadi bupati. LC sepanjang jalan 20 km di Gianyar itu terdiri dari 4 wilayah, yakni:

    a. LC Buruan, menghancurkan
    – Subak Gunung Sari,
    – Subak Getas,
    – Subak Celuk Buruan,
    – Subak Buruan
    b. LC Pelengan, menghancurkan
    – Subak Pelengan,
    – Subak Sudimara,
    – Subak Batu Buah,
    – Subak Dukun,
    – Subak Gianyar
    c. LC Bang, menghancurkan
    – Subak Buaja,
    – Subak Gianyar,
    d. LC Bukit Jati
    Persoalan LC itu pun yang belum terselesaikan hingga kini, antara lain:
    a. Ganti rugi / penukar tanah hak milik petani tidak jelas;
    b. Hak milik petani jadi berkurang / hilang;
    c. Letak/lokasi tanah pengganti hak milik petani tidak/kurang strategis (nilai ekonomis rendah);
    d. Pemilik baru bermunculan pada lokasi strategis di depan jalan LC “20”. Pemilik semula (petani asal), pada dasarnya terlempar dari lokasi itu;
    e. Pembeli tanah (pemilik) berserifikat (di atas kertas) sebetulnya membeli tanah tanpa objek (?, admin)
    f. Muncul tanah “tanpa tuan”;
    g. Petani (di hilir) mengalami kesulitan menggarap sawah-ladang karena sistem pengairan rusak;
    h. Pura Ulun Siwi tidak lagi memiliki pengempon / krama. Ini juga berarti budaya warisan leluhur menjadi hancur karena penanganan LC semerawut; muncul permukiman di luar sistem; kamtibmas terganggu;
    i. Rakyat menderita sebagai korban kebijakan.

    2. Pada masa kepemimpinan CBS juga muncul proyek terminal Kota Gianyar yang mangkrak, sehingga investasi tidur bertahun-tahun. Padahal investasi itu menggunakan uang rakyat;

    3. Stadion termegah di Indonesia (?) mangkrak. Jelas merugikan rakyat;

    4. Pembangunan gedung DPRD yang terletak di jantung Kota Budaya Gianyar, terkesan dipaksakan tanpa mengindahkan nilai budaya, etika, tata ruang, dan ergonomi;

    5. Pembangunan Balai Budaya yang tidak sesuai konsep budaya Bali;

    6. Pembangunan pusat pertokoan berlantai 3 yang mematikan perekonomian rakyat dan merusak tatanan budaya dan etika;

    7. Stage Sidan dibangun untuk menjadi sekadar “pemanis” terhadap kesenjangan Gianyar Timur dan Gianyar Barat (Ubud dan sekitarnya). Termasuk RPH mangkrak merupakan janji kosong bagi Gianyar Timur.

    8. Satu-satunya yang bisa dinikmati oleh masyarakat Gianyar Timur hanyalah Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA) Temesi yang overload dan menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Jadi, selama kepemimpinan CBS, masyarakat Gianyar Timur hanya bisa “menikmati” sampah.

    Demikianlah beberapa hal yang berhasil saya catat dari “prestasi” CBS selama berkuasa di Gianyar selama 10 tahun. Tentu terlalu banyak hal lain yang terlewatkan

    ReplyReply

    [Reply]

  • nuarta
    July 13, 2008

    http://pastika.wordpress.com/
    TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT BALI UNTUK MEMILIH DAN MEMENANGKAN MANGKU PASTIKA DAN PUSPAYOGA SEBAGAI GUBERNUR dan WAKIL GUBERNUR BALI 2008 – 2013

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *