Fixer, Pembantu Jurnalis yang Bikin Ngiler

5 , , Permalink 0

Dengan honor per hari hingga Rp 1 juta, pekerjaan sebagai fixer amatlah menggoda.

Tak hanya imbalan, tantangan dan kesenangan pekerjaan ini juga amat tinggi. Seorang fixer bisa belajar banyak hal, terutama disiplin bekerja ala media dan jurnalis mancanegara.

Istilah fixer ini aku tahu pertama kali ketika bekerja salah satu koran harian di Australia. Aku membantu wartawan media ini yang sehari-hari berkantor di Jakarta pada 2005-2007. Tugas utamaku membantunya sebagai fixer di Bali. Liputan utama kami lebih banyak tentang dua isu penting bagi Australia, terorisme dan peredaran gelap narkoba di Bali.

Dalam bahasa Indonesia, fixer ini kurang lebih berarti pembantu jurnalis asing. Tugas utama dia memang membantu jurnalis media asing di daerah tertentu yang punya nilai jual tinggi bagi media tersebut. Tugas ini antara lain menerjemahkan, wawancara, memberi informasi latar belakang, bahkan kadang sampai urusan amat teknis lainnya.

Media asing ini bisa berupa harian, kantor berita, atau stasiun TV. Hampir semuanya media asing. Di Bali, misalnya, media-media besar di Australia, seperti Sydney Morning Herald, The Australian, Australian Broadcast Corporation (ABC), dan seterusnya punya fixer di Bali meski kantor mereka di Jakarta. Maklum, Bali rumah kedua bagi warga negeri Kanguru tersebut.

Beda dengan kontributor atau koresponden, fixer tak sampai membuat karya jurnalistik. Kalau kontributor atau koresponden menghasilkan berita baik teks, audio, ataupun video, maka fixer hanya membantu jurnalis asing mendapatkan semua bahan untuk membuat berita. Paling jauh, sih, fixer hanya menyediakan informasi mentah. Jurnalis asing itu yang akan mengolahnya jadi berita.

Pemandu
Seorang fixer tak harus dari latar belakang jurnalis. Salah satu fixer di Bali, setahuku, malah semula pemandu wisata. Dia masih aktif sebagai fixer dan hasil liputannya bersama jurnalis tempat dia bekerja malah sering jadi acuan media asing lainnya.

Meski demikian, pengalaman sebagai jurnalis atau pernah berhubungan dengan media akan jauh lebih berguna dan membantu fixer.

Hal paling menyenangkan ketika bekerja sebagai fixer adalah gajinya. *Keliatan matrenya.. Hehehe.

Sistem kerja fixer ini harian. Dia akan dibayar per jumlah hari dia bekerja membantu jurnalis asing. Honornya antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per hari. Sebagai contoh, ketika bekerja untuk The Australian, aku mendapat honor Rp 700 ribu per hari.

Dengan nilai antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, menurutku, standar honor fixer sangatlah besar. Apalagi kalau dibanding wartawan media lokal. Rp 700 ribu itu setara dengan gaji tiap bulan wartawan baru di media lokal.

Meski demikian, honor fixer di Indonesia relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan honor fixer di luar negeri. Desy Ayu, wartawan TV nasional yang beberapa kali liputan ke luar negeri, bercerita kalau honor fixer di Yordania atau Eropa bisa sampai Rp 3,5 juta per hari!

Namun, besarnya honor fixer ini sepadan dengan tekanan dan tuntutan kerja media asing. Inilah tantangannya.

Generally, kerja media asing memang lebih disiplin. Contohnya, ketika aku membantu liputan bom Bali pada Oktober 2005. Ketika hampir semua wartawan mengandalkan informasi dari polisi, kami bersama fotografer harus ubek-ubek sendiri di lapangan. Kami menelusuri setiap informasi yang kami peroleh dari polisi ataupun media lain.

Kuncinya, kalau bisa dapat dari sumber primer, kenapa harus dari sumber skunder? Maka, aku merasa, waktu itu sudah bekerja layaknya penyidik itu sendiri. Ini salah satu pelajaran penting bagiku.

Intelijen
Tantangan itu dibantu dengan kuatnya jaringan jurnalis asing itu sendiri. Bagian ini juga yang baru aku tahu. Jurnalis-jurnalis media asing ini memang cepat sekali tahu informasi terkini terkait terorisme. Mereka mendapatkan informasi itu langsung dari intelijen.

Ada di apa di baliknya? Aku tak tahu. Aku cuma tahu bahwa mudahnya asupan informasi dari intelijen itu berdasarkan hasil pendekatan mereka ke sumber-sumber informasi tersembunyi. Aku yakin sih karena uang juga di baliknya.

Oke, balik soal fixer.

Meski honor fixer ini amat tinggi, namun tak menjamin pekerjaan ini bisa jadi pegangan hidup. Salah satunya karena tak setiap waktu media asing butuh fixer ini. Mereka butuh fixer hanya ketika ada isu besar yang dianggap penting atau relevan bagi pembaca medianya. Dan, isu besar itu tak terjadi setiap waktu.

Pekerjaan sebagai fixer ini mungkin mirip nelayan, sekali panen bisa berlimpah ruah. Tapi begitu musim panen lewat langsung sepi. Kere. Beda dengan wartawan tetap di media lokal atau nasional yang mirip petani, pendapatan sudah bisa diprediksi meski jumlahnya kadang tak mencukupi.

Tak enaknya jadi fixer juga karena besarnya risiko. Kalau di Bali sih relatif aman. Tapi, beda soal kalau fixer itu di daerah konflik, seperti Aceh dan Papua. Di sana fixer bertaruhan nyawa. Sebab, fixerlah yang berada di garis depan saat liputan. Dia yang mencari informasi dan kadang jurnalis asing tinggal mengolah informasi tersebut darinya.

Menurut data Komisi Perlindungan Jurnalis (CPJ), tak sedikit fixer di negara-negara konflik ini yang harus dipenjara atau bahkan mati sementara jurnalis asing yang dibantunya bebas pergi meninggalkan lokasi liputan.

Maka, begitulah. Fixer, kadang-kadang, juga harus menjadi bumper atau bahkan martir.

Foto dari CPJ.

5 Comments
  • Mo
    October 5, 2011

    Aku jadi ingat pada teman dari temanku yang dulu pernah jadi fixer media tv di Australia. Waktu itu dia dikontrak dua bulan penuh (atau lebih) untuk men-shooting gambar peradilan kasus narkoba yang lagi hangat-hangatnya di bali. kalo gak salah kasus corby. ulan selanjutnya, si warwatan asing tidak perlu datang ke Bali, cukup menerima laporan dan rekaman handicam dari si fixer itu. Nah, dalam hanya beberapa bulan, dia bisa kaya mendadak, beli mobil dan rumah yang nilainya ratusan juta, mungkin mendekati 1M. gaya hidupnyapun berubah. Padahal dia ngomong bahasa inggris aja gak bisa, apalagi nulis inggris, dan dia juga bukan wartawan tulen. Sempat ngiri juga, hehehe….

    ReplyReply

    [Reply]

  • iPul dg.Gassing
    October 7, 2011

    wuih, kayaknya jadi fixer ini menarik juga ya..
    tantangannya itu lho, meski memang tidak bisa sepenuhnya jadi pegangan hidup.

    saya koq tertarik ya..
    hehehe

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dian
    October 8, 2011

    Hmm.. Baru tau ada cerita tentang fixer ini Bang, menarik banget ya. Pernah ada kejadian si fixer salah ngasi info, atau dia kerja untuk beberapa media sekaligus gitu ga Bang?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Alid Abdul
    October 11, 2011

    baru tau klo ada profesi fixer di dunia media, seru juga sih yak petualangannya, terus cara dapatnya gimana? maksudnya cara biar kita jadi fixer?

    ReplyReply

    [Reply]

  • desy
    June 5, 2012

    baru ngecek tulisan ini mas :), yups rata-rata biasanya biaya fixer di luar negeri itu 250-350 dollar per hari. umumnya semakin berbahaya suatu daerah semakin mahal, atau semakin mahal biaa hidup disana maka biayanya juga ngikutin. dan harus diakui memilih fixeer yang tepat adalah salah satu kunci sukses liputan, karena mereka adalah org yang akan menjadi sumber in formasi kita nanti hendak kemana dan siapa yang harus dihubungi. selanjutnya loby-loby bisa kita kembangkan tapi at least fixer tau org yang tepat untuk dihubungi. tapi negatifnya kalo menurut saya fixer tidak memiliki hasil karya nantinya jika dia gak bikin liputan sendiri, karena nama dya tidak masuk dalam tim peliput. kebijakan ttg ini berbeda di media2 tapi umumnya nama fixer tidak masuk tim peliput. jadi umumnya fixer2 yang saya jumpai, mereka juga sekalian liputan, entah foto cetak atau lainnya :).

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *