Cepat Saji Tak Selalu Bikin Ngeri

Para remaja itu terus saja mengatakan, fast food itu buruk terhadap kesehatan. Lha, bagaimana kalau fast food itu pakai bahan organik?

Mereka mengatakannya ketika ditanya juri dalam seleksi remaja Duta Pangan Sehat VECO Indonesia, Sabtu ini. Ada 16 remaja yang ikut tahap final ini. Dari 16 itu, separuh di antaranya akan dipilih sebagai duta tersebut. Totalnya akan ada 12 remaja. Empat remaja lain diseleksi dari Boyolali dan Solo.

Anak-anak muda terpilih ini akan ikut kemah remaja bersama 12 remaja lain dari Belgia Juni ini di Bali. Oktober nanti, 12 remaja dari Indonesia itu akan berangkat ke Belgia, kantor pusat VECO Indonesia, yang juga tempatku bekerja paruh waktu.

Seleksi hari ini adalah bagian akhir dari pemilihan para remaja tersebut. Aku sendiri tak ikut sama sekali dalam proses pemilihan maupun pengurusan para remaja ini. Tugasku di sini hanya motret sambil sekadar melihat bagaimana sih seleksi dilakukan, termasuk pertanyaan yang diberikan.

Dan, salah satu yang menarik adalah pertanyaan soal junk food itu. Sejauh yang aku dengar, semua remaja itu bilang, fast food itu racun. Pangan tradisional itu bagus. Pokoke hitam putih banget cara menilainya. Fast food dan junk food, mereka mencampuradukkan dua hal ini, adalah hitam. Pangan tradisional atau organik adalah putih.

Harusnya mereka membedakan antara fast food dengan junk food. Fast food alias makanan cepat saji seperti burger, ayam goreng, kentang goreng, dan semacamnya itu, bagiku tidaklah selalu junk food. Dan demikian pula sebaliknya. Tak selamanya makanan yang dimasak lama, sebut saja slow food sebagai lawan dari fast food (hehehe) itu sehat.

Ketika menyebut fast food, mereka sih memberi contohnya ya McD atau KFC, para remaja itu selalu mengatakan makanan tersebut sebagai junk food. Lha, bagaimana kalau ternyata fast food itu, katakanlah burger McD atau ayam goreng di KFC, juga menggunakan makanan sehat seperti beras organik? Masak sih kita akan bersikukuh itu sebagai makanan sampah alias junk food.

Seminggu lalu, aku liputan ke Solo dan Boyolali tentang masalah ini. KFC di Jawa, termasuk Solo, kini gencar menggunakan beras organik. Ratusan petani organik di Boyolali pun senang bukan kepalang karena beras organik mereka jadi ada pembeli pastinya.

Selama ini, beras organik mereka hanya dibeli konsumen rumahan atau kalangan tertentu seperti orang LSM atau orang kaya. Kini tidak lagi. Beras organik produksi petani Boyolali pun bisa laris manis dijual di KFC di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Solo, Surabaya, dan kota lainnya.

Lalu, bandingkan dengan makanan tradisional, katakanlah tempe dan tahu. Pasti kita akan langsung bilang itu lebih sehat dibanding burger. Tunggu dulu. Tahu dan tempe itu jangan-jangan menggunakan bahan baku kedelai transgenik impor dari Amerika Serikat. Bukankah lebih tidak bagus lagi. Sudah pasti berbahan pengawet. Sudah pasti dampak ekologisnya lebih bahaya.

Begitu juga dengan makanan tradisional lain, misalnya ayam betutu atau serombotan. Bagi bule, makanan seperti ini justru yang bikin mereka sakit perut. Lha kalau begitu, masak sih kita tetep akan ngotot makanan tradisional lebih sehat dibanding fast food.

Menurutku, sudah tak zaman lagi kalau melihat sesuatu secara diametral, hitam putih, positif negatif, laki-laki perempuan, dan seterusnya. Demikian pula dalam urusan makanan seperti fast food dan pangan tradisional atau pangan organik. Jadi ya tak semua fast food itu buruk. Tak sedikit fast food yang lebih sehat. Burger sayur organik atau nasi organik di KFC itu tadi hanya salah satu contoh.

“Ini zaman abu-abu. Bukan lagi hitam putih,” pikirku melanjutka menikmati sejuknya udara dingin Planet Hollywood. Tangan kananku menyantap pizza. Tangan kiriku memegang buku Radikal itu Menjual. Begitulah..

3 Comments
  • imadewira
    June 21, 2010

    berarti “hukum relativitas” berlaku disini, hehe

    ReplyReply

    [Reply]

  • agus lenyot
    June 23, 2010

    betul betul betul..
    selama ini segala sesuatu yang berbau fastfood selalu diidentikkan dengan makanan sampah, mungkin ini karena makanan cepat saji merupakan franchise amerika. dan amerika, bagi pada penuduh itu, adalah musuh. jadilah dia identik…

    ReplyReply

    [Reply]

  • rahma
    July 7, 2010

    humm.. mungkin udah saatnya berubah pikiran kali ya…

    dulu disebut fast food krna emang cepet dalam penyajiannya..
    disebut junk food krna ngliat pola makan yang buruk dari warga sono dan berakibat obesitas.. bukan begitu ya?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *