Emak, Generasi Terakhir Penjual Garam

4 , , Permalink 0

Asin garam adalah air susu dalam bentuk yang lain bagiku. Oleh asin garam aku dibesarkan, disekolahkan, dikuliahkan, diajarkan tentang bagaimana hidup. Bukan hanya untukku, asin garam itu pula sumber penghidupan bagi tujuh saudaraku. Bahkan sejak belum lahir, kami semua sudah akrab oleh asinnya.

Emak kami yang mengalirkan asin itu ke keseharian kami. Dia pembuat garam olahan. Dari butir-butir kristal kecoklatan bercampur tanah hasil bertani di tambak, garam itu dilarutkan di atas persegi empat dari seng sebagai tempat mengolah. Malam-malam kami selalu diisi dengan gemertak kayu bakar untuk mendidihkan garam tersebut.

Endapan garam dari air yang mendidih itu diambil, dipindahkan ke kukusan sehingga kadar airnya makin berkurang. Butiran garam itu ringan tanpa air dan putih tanpa sisa tanah. Lalu garam olahan dijual di pasar-pasar. Dari garam itulah kami hidup, meski berhimpitan dengan kekurangan. Selain asin, pahit memang sisi yang akrab dalam hidup kami kala itu.

Maka, tiap kali Lebaran, termasuk tahun ini, kami selau mencium asin garam pada tangan emak yang makin mengerut. Membaui semua yang pernah membesarkan kami. Mengucap maaf meski tanpa memintanya emak selalu memberikan pada kami.

Asin garam di kampung halaman, bagiku, sekaligus mesin waktu untuk mengembalikanku pada 20an tahun lalu. Ketika aku ikut memanen garam di bawah terik matahari demi satu dua ratus rupiah yang pada masa itu sangat berarti. Ketika aku bersama emak menyusuri jalan ke Sedayulawas, desa sebelah tempatku sekolah dan tempat emak menjual garam. Ketika, ah, sudahlah. Terlalu banyak kalau disebut satu per satu.

Mencorek, desa di mana aku lahir dan besar sampai umur 18 tahun sebelum tinggal di Bali, adalah satu-satunya desa penghasil garam olahan khas itu. Tak hanya emak, seitar 15 ibu lain di desa itu adalah pengolah dan penjual garam olahan itu. Mereka menjualnya ke desa lain di sekitarnya.

Tapi aku yakin berapa tahun lagi kisah penjual garam hanya akan jadi masa lalu di desaku. Kini, tak ada lagi generasi lebih muda yang melanjutkan pekerjaan ini. Tak ada lagi penerus emak dan penjual garam seangkatannya. Mereka, sepertinya akan jadi generasi terakhir penjual garam itu.

4 Comments
  • didut
    October 24, 2008

    dan nantipun org akan bingung ketika garam tiada

    ReplyReply

    [Reply]

  • tumik
    October 24, 2008

    Menyentuh nurani yang terdalam. air mataku berloncatan. Asin juga ternyata..

    ReplyReply

    [Reply]

  • dewi
    December 11, 2008

    Mungkin ini adalah salah satu cerita dari sekian banyak cerita di negeri kita…Saya berfikir perubahan akan selalu datang..bagaimana kita membuat perubahan bukan cerita sedih tetapi awal dari suatu cerita kesuksesan…anak2 muda dengan tingkat pendidikan tinggi banyak sekali di negeri ini..Saya membayangkan bagaimana kalau setelah wisuda kita tidak sibuk mencari2 pekerjaan melainkan melihat apa yang bisa Saya kerjakan…membuat mesin pembuat garam? dipatenkan? difabrikasi?
    Ini mungkin hanya satu pemikiran dari sekian banyak pemikiran lain di bumi tercinta ini…

    ReplyReply

    [Reply]

  • Kak Ing
    May 30, 2009

    Ceritamu nyeleneh dik, tapi miris dan menyentuh juga ! Setelah di rantau baru terasa betapa kampung kita penuh citarasa; pahit … getir … bahkan asin ! bahkan kak Ing di 70-an biasa “boran” tengah malam demi si asin itu. Tapi ya sudahlah, itu sebuah proses yang mengantarkan kita bisa seperti sekarang … ! salam dan salut dari : Pontianak … megilan aku !

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *