Di Negeri Ini Kekayaan adalah Kutukan

4 , Permalink 0

Kejadian sekitar empat tahun lalu itu mendadak muncul di ingatan.

Waktu itu aku menemani seorang teman dari Belanda yang datang ke Bali. Kami berkunjung ke salah satu petani organik di Tabanan. Ketika melihat salah satu pohon kakao, teman itu berseru, “Wow, akhirnya aku melihat pohon coklat juga.”

Hal serupa juga terjadi ketika aku menemani seorang teman dari Belgia untuk dokumentasi program di Flores. Untuk pertama kali, bule ini melihat pohon kopi dan kakao, dua komoditas yang sudah dia kenal lama dalam bentuk makanan jadi, kopi bubuk dan coklat.

Kejadian lucu juga terjadi sekitar dua tahun lalu. Tiga cewek ABG dari Belgia girang bukan kepalang ketika akhirnya mereka melihat pohon pisang. Seperti juga dua teman lainnya, tiga cewek ini tumben melihat pohon pisang meskipun hampir tiap hari mereka makan buah ini di negaranya.

Lalu, semua kejadian itu muncul kembali di kepala setelah aku melewati kembali jalanan Flores dari Ende, Mbay, Bajawa, lalu kembali ke Ende ketika ke sana minggu lalu. Nyaris sepanjang jalan itu aneka rupa tanaman tumbuh subur sepanjang jalan: kakao, kopi, pisang, padi, dan aneka tanaman yang bagi orang-orang di negara empat musim adalah kemewahan.

Lihatlah, misalnya, di sepanjang jalan Trans-Flores antara Bajawa dan Mbay. Kopi dan kakao sedang berbuah ketika aku melewati jalanan tersebut pekan lalu. Coklat dengan buahnya yang memerah kekuningan. Juga kopi ranum merah kecoklatan. Buah-buah itu sangat menggoda.

Flores hanya salah satu contoh betapa kayanya Indonesia. Negeri ini tempat di mana hampir semua komoditas penting dunia bisa tumbuh subur. Tak hanya kopi dan kakao tapi juga kelapa sawit, tebu, dan seterusnya. Masih banyak lagi kekayaan negeri ini yang belum tentu ada di negara-negara kaya, sinar matahari berlimpah, air laut tak terhingga, dan seterusnya.

Namun, semua kekayaan itu serasa jadi kutukan.

Saking kayanya, kita semua kemudian terlena. Merasa tak usah bekerja keras karena kita bisa memetik pisang di samping rumah kita kapan saja. Tak usah ngoyo, cukuplah nrimo, karena padi tumbuh subur sepanjang tahun. Namun, tiba-tiba kita seperti kekurangan di tengah kemakmuran. Kita kemudian ibarat ayam mati di lumbung, tenggelam oleh kekayaan sendiri.

Maka, kita hanya menjadi pengirim bahan mentah kakao ke Belgia dan Swiss sementara dua negara itu jadi negara penghasil coklat terbesar di dunia. Padahal, kitalah negara penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia.

Begitu pula kopi. Nyaris di setiap pulau negeri ini punya kopi khusus: Sumatera, Jawa, Bali, Flores, Sulawesi. Namun, kopi yang terkenal di negeri ini justru bermerk asing, Nescafe dan Starbuck hanya dua di antaranya.

Begitu pula dengan ironi lain. Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Ironisnya, kita justru impor garam dan ikan. Kita impor garam sementara petani garam tradisional dibiarkan mati pelan-pelan. Kita impor ikan sementara kapal-kapal asing yang merampok kekayaan laut kita dibiarkan.

Negeri ini salah urus karena pemimpinnya tidak becus. Kekayaan negeri ini tak dikelola dengan baik dan dibiarkan dijarah negara asing. Lalu, kita semua justru membelinya dari mereka dengan harga berlipat ganda.

4 Comments
  • imadewira
    August 27, 2012

    Wow!

    *terbangun dari tidur

    **lalu tertidur kembali

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agus Lenyot
    September 1, 2012

    endingnya serius 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agung Pushandaka
    September 3, 2012

    Kekayaan tanah air justru jadi kelemahan negeri ini untuk maju. Perpaduan antara rakyat yg malas dan pemerintah yg ndak becus, membuat negeri ini malah jadi miskin karena hartanya yg berlimpah. Mungkin memang benar olok2an bangsa lain, Tuhan memberikan kekayaan berlimpah bagi bangsa ini karena Dia tau, bangsa ini adalah bangsa yg malas.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Hendra W Saputro
    October 10, 2012

    Kalau aku merasa, kita ini terlalu menyamankan diri. Padahal zona yang benar-benar nyaman itu sejatinya belum ada.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *