Di Dunia Maya, Kita Bisa Berjaya. Nyatanya?

1 , , , Permalink 0

Bulu kudukku merinding disko ketika melihat Eric Schmidt.

Tentu saja ini lebay. Tapi, begitulah adanya. Rasanya amat excited ketika melihat Pemimpin Eksekutif Google itu hadir di ruang pertemuan Grand Hyatt, Nusa Dua pekan lalu.

Di depan sekitar 400 peserta Regional Entrepreunership Summit (RES), Eric menyampaikan pidatonya tentang kekuatan baru bernama internet. Selama sekitar 30 menit, Eric juga menekankan tentang betapa besarnya peluang Indonesia bisa berjaya di dunia maya.

Yoi. Besarnya peluang Indonesia untuk jadi salah satu kekuatan baru di dunia internet itu memang sudah sering disampaikan banyak orang. Tapi, menurutku, kali ini lebih kuat lagi karena disampaikan oleh pemimpin Google, salah satu dari lima perusahaan online terbesar di dunia saat ini.

Optimisme Eric ini berdasar juga. Menurut Internet World Stats hingga Juli 2011 ini, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 39,6 juta, terbanyak keempat di Asia setelah China, India, dan Jepang. Dia paling tinggi di antara negara-negara lain di kawasan ASEAN.

Dalam hal pengguna jejaring sosial, negara dengan penduduk sekitar 245 juta jiwa ini lebih tinggi dibanding negara lain di dunia, seperti China, Jepang, dan Inggris. Pengguna Facebook di Indonesia saat ini sekitar 39,2 juta dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pengguna Facebook terbesar kedua setelah Amerika Serikat.

Semakin tinggi, jumlah pengguna internet maka akan semakin berdampak pada peningkatan ekonomi dan keuntungan di negeri ini. Contohnya, semakin banyak usaha-usaha baru yang berbasis internet (start up) di Indonesia. Kalau ikut kegiatan kawan-kawan di Start Up Bali alias Subali, aku pun bawaannya takjub melihat ide-ide baru anak muda ini.

Dengan jumlah sumber daya manusia berlimpah, mimpi bahwa Indonesia akan lebih digdaya di dunia maya tidaklah mustahal. Tinggal, ide-ide anak muda ini juga didukung tak hanya oleh pemerintah tapi juga oleh sumber modal seperti bank.

Cuma, ah, opitmisme itu langsung membentur tembok kalau sudah mikir soal dukungan dari pemerintah. Daripada mendukung, pemerintah lebih sering melihat kekuatan baru ini sebagaiĀ  masalah. Jadi, yah, sudahlah. Sakit hati kalau ngomongin soal ini. Mending mari bekerja lagi.

No related content found.

1 Comment
  • imadewira
    September 22, 2011

    namanya juga pemerintah.. *sigh

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *