Cermin Buruknya Pelayanan Publik

19 , , Permalink 0

Pesawat Batavia

Akhir Oktober lalu, aku harusnya pergi ke Sumba, Nusa Tenggara Timur untuk liputan tentang pelayanan publik terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. Liputan tersebut untuk majalah ACCESS, yang diterbitkan Sloka Institute untuk media informasi program ACCESS Tahap II.

Namun dua hari menjelang keberangkatan, aku ditelpon perusahaan penerbangan Trans Nusa, satu dari dua maskapai yang melayani penerbangan ke Sumba. Si mbak menelpon bilang kalau penerbangan ke Sumba dibatalkan karena alasan operasional. Tidak jelas masalah operasional itu seperti apa.

Maka batallah aku berangkat ke Sumba, pulau yang belum pernah aku kunjungi itu. Padahal aku sudah menyusun jadwal, kontak narasumber, dan urusan tetek bengek lainnya untuk liputan selama lima hari tersebut.

Martha, teman di ACCESS Sumba, kemudian berseloroh. “Itulah cermin buruknya pelayanan publik di negeri ini,” katanya menanggapi permintaan maafku karena kebatalan tersebut.

Lalu, hari ini, aku kembali berencana ke Timor Tengah Utara (TTU) di NTT juga. Agendanya untuk liputan tentang organisasi petani kacang tanah di tempat tersebut. Ini liputan untuk tempat kerja paruh waktu, VECO Indonesia.

Namun, lagi-lagi aku mendapat masalah terkait transportasi udara. Kali ini penundaan. Menurut rencana, aku akan naik Garuda pukul 11.25 Wita dan tiba di Kupang pukul 13.05 Wita. Aku pun sudah pesan mobil untuk perjalanan dari Kupang ke TTU yang perlu waktu sekitar 4 jam.

Pagi ini setelah agak terlambat, aku pun check in di konter Garuda. Eh, pas check in, petugas sudah bilang, “Pesawatnya delay sampe jam 2.40. Boarding 20 menit sebelumnya.”

Aduh, mundur dah jadwalku.

Sambil menunggu keberangkatan, aku ngobrol dengan beberapa penumpang di ruang merokok. Ternyata ada kabar lebih mengenaskan. Pesawat Batavia jurusan Kupang terbakar sayapnya pas mau take off. Pesawat dari Surabaya itu seharusnya mendarat di Kupang kemarin malam. Namun pesawat batal mendarat karena di Bandar El Tari Kupang ada pesawat Merpati yang tergelincir.

Karena terbakar sayapnya itu, meski pihak Batavia sudah membantah lewat Kompas.com, pesawat pun batal berangkat.

Cerita yang sama juga terjadi pada maskapai Merpati. Penerbangan ke Kupang hari ini pun batal. Tinggal aku menunggu kepastian Garuda jadi berangkat apa tidak.

Sambil menunggu kepastian, aku membuat tulisan ini. Di tengah asik ngetik, petugas menyiarkan pengumuman sekitar pukul 14.30 Wita. “Pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 438 jurusan Kupang dibatalkan,” katanya. Tidak ada penjelasan kenapa batal.

Dan, aku, tak punya pilihan lain selain menerima. Inilah cermin buruknya pelayanan publik sekaligus lemahnya posisi konsumen di negeri ini. Mengenaskan..

19 Comments
  • bowo
    December 3, 2009

    walah mas transportasi di negara ini kan gak cuma pesawat teblang, jadi rasanya gak adil klo ngambil kesimpulan cuman dari situ aja, eh tapi sepur juga sering masalah ding, ah mbuh ndak tau… saya ndak pernah naek pesawat soalnya 😀

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ya sih, wok. tp fokusku di tulisan ini soal pesawat udara. tp yg lain toh tak jauh beda. lihat saja angkot di denpasar. ancur toh..

    ReplyReply

    [Reply]

  • asn
    December 3, 2009

    kalo versi tuyul dan mbak yul, blg nya gini: gagal maneh gagal maneh soonnn.. 😀 turut prihatin pak, tp tetep semngat!

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    tetep teler, om! 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    December 3, 2009

    udah mas, gelar tikar, bikin poster, demo deh di sana… hehehe…

    ReplyReply

    [Reply]

    fps Reply:

    kamu banget si surrr.. 😀
    ajukan pengaduan ga bs? kelemahan pelayanan ublik memang sangat terlihat saat kita berada didaerah2 tak terjangkau.. 🙁
    yah ga dapat oleh2 dari sana dehhhh

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    tukeran oleh2 yuk. kamu kan mudik toh?

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    wahaha. aku nunggu komandomu saja. gimana kalo pas 091209. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Joddie
    December 3, 2009

    yup.. setuju bang.. harus ada efektifitas dan efisiensi yang lebih di kalangan public service kita ini..

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    yes. apalagi di kalangan PNS. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    December 4, 2009

    konsumen dan orang kecil seperti kita hanya bisa pasrah… mau komplain? nggak ada gunanya 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    jadi nulis di blog saja. 😉

    ReplyReply

    [Reply]

  • gek mirah
    December 4, 2009

    …syukuri apa yang ada… “d’masiv”

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    maksudnya, “syukurin!!” gitu? :((

    ReplyReply

    [Reply]

  • Cara Membuat Website
    December 4, 2009

    hal2 seperti ini sudah jelas menjengkelkan. tapi jika alasannya karena kendala cuaca atau ada kerusakan mesin, biasanya saya cukup bisa menerima. Hal ini karena sudah terlalu sering mendengar kecelakaan.

    Cara Membuat Web

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ya sih. asal jelas saja informasinya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • pushandaka
    December 5, 2009

    Ambil sisi positifnya saja, ton..

    Masih mending batalnya pas kamu masih di Denpasar. Coba kalau yang batal adalah pesawatmu menuju Denpasar. Apa ndak lebih uring-uringan lagi?? Hehe!!

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ya, gung. ada sisi positifnya juga. aku dikasih nginep di sanur beach hotel. hehe. besok deh aku posting soal ini.

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    December 18, 2009

    Yo Wis Om… beli esawat sendiri saja, biar gak pake delay… ntar kalo dah jalan, kabari aku ya, mau ikutan numpang. hehehe…

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *