Catatan Pelayanan Rumah Sakit Medika Tuban

2 , , Permalink 0

Bukannya menjawab, perawat itu malah nyolot.

Lha itu kan memang obat yang harus diminum sama ibunya,” jawabnya dengan nada tinggi. Tak ada senyum di wajahnya sama sekali. Sebaliknya malah. Mrengut seperti marah.

“Kenapa harus minum obat ini? Bukannya tadi dokter bilang ibu saya baik-baik saja?” tanyaku.

“Bapak kan lihat sendiri. Itu gula darahnya tinggi sekali. Jadi ya harus minum obat,” katanya lagi. Tetap judes. Tak ramah sekali.

Begitulah kelakuan salah satu perawat di rumah sakit Medika Mulia Tuban ketika aku tanya tentang obat. Ibuku sedang dirawat di rumah sakit tersebut karena infeksi saluran kencing. Aku mendampingi di sana sejak hari kedua hingga hari terakhir dirawat, hari keempat.

Ketika memeriksa ibu, dokter bilang dia baik-baik saja. Maksudnya, memang ibu kena infeksi saluran kencing dan sebaiknya opname, tapi hasil cek darah menunjukkan hasil bagus. Tidak ada kolesterol atau asam urat melebihi batas. Tapi, gula darahnya tinggi.

Karena itu, ketika sekitar 15 menit kemudian perawat memberikan resep dengan tulisan tidak jelas ala dokter Indonesia, maka aku bertanya. “Obat apa ini, Mbak? Kenapa harus minum?”

Eh, si perawat bukannya jawab baik-baik, dia malah terkesan marah. Dia tak menjawab dengan jelas. Aku yang terpancing marah jadi malas bertanya lagi.

Padahal jelas-jelas di dinding ruang perawatan tersebut ada poster tentang Hak-hak Pasien. Termasuk di dalamnya adalah hak atas informasi dan mendapat pelayanan bermutu.

Aku pikir kelakuan tak ramah dari perawat ya cuma sekali. Ternyata esok paginya terulang lagi. Kali ini oleh perawat lain, cowok agak gemulai berumur 20an. Aku tanya soal obat infus apa yang diberikan untuk ibu kami. Seperti juga si mbak perawat sebelumnya, perawat yang ini pun tak jelas jawabannya.

Padahal apa sih susahnya kasih tahu, misalnya, “Oh, ini obat anu. Dipakai biar anu. Dosisnya sekian anu. Harganya kira-kira seanu..” Pasien tentu lebih tenang. Tahu apa yang sedang dilakukan perawat tersebut.

Sengak
Dua perawat tersebut menjadi catatan buruk pelayanan di RS Medika Mulia. Padahal, secara umum, dokter dan para perawat di sini baik-baik. Dokter yang sekaligus Direktur RS, mau menjawab semua yang kami tanyakan ketika memeriksa ibu. Omongannya juga lembut menenangkan. Menyenangkan bagi orang yang sedang sakit ataupun yang menunggu.

Perawat-perawat lain, di luar dua orang tadi, juga baik-baik. Ketika memeriksa tekanan darah atau mengganti infus, misalnya, mereka ramah. Salah satunya yang sempat aku foto ini. Dia senyum dan ngajak ngobrol. Sekali lagi, untuk orang yang sakit ataupun penunggunya, keramahan ini penting.

Menunggu orang sakit itu kan tidak enak. Apalagi kalau mendapat sikap sengak dari orang yang kita bayar untuk melayani.

Jadi, semoga RS Medika Tuban bisa mengingatkan semua stafnya agar lebih bisa menghargai pasien dan keluarganya.

Oh ya, satu lagi. Soal rokok. Ini juga parah. Selama tiga hari menunggu ibu sakit di sana, hampir tiap jam aku melihat orang merokok di depan ruang inap pasien. Dengan cueknya para pengunjung ini mengisap dan mengembuskan asap seenaknya. Padahal ya mereka duduk di beranda depan ruang inap.

Aku tanya ke perawat. Kenapa orang-orang tersebut dibebaskan merokok di depan ruang inap? Padahal rumah sakit seharusnya bebas dari asap rokok. Dia bilang, sudah ada petugas keamanan yang sering kasih peringatan pada perokok tersebut. Tapi, selama di sana, aku sendiri tak pernah melihatnya.

Aku baru lihat Satpam memperingatkan salah satu perokok itu ketika bayar di apotek untuk menebus obat. “Susah, Mas. Mereka rata-rata orang kampung yang tidak bisa dikasih tahu. Takutnya malah salah paham,” jawab si Satpam ketika aku tanya kenapa masih banyak yang merokok di sana.

Jawaban yang tak pas, sih. Malah agak merendahkan orang kampung. Harusnya dia lebih tegas dan jelas kepada para perokok tersebut. Silakan mereka merokok sepuasnya, tapi jangan di dalam rumah sakit apalagi di depan ruang inap. Bukannya membantu menyembuhkan, para perokok ini justru menyebar penyebab penyakit.

Kalau pelanggaran “kecil” dibiarkan, lama-lama ya jadi kebiasaan.

Catatan: foto di atas adalah pelayanan di RS Media Mulia oleh perawat yang ramah. Si Mbak ini malah asyik karena ngobrol. Kalau si Mbak Judes itu ga sempat motret.

2 Comments
  • Chip Sakti
    April 26, 2013

    Kalo menurut saya, di Tuban yang pelayanannya lebih baik adalah RS Muhammadiyah. Sayang lahannya sempit. Jadi, hanya mampu menampung sedikit pasien..

    ReplyReply

    [Reply]

  • muhammad subandi
    May 24, 2013

    Memang perawat di RS Medika Tuban kurang ramah….hampir di semua ruang Cempaka atau Anyelir muka mereka tidak nyaman…

    Mohon Dirut RS tersebut bisa memberikian pengarahan yg lebih baik…..pengembalian obat yg tidak terpakai tidak jelas perhitungannya.
    Kami siap bertemu dengan bpk. Dirut untuk melaporkan hal2 yg tidak enak sewaktu kami opname di RS tersebut.

    Untuk menghubungi kami bisa via Hp 0813.1616.3389 , kami siap memaparkan dan memberikan solousi terbaik demi kemajuan RS Medika Tuban dimasa yg akan datang.

    Salam

    h.m. subandi

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *