Bisakah Mewujudkan Independensi Pers Mahasiswa?

2 , , Permalink 0

Tulisan ini diolah lagi dari emailku pada salah satu penggiat pers mahasiswa (Persma) di Malang.

Melalui email, dia bertanya kepadaku tentang beberapa hal terkait persma. Misalnya tentang profesionalisme persma, netralitas, juga new media. Jawabanku ini lebih banyak berdasarkan pengalaman ketika aktif di persma Akademika (1998-2002) plus selama jadi wartawan sejak 2001 lalu.

1. Terkait profesionalitas. Bagaimana caranya agar anggota seluruh persma mau berpartisipasi?

Sumber daya manusia adalah masalah klasik di persma. Salah satu penyebab karena cepatnya regenerasi dan pergantian pengelola persma. Pergantian ini rata-rata setahun atau maksimal 2 tahun sekali.

Karena itu, menurutku, susah mengharapkan militansi dan dedikasi dari SEMUA anggota dalam waktu singkat tersebut. Ketika jadi pemred Akademika di Universitas Udayana Bali, aku memilih bekerja dengan sedikit orang yg bisa diajak kerjasama dibanding dengan semua anggota.

Ini bukan pilihan ideal. Tapi setidaknya kita lebih bisa mengontrol ritme kerja, termasuk menepati tenggat dan rencana penerbitan.

Ambil dan ajaklah tim kecil utk bekerja di redaksi. Mereka tim inti yang bertanggung jawab pada penerbitan, mulai dari perencanaan, peliputan, penulisan, penyuntingan, hingga tata letak dan evaluasi.

Anggota di luar tim inti ini sebagai pelengkap saja. Kalau mereka bekerja, ya bagus. Kalau tidak, ya tak apa. Setidaknya ada tim inti yang bekerja. Aku lebih memilih kerja nyata dan selesai daripada yang ideal tapi tidak kelar-kelar.

2. Masalah netralitas dan independensi agar pers mahasiswa sesuai koridor, netral, independen, dan berimbang. Ada saran?

Netralitas dan keberimbangan media itu omong kosong. Kalau independen harus.

Tiap media sudah tidak netral sejak lahirnya. Mereka pasti lahir utk kepentingan siapa yang melahirkan. Bisa saja kelompok agama, perjuangan bangsa, organisasi masyarakat, dan seterusnya.

Tiap media pasti punya politik media masing-masing. Kompas jelas beda dengan Republika. Atau yang paling vulgar adalah TVOne vs Metro TV. Mereka tak hanya berbeda tapi juga kadang saling serang.

Menurutku, persma juga pasti begitu. Dia tidak dilahirkan untuk menjadi media banci yang berlindung di balik objektivitas, netralitas, dan tetek bengek teori yang kita pelajari saat baru mengenal jurnalisme.

Saranku, gunakan persma untuk bersikap. Cukuplah kita tahu bahwa menulis berita itu harus cover both side dan semacamnya. Tapi itu untuk media arus utama, bukan untuk persma. Persma, menurutku, tak hanya untuk belajar tentang profesionalisme sebagai jurnalis tapi juga melatih daya kritis.

Tapi persma harus tetap independen. Dia harus menulis dan bersikap karena pilihannya sendiri bukan karena tekanan lembaga lain, termasuk organisasi mahasiswa ekstra kampus (OMEK). Untuk itu, kadang kita harus “menjaga jarak” dengan OMEK-OMEK tersebut. Kita harus berteman akrab sebagai sesama penggiat mahasiswa, tapi tidak dalam pemilihan tema, angle, bahkan kata ketika menulis.

Konsekuensinya, “bersihkan” persma dari OMEK. Kalau anak-anak gerakan sih mending. Tapi kalau OMEK semacam Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), dan semacamnya jelas membahayakan untuk media. Mereka terlalu partisan.

Kalau ada pengurus OMEK yang juga aktif di redaksi, sebaiknya dia tak usah menulis. Itu kan juga diterapkan media arus utama ketika wartawannya aktif di partai politik (parpol). Kita bisa menerapkannya di persma.

3. Cara lain untuk membekali anggota persma agar bisa menulis mendalam dan diskusi?

Diskusi bisa jadi metode tepat untuk menganalisis sebuah masalah dengan agak mendalam. Hal ini aku terapkan ketika di persma. Kami punya diskusi tematis untuk mendukung tema utama media kami. Diskusi ini sangat membantu kami memahami dan memetakan apa yang ingin kami tulis. Dia juga menambah perspektif.

Biar tidak monoton, diskusinya adakan juga di tempat berbeda, bukan hanya di kantor redaksi. Sebagai contoh kalau nulis tentang perlukah penjara sebagai hukuman, pasti menarik kalau diskusinya di penjara. Sekalian liputan kan?

Cara lain dengan upgrade anggota. Kasih pelatihan berjenjang atau berkala. Ini dalam skala kecil saja. Misalnya, penyuntingan, fotografi, bahasa, menulis kelompok terpinggirkan, dan lain-lain. Buat dalam suasana menyenangkan. Reportase sambil jalan bersama pasti asik jadi pilihan.  Jadi, sambil jalan-jalan sekaligus belajar melakukan liputan.

2 Comments
  • Tumik
    August 25, 2011

    koyoke aku kenal sing takon iku :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • agus widiantara
    September 1, 2011

    sip, ini penyakit persma dikmapusku ,bisa sebagai refrensi 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *