Biar Kere Asal Bebas

24 No tags Permalink 0
Ketika kami lagi berbaring sambil baca koran, istriku menceritakan keinginannya untuk bekerja tetap di salah satu media yang akan segera terbit di Bali. Koran punya grup Media Citra Nusantara itu katanya akan terbit Januari nanti. Beberapa temanku di sana. Salah satunya yang kemudian ngobrol sama Lode, istriku, untuk kerja di sana saja.

Hmm, ini masalah yang sudah berkali-kali kami diskusikan. Aku juga kadang-kadang iri melihat teman kerja terikat. Sepertinya enak dengan rutinitas berangkat pagi, kerja sepanjang hari, dan pulang ketika petang. Lalu tiap akhir atau awal bulan kita dapat gaji atas pekerjaan tersebut. Besar kecilnya relatif. Yang jelas kita dapat pendapatan tetap. Dan, inilah yang dicari istriku.

“Aku juga pengen berkarir. Mulai dari nol. Kalau orang lain bisa, masak aku gak bisa.”

Dua hal itu, gaji tetap dan karir, memang selalu jadi alasan seseorang untuk bekerja terikat. Tambahannya sih kadang macem-macem. Bisa jadi karena gengsi sama tetangga atau tidak enak sama mertua. Hehehe.. Tapi kalau dipikir-pikir, dua alasan itu tidak benar-benar amat.

Memang benar kerja lepas tidak akan mendapatkan gaji tetap. Tapi gaji itu pun tidak gede-gede amat. Seingetku, menurut survei yang pernah dilakukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, gaji wartawan di Indonesia tuh rata-rata di bawah standar. Contoh saja di Bali. Gaji wartawan baru paling banyak Rp 1,5 juta per bulan. Wah, ini sudah angka yang besar. Ada yang malah mentok hanya untuk memenuhi standar upah, sekitar Rp 700 ribu per bulan.

Jadi lebih penting mana dapat gaji tetap atau pendapatan lebih besar? Ini sih kalau yang jadi alasan memang duit. Kerja lepas, seperti halnya jadi wartawan freelance, bukan berarti tidak bisa mendapatkan duit lebih gede dibanding kerja tetap. Ya, asal rajin liputan dan nulis serta punya banyak jaringan media, menurutku, soal honor pasti beres.

Lalu soal karir, memang apa sih karir tertinggi di media? Redaktur? Pemred? Berapa orang sih yang bisa mencapai posisi ini? Bukan karena ketidakmampuan si wartawan tapi juga karena posisi ini memang sedikit. Tidak mungkin ada pemred dua orang. Atau katakanlah sudah jadi pemred, memangnya akan berapa lama? Kecuali kita yang punya media sendiri, pasti akan susah untuk bisa jadi pemred semaunya kita. Contoh yang pernah sih Goenawan Mohamad di Tempo dan Dahlan Iskan di Jawa Pos. Di Bali, ah sudahlah, tidak usah diteruskan. Hehehe..

Jadi kalau alasannya memang gaji tetap dan karir, menurutku jadi wartawan terikat bukan hal yang terlalu menarik. Hanya ada satu alasan yang membuatku paling iri dengan teman-teman yang bekerja tetap di media: kebebasan untuk menulis. Ya karena mereka bisa menulis banyak hal di medianya. Relatif lebih mudahlah untuk menulis tentang isu tertentu di media dibanding wartawan lepas. Kalau wartawan lepas kan kadang-kadang sudah capek liputan, nulis berita, lalu kirim ke media, eh, tidak dimuat. Ketik C Spasi O jadinya: capek bo..

Di luar itu semua, ada satu hal yang paling tidak mungkin bisa dinilai dengan gaji berapa pun dan karir setinggi apa pun: kebebasan.

Dari sudut pandang kebebasan, kerja tetap itu tidak enak. Kita terikat oleh waktu, aturan, dan tetek bengek lain. Pukul 8 masuk untuk proyeksi, habis itu keluar liputan ke banyak tempat, balik ke kantor nulis berita, malam evaluasi. Kadang harus nunggu redaktur dan editor mengedit berita. Belum lagi harus siap kapan pun kalau ada peristiwa gawat. Hari libur pun jadi sangat mahal.

Makanya, Bunda. Tidak usahlah bekerja tetap. Mari kita nikmati saja kebebasan yang kita miliki saat ini. Toh, meski tidak sampai bisa beli mobil, apa yang kita dapat saat ini lebih dari cukup. Kita bisa lebih sering main sama Bani, keluar sama Bani, makan sama Bani, ngenet bareng Bani. Bunda, marilah kita bangga dengan apa yang kita punya: meski kere asal bebas.

Oya, selamat hari ibu. Mmmuah!

24 Comments
  • Made
    December 22, 2007

    saya lebih prefer yang bebas2 aja dulu bang anton, toh juga survived malah lebih dari yang tetap. dan kreativitas jalan. nanti kapan2 kita bikin media sendiri saja, bang anton langsung jadi pemred… (boleh dong berhayal hehehehe 😉

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    December 22, 2007

    postingannya di baca bunda gak? hihi~

    ReplyReply

    [Reply]

  • sherly
    December 22, 2007

    memang enakan kerja sendiri, lbh bebas n ga terikat… hehehe

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    December 23, 2007

    @ made: mantap, bli. kita bikin koran belog post. bli made jd investor. aku jd provokator. 😀

    @ didut: bukan dibaca lagi. dia yg bikin posting ini. hihi juga..

    @ sherly: apalagi kuliahnya dapat beasiswa. wah, lengkap sudah. hehe.. met natal ya.

    ReplyReply

    [Reply]

  • brokencode
    December 23, 2007

    saya juga akan segera bebas. menghirup udara segarnya pengangguran.

    ReplyReply

    [Reply]

  • goyangan
    December 23, 2007

    wah jadi ngiri nih sama para pengangguran yang punya banyak duit 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • baladika
    December 23, 2007

    enak ya jadi pengangguran kaya 😀 mau dong 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • dian
    December 24, 2007

    iya bunda..mending di rumah aja jadi tetep bisa nemenin bani di golden age-nya..itu precious moment lho.. :))

    ReplyReply

    [Reply]

  • wandira
    December 24, 2007

    kweren nih istilahnya ‘biar kere asal bebas ….’, satu yang pasti bli, se-tajir tajir-nya kalo bli nggak sempat mencurahkan kasih sayang sama Bani , tajir itu tak berarti apa apa …

    Coba nanti kalo terikat, baru deh ketahuan rasanya .. ada kalanya kita tidak mesti mendongak keatas terus, atau tidak pula terlalu menunduk …. nanti bisa tersandung …..

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    December 24, 2007

    @ brokencode: nganggur tapi sibuk parkir di mana2. 🙂

    @ goyangan: bukan banyak duit tp banyak nganggur.

    @ baladika: ajarin, dong meraup dollar.

    @ dian: lalu kapan nyusul, jeng?

    @ wandira: kalo melotot terus ke depan ntar dipikir nantang orang yg di depan. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Artana
    December 26, 2007

    Kalau pegawai negeri sudah ada yang ngatur hidupnya, apa-apa dipikirkan pertama kali oleh pemerintah,kenaikan gaji, tunjangan sana-sini dan lain..lain, lalu siapa yang mikir nasib kita-kita ya? orang-orang swasta, pegawai lepas, pramuniaga, buruh,wartawan lepas….(bukan ngiri lho bli)…ya, cuman kena imbas kenaikan gaji pegawai negeri bli…!!!
    Benar juga kata bli Made, ngayal bikin media kayaknya bagus juga dan bli anton jadi pemred…
    (Selamat berkarya…memang benar kebebasan adalah suatau penghasilan bagi kita…)

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    December 26, 2007

    Paling enak itu kalo punya usaha sendiri bli. Mau masuk mau enggak ya terserah kita. hehehe… Kapan ya bisa punya usaha sendiri? mengkhayal mode: ON!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Arie
    December 26, 2007

    “Bunda, marilah kita bangga dengan apa yang kita punya: meski kere asal bebas.”

    Kurang atu nech … ~ dan bahagia ..hahahahahaha

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agung Wardana
    December 26, 2007

    hehehe anton dan loh de punya cita2 pingin beli mobil??? paling dipake 15 tahun trus bensin habis, ga ada yang jual. mending siap-siap pake sepeda kayak aku….kan mau bikin jalur sepeda di kota denpasar…hehehe
    tua-tua masih idealis juga bung anton ini!

    ReplyReply

    [Reply]

  • dani iswara
    December 26, 2007

    selamat berjuang utk kebebasan..

    selamat taun baru..di kantor renon ada acara taun baruan ngga ya.. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    December 27, 2007

    @ artana: wah, menarik juga tuh: kebebasan adalah penghasilan. 🙂

    @ imsuryawan: lha, blog ini kan usaha sendiri. sayangnya ga ada yg mau bayar utk pasang iklan di sini. 🙁

    @ agung: bener, gung. kemarin udah mau beli. eh, gara2 kamu komporin ttg climate change, trus ga jadi. 🙂

    @ dani: selamat jd dokter. 🙂 taun baruan di kampung aja. sepi..

    ReplyReply

    [Reply]

  • ochim
    December 29, 2007

    iya bang,, enakan yg freelance apalagi kl bikin usaha kecil² lan yang sesuai dengan hobby dn bakat kita,, hasil kecil kepuasan terpenuhi broo… itu prinsip ku,,, semakin banyak tantangan semakin senang kita 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    December 29, 2007

    Kayaknya itu relatif, ada juga yang suka terikat.
    Saya sih saat ini menjalani kedua-duanya, biar cepet kaya, hahahaha..

    *kalo semua jadi orang kaya, yg miskin siapa donk?

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    December 29, 2007

    @ wira: wah, itu dia yg perlu ditiru dari pak dosen. soal kaya, santai saja. meski sudah punya banyak mobil dan rumah, masih banyak orang yg merasa miskin. jd tidak usah khawatir jd orang kaya. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • balibuddy
    January 3, 2008

    welcome to the club !!!!!

    ReplyReply

    [Reply]

  • yunitae
    January 4, 2008

    Hee, saya mau jadi penganggurannya, mau jdi bebas juga tapi saya nggak mau jadi kere lagi…capek deh…

    ReplyReply

    [Reply]

  • pande
    May 11, 2008

    dulu sempet pengen jadi wartawan, tapi gak kesampean. sempat ngamar di konsultan yang kerjanya kadang sampe jam 3 pagi baru pulang. terakhir sih mangkal jadi pengabdi. tapi syukurnya masih bisa nge-BLOG. he…

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 28, 2008

    @ ochim: sip, dah bos. true kapan ngantennya? 😀

    @ balibuddy: thx. berapa bayar? 😀

    @ yunitae: waaah, lha kok enak tenan. nganggur tapi tidak mau kere. gimana caranya?

    @ pande: yap, untungnya ada media utk onani seperti blog. jd gagal jd wartawan pun gapapa.

    ReplyReply

    [Reply]

  • dhito achmad
    January 20, 2014

    Lagi googling ttg pekerja media, dan nyangkut ke blog/tulisan menarik ini. Benar, Bang, sebagai freelancer tu lebih nyaman dalam banyak hal spt yg pernah saya alami. Soal duit, itu kan relatif kalo di pikir2. Banyak wartawan yg kerja tetap, toh tingkat penghasilannya tdk beda jauh ama freelancer.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *