Bertemu Jenderal di RSJ Bangli

7 , , Permalink 0

BBC Goes to RSJ

Agak gerimis ketika kami sampai di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli Minggu kemarin. Sekitar pukul 11 pagi. Tapi hari terlihat gelap karena mendung dan gerimis. Aku agak pesimis dengan kegiatan hari itu gara-gara gerimis itu. Biasalah, bawaannya kepikiran. Takut saja sudah capek-capek ngurus persiapan, eh, acaranya jadi berantakan.

Persis pas Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-63, Bali Blogger Community (BBC) bikin bakti sosial BBC Goes to RSJ. Acara Pitulasan ala BBC ini untuk mengenal RSJ lebih dekat juga berbagi dengan pasien RSJ. Kami ingin ada lomba pula dengan pasien di rumah sakit ini.

Tapi, ya itu tadi. Gara-gara gerimis turun pagi itu, aku agak kepikiran. “Mih, bisa buyar nih semua rencana.” But, let it be.. Semoga aku saja yang terlalu kepikiran.

Setelah ketemu dua staf rumah sakit satu-satunya di Bali itu, sekitar 80 anggota BBC termasuk aku itu, segera naik ke lantai dua RSJ. Kami masuk ruang pertemuan untuk berbasa-basi.

Direktur Pelayanan RSJ Bangli Made Sugiharta Yasa menyambut kami dengan senang hati. Sekitar 45 menit kami berdiskusi. Pak Made yang lebih banyak bicara. Aku lihat jam dinding di atas pintu ruangan, Pak Made bicara perkenalan sampai 30 menit. Banyak hal yang disampaikan. Soal sejarah RSJ, jumlah pasien, cara terapi, masalah, dan macem-macem lagi.

Aku baru tahu kemudian, ternyata pada mulanya, RSJ ini adalah tempat mengumpulkan orang-orang yang melawan penjajah pada zaman kolonial. Waktu itu, orang yang banyak omong akan ditahan di sana. “Makanya jangan banyak ngomong biar tidak dimasukkan di sini,” canda Pak Made.

Ah, jangan-jangan sampai sekarang memang begitu adanya. Aku pernah baca tulisan Michael Foucolt, salah satu dedengkot filsuf posmo, kalau sejarah penjara juga berawal dari ketidaksukaan kaum borjuis terhadap kelas pekerja yang suka menentang dan dianggap sebagai sampar. RSJ pun sepertinya tak jauh beda.

Secara tersirat, Pak Made menyatakan hal yang sama. Seringkali mereka hanya menerima pasien dari Tramtib, meski belum tentu orang yang disebut pasien itu sakit jiwa. Biasanya hanya karena orang itu tidak punya identitas, dan bukan berarti sakit jiwa, Tramtib lalu merujuk mereka ke RSJ. “Mereka tidak jelas siapa keluarganya. Bisa jadi hanya orang hilang,” tambahnya.

Maka, usai penyerahan sumbangan kami diperkenalkan pada mereka yang tidak jelas asal usulnya itu. Di salah satu sal laki-laki, kami dipertemukan dengan sekitar 10 pasien laki-laki yang tidak punya keluarga di Bali itu. Rata-rata kurus. Umur mereka, perkiraanku, sebagian besar di atas 40.

Mereka duduk berjejer duduk di kursi kayu. Ditanya lagi satu per satu nama dan asalnya. Hampir semuanya dari luar Bali. Tapi, mereka tidak bisa menjawab apa-apa. Hanya satu dua kata pelan dan tidak jelas keluar dari mulut mereka. Tatapan matanya kosong. Agak takut melihat kami.

Kami, aku dan sekitar 30 anggota BBC yang batangan semua itu, berdiri melihat mereka. Tidak enak juga aku pada posisi itu. Merasa sangat berjarak. Ngobrol juga tidak bisa meski petugas RSJ sudah berusaha membantu.

Maka, aku pilih melihat ke sal lain. Sal pasien RSJ ukurannya sangat besar. Ya, sekitar 20 meter x 6 meter. Ada dua baris tempat tidur kecil, berderet sekitar 10 kasur. Di ruang itu pasien lebih banyak menghabiskan waktu. Sebagian sedang rebahan. Ada pula yang duduk-duduk di pojok ruangan penuh coretan itu.

Dua pasien menyambutku dari balik terali ketika aku mendekat ruangan itu. “Saya mau konfirmasi kalau situ wartawan,” kata salah satu pasien setelah dia menyalamiku. Aku tertawa. Kok dia bisa tahu kalau aku wartawan ya? Aneh juga. Laki-laki dengan jambang tipis di mukanya yang lumayan bersih itu mengaku bernama Gede Jasa, dari Buleleng.

“Saya mau konfirmasi kalau kakek saya itu orang PKI. Saya ini pro Soeharto,” katanya. Dia ngomong nglantur dengan nada teratur. Sekali waktu dia bilang pro Soekarno. Lalu, berubah mengaku pro Soeharto.

“Kok bisa masuk sini?” tanyaku.

“Karena saya ngamuk sehari. Ada yang membisiki saya agar saya ngamuk,” jawabnya.

Dia sangat PD dengan dirinya. Ketika kami kasih beberapa paket odol, sabun, dan sikat gigi dia lalu memanggil teman-temannya. “Sini baris. Yang baju hijau itu Kostrad. Yang baju merah itu Kopassus. Mereka pangkatnya sersan. Kalau saya sudah jenderal,” katanya lalu tertawa.

Kami ngobrol sekitar 30 menit. Beberapa teman BBC juga ikut gabung. Tapi, ah, sayang waktunya terbatas. Kami harus melanjutkan kegiatan hari itu. Cerita soal lomba, besok saja deh. Bersambung saja. Biar kayak cerbung, cerita gak nyambung. Hehehe..

Oya, foto diambil paksa dari blognya Mas Yos.

7 Comments
  • bul gombal gambul
    August 19, 2008

    what a moment!

    ReplyReply

    [Reply]

  • yudi
    August 19, 2008

    yang berlagak pejuang tu gayanya emang gokil abis 😆

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    August 19, 2008

    byk bener anggotanya 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • bowo
    August 19, 2008

    yg saya heran, om anton niy kok kliatan akrab banget yak hm…. ato jangan”????

    /kabur…….

    ReplyReply

    [Reply]

  • dipoetraz
    August 19, 2008

    Jendral Anton… kapan kita kegiatan sosial lagi Jendral??

    ReplyReply

    [Reply]

  • okanegara
    August 20, 2008

    Wah, ini baru jenderal. Kalau dulu pas saya dirawat eh tugas disini ada yang jadi Presiden dan juga titisan Yesus.

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    August 20, 2008

    @ bul gombal gambul: ah, sayang kamu ga ikut, lit. 🙁

    @ yudi: yoih. yg cucunya ki hajar dewantara itu kan?

    @ didut: ah, itu belum semua. *lagak songong. 😀

    @ bowo: ya, ibarat naga bonar ketemu anaknya lah. :p

    @ dipoetraz: tunggu saja kopdar, eh, kopral!

    @ okanegara: untung ga ada yg ngaku dr oka. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *