Berkunjung ke Desa Tua Bena

7 , , Permalink 0

Desa Bena

Awalnya sih aku tidak berniat berkunjung ke Desa Bena. Apalagi aku tidak terlalu tahu tentang desa ini. Aku hanya samar-samar pernah mendengar namanya. Nah, ketika Raras, teman di kantor, bilang bahwa desa itu cantik, aku terpengaruh juga. Begitu sampai di Bajawa pekan lalu, Desa Bena jadi salah satu target yang akan aku kunjungi.

Hari ketiga di Bajawa, usai workshop pembuatan buku advokasi petani kopi Watuata, aku langsung bilang ke teman-teman Lembaga Advokasi dan Penyadaran Masyarakat (Lapmas) kalau aku ingin ke tempat ini. Ketika itu sudah pukul 2 sore. Waktunya agak mepet. Dengan senang hati teman-teman aktivis LSM setempat itu menjadi guide kami sekaligus memberi transportasi. Gratis lagi. Hehe..

Pilihan lain untuk jalan-jalan adalah Danau Merah yang juga tidak jauh dari Bajawa, ibukota kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Danau merah ini aku tahu pertama kali pada pagi hari kedua di Flores. Salah seorang pemandu lokal menunjukkan foto di HP-nya. Sepertinya cakep banget dengan air danau yang memerah itu.

Tapi aku males kalau naik gunung. Danau itu lokasinya agak mendaki. Selain itu dibanding wisata alam, aku lebih senang wisata budaya. Atau setidaknya mengenal budaya dan orang lain. Jadilah pilihan sore itu adalah jalan-jalan ke desa Bena. Aku bayangkan desa ini adalah desa tradisional dengan rumah-rumah dan lansekap tua.

Penyebutan nama Desa Bena sebenarnya kurang tepat kalau dilihat dari sisi administratif. Sebab Bena hanyalah sebuah kampung, bagian dari Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerubu’u, Kabupaten Ngada. Tapi, menurutku sebutan “desa” juga tidak masalah karena lebih bisa menggambarkan tempat ini sebagai sebuah desa, dibanding sebutan kampung yang juga bisa ada di kota.

Naik sepeda motor, kami perlu waktu sekitar 45 menit dari Bajawa ke Bena. Awalnya jalan ke sini nyaris mulus dan landai. Namun sekitar setengah perjalanan kemudian berganti dengan kondisi jalan naik turun dan berdebu. Selain perkampungan penduduk dengan atap sengnya, kami melewati juga hutan bambu dan padang rumput. Suasananya adem. Suhunya memang berkisar belasan derajat celcius.

Flores adalah anomali dari NTT yang terkenal dengan suasana kering. Tak heran pulau ini disebut Flores yang berarti bunga oleh bangsa Portugis yang pernah menjajahnya. Karena itu pula sepanjang jalan ini terasa menyenangkan.

Usai melewati jalan naik turun dengan aspal yang rusak itu, kami sampai Desa Bena. Desa ini semacam daerah kantong (enclave) dengan rumah-rumah yang masih tradisional. Kalau rumah warga Flores pada umumnya adalah berdinding tembok dan beratap seng, setidaknya itu yang aku temui sepanjang perjalanan, maka rumah di Desa Bena berdinding kayu dengan atap semacam alang-alang. Rumahnya adalah rumah panggung.

Penataan desanya pun begitu. Dua baris rumah berjejer dan berhadapan satu sama lain. Dari pintu masuk, desa ini berundak semakin naik ke urutan paling belakang.

Beberapa ibu sedang menganyam kain adat flores dengan warna-warna yang beragam itu. Mereka duduk di beranda rumah sambil membuat kain yang biasa dipakai upacara dan dijual pada turis tersebut. Anak-anak bermain di tanah berdebu. Wajah mereka belepotan tanah. Kusam. Tiga anak asik makan buah kakao. Anak-anak lainnya bermain di atas kuburan yang memang biasa ada di depan rumah warga.

Di bagian kanan sebelum masuk kampung ada rumah penjaga. Kami mengisi buku tamu sekaligus membayar sumbangan suka rela. Rata-rata sih bayar Rp 10 ribu. Di buku tamu itu aku lihat sebagian besar pengunjungnya adalah turis mancanegara dari Amerika Serikat dan Eropa.

Novita Dhiu, perempuan penunggu buku tamu, mengatakan rata-rata ada 20 pengunjung tiap hari. Sebagian besar memang turis asing. Turis itu datang sendiri, tidak lewat travel agent. “Kalau musim rame baru datang dalam grup,” kata guru di SMP 1 Atap ini.

Desa Bena dikelilingi dinding batu yang sekaligus jadi pondasi. Dari jalan umum posisi desa ini jadi lebih tinggi. Kami perlu baik tangga berundak sepuluh untuk masuk desa.

Tiga teman dari Lapmas yang jadi pemandu Renci, Noni, dan Paul menjelaskan pada aku dan dua teman lain Hengki dan Ana tentang desa ini. Terlalu banyak hal teknis dalam bahasa lokal yang susah aku cerna. Maka aku lebih banyak ambil foto.

Di salah satu rumah, kami bertemu Yoseph Roja, warga lokal yang sering jadi pemandu di desa ini. Ketika kami minta dia menjelaskan tentang desa itu, mantan saudagar yang jago Bahasa Belanda ini memberikan harga Rp 50 ribu. Kami dengan senang hati mengiyakan.

Maka kami kembali ke titik awal ketika baru masuk. Yoseph menjelaskan semuanya pada kami.

Menurut Yoseph, warga Bena kemungkinan besar adalah pelarian orang Pati, Jawa Tengah pada abad 12. Tidak jelas apa buktinya. Sejak pertama kali ditempati, desa ini sudah berumur sekitar 300 tahun. Luas desa ini 350 x 80 meter persegi. Total ada 45 desa dengan 67 kepala keluarga dan 361 penghuni.

Sepuluh undak untuk masuk desa, disebut ture e’bu pati, merupakan simbol 10 keluarga yang waktu itu datang. Di sebelah kiri setelah undakan ini ada lempengan batu besar tempat dipakai para tetua desa untuk mengadakan rapat penting. Batu berdiameter sekitar 2 meter ini disebut watulaba..

Ada sembilan suku di desa ini. Antara lain Diza kae, Wato, Deu Lalulewa, Deru Solomae, Bena, Diziazi, Ago, Ngada, dan Kopa. Tiap suku punya satu wilayah kecil di satu undakan luas yang disebut Loka sewu. Pelataran yang berdebu ketika kami berkunjung ke sana inilah yang jadi tempat warga adat menggelar upacara dan pesta.

Upacara dan pesta memang jadi bagian tak terpisahkan dari warga desa Bena. Ceritanya ada di tulisan selanjutnya. 🙂

7 Comments
  • co-that
    April 29, 2009

    *note for the next trip*

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    yap. jangan lupa ngajak2. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • ketut sutawijaya
    May 1, 2009

    “…Menurut Yoseph, warga Bena kemungkinan besar adalah pelarian orang Pati, Jawa Tengah pada abad 12…” –> ini beneran mas? setau saya, pada masa itu daerah utara jawa belum berkembang. pusat peradaban ada di selatan jawa. emh… iya.. diragukan..

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    dia sebenarnya memberikan beberapa alasan dan bukti. cuma aku gak terlalu paham. jd gak bisa nulis di blog. takut salah. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • putriastiti
    May 2, 2009

    Dari tulisan ini, Desa Bena jadi terkesan bagus ya …..

    Jadi pengen kesana suatu hari nanti, kalau ada libur…. berapa duit om ?

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    duitnya sekitar 5 jt bolak balik belek. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • putri
    January 19, 2010

    hai, saya putri news reporter trans tv.
    saya tertarik sekali untuk membuat liputan mengenai kehidupan masyarakat di kampung bena beserta seni & budayanya.. is it possible for me to get ur number? i’d like to ask u some question about their tradition or maybe if it’s also possible, do u have any friends or realtive who live in ngada? mungkin saya bisa berhubungan dengan mereka saat saya akan liputan ke sana. this my number 08170026905. well many thanks.. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *