Berkaca, Berencana, Bekerja!

4 , , , , Permalink 0

Rapat Akhir Tahun Sloka Institute

Kami mengakhiri tahun 2009, untuk kemudian mengawali tahun 2010, di tepi Danau Batur, Desa Toyabungkah, Kecamatan Kintamani, Bangli. Ibaratnya sambil menyelam minum air. Sebab tak hanya lari dari keriuhan Denpasar saat perayaan pergantian tahun, kami sekalian merencanakan program Sloka Institute setidaknya untuk satu tahun ke depan.

Lokasi ini berada di dekat Danau Batur, Kintamani. Perlu waktu sekitar 1,5 jam dari Denpasar untuk ke tempat ini. Dari Penelokan, titik di mana wisatawan biasa menikmati Danau dan Gunung Batur, kami turun menempuh jalan agak berkelok. Di akhir turunan ini di Desa Kedisan, akan ada pertigaan. Toyabungkah ke arah kiri melewati batu-batu hitam berukuran sampai setinggi 2-3 meter sepanjang jalan. Ini jadi pemandangan tersendiri menuju lokasi.

Pukul 2 siang, setelah beristirahat selama sekitar 30 menit, kami memulai diskusi. Kami duduk lesehan di warung di tepi danau. Warung ini jaraknya cuma sekitar 100 meter dari Hotel Volcano II, tempat kami menginap. Persis di depan warung adalah Danau Batur. Jarak antara tepi danau dengan warung hanya sekitar 5 meter.

Jadi, kami berdiskusi tentang hal yang sebenarnya serius banget dalam suasana yang, bagiku, sangat santai. Duduk lesehan di lantai warung beralas karpet sambil minum teh atau kopi hangat. Kami menulis mimpi kami masing-masing dan bagaimana kami akan mewujudkannya selama setahun ke depan.

Lalu kami mendiskusikan semuanya. Gus Tulank, Intan, Lode, dan aku saling mengomentari mimpi kami masing-masing. Sementara itu Raras kebagian ngempu Bani. ๐Ÿ™‚

Cuaca mendung. Jadi suasana agak gelap. Malah sempat hujan ketika kami lagi berdiskusi. Mendung berarak-arak di atas danau. Angin lumayan dingin. Tapi kami serasa hangat oleh semangat.

Kami membagi mimpi itu setidaknya dalam empat hal. Pertama soal jurnalisme warga. Kedua soal advokasi kebebasan informasi. Ketiga tentang usaha. Keempat tentang urusan internal Sloka, terutama soal administrasi kantor. Lalu tiap orang bertanggung jawab untuk merawat dan mewujudkan mimpi tersebut setidaknya setahun ke depan.

Tidak usah terpaku pada hasil akhir, tapi pada proses. Lebih penting bagi kami, sebagai anak bawang di dunia pemberdayaan komunitas dan warga, adalah tentang bagaimana kami bisa melakukan sesuatu.

Diskusi Appreciative Inquiry

Mimpi-mimpi itu kami bangun menggunakan pendekatan baru yang tiga hari sebelumnya kami pelajari dari Pak Gde Suarja, mantan Program Manager VECO Indonesia yang kini jadi konsultan independen. Pendekatan itu bernama Appreciative Inquiry (AI). Daripada melulu mencari masalah baru kemudian dipecahkan, pendekatan ini mengedepankan kekuatan yang dimiliki lembaga ataupun tiap orang di dalamnya. Misalnya apa sih yang selama ini sudah dikerjakan Sloka dan patut dibanggakan.

Proses discovery alias pencarian kekuatan bagiku mirip waktu untuk berkaca. Ketika berkaca, orang lebih suka merasa dirinya menarik daripada sebaliknya. Pikiran positif menghasilkan optimisme. Sebaliknya, kalau cuma merasa diri tak menarik, orang akan cenderung pesimis. Gak pede.

Proses berkaca ini kemudian dilanjutkan dengan proses dream atau mimpi. Di proses ini kami menuliskan atau menggambarkan apa yang kami bayangkan tentang Sloka setidaknya setahun ke depan. Aku, misalnya, menggambar situasi di mana sudah ada keterbukaan informasi di berbagai lembaga publik. Itu bisa dilihat dari DPRD mempunyai mekanisme yang jelas untuk membagi informasi tak hanya pada wartawan tapi juga warga. Salah satunya lewat website. Begitu pula dengan lembaga lain seperti instansi pemerintah, universitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan lain-lain.

Nah, Sloka bisa menjadi salah satu katalis terwujudnya keterbukaan informasi. Apalagi sudah ada Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang mengharuskan keterbukaan informasi di lembaga-lembaga publik. Adanya kebijakan ini didukung pula oleh situasi yang relatif bebas, meski akhir-akhir ini gejalanya makin tertutup kembali.

Mimpi-mimpi itu kami lanjutkan dengan proses design atau merancang. Kira-kira mimpi itu akan diwujudkan melalui program apa. Program ini sesuatu yang lebih umum. Misalnya peningkatan kapasitas warga dalam kebebasan informasi. Sebagai contoh, percuma DPRD punya website kalau warga tidak tahu cara mengaksesnya. Karena itulah perlu ada upaya agar warga bisa menggunakan internet.

Pada akhirnya, proses yang menentukan adalah delievery alias pelaksanaan kegiatan. Program peningkatan kapasitas warga misalnya dijabarkan dalam kegiatan kampanye, pelatihan, dan semacamnya terkait dengan teknologi informasi.

Setelah berkaca dan berencana, kini saatnya kami bekerja..

4 Comments
  • Agung Pushandaka
    January 14, 2010

    Maka, selamat bekerja..! Semoga sukses! ๐Ÿ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    January 15, 2010

    seperti Pushandaka, “selamat bekerja pak” ๐Ÿ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • happy
    January 30, 2010

    selamat bekerja..hoho..

    ReplyReply

    [Reply]

  • balibuddy
    February 1, 2010

    kerja-kerja..terus bagi2 duitnya kapan ? he..he…* mata duitan mode on

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *