Berikan Pilihan, Bukan Melarang

7 , Permalink 0
Kekerasan itu terjadi di depan mataku, Minggu dua hari lalu. Si bapak berkacamata itu menggendong anak dengan lengan kirinya. Lalu tangan kanannya dipakai menampar wajah anaknya berkali-kali. Dia menampar pipi kanan, lalu pipi kiri. Si anak yang berumur sekitar 2,5 tahun, seusia dengan Bani anakku itu menangis menjerit-jerit.

Tapi bapak itu seperti tidak peduli. Dia berkali-kali menampar muka si anak itu. Sampai dia memasukkan si anak ke dalam mobilnya, dia masih saja memukuli anaknya.

Aku merasa sesak di dada ketika melihat itu. Antara marah dan benci. Seperti mau protes. Tapi tidak berani. Lalu hanya diam saja. Aku meneruskan wawancara dengan Aris, stringer TV One untuk liputanku soal nasib para stringer dan kontributor. Selama itu pula aku masih kepikiran, apa sih susahnya mendiamkan anak kecil?

Peristiwa itu yang membuatku kepikiran untuk membuat tulisan ini. Tentang cara untuk mendiamkan anak ketika menangis. Ini hanya pengalamanku ketika mengurus Bani, anakku yang sekarang berumur 2,5 tahun.

Anak kecil menangis itu hal biasa. Malah aneh kalau dia tidak menangis. Tapi kalau terlalu sering menangis juga tidak benar. Sekilas aku lihat banyak orang tua yang suka marahin anaknya kalau si anak nangis. Tidak hanya memarahi, malah kadang-kadang dengan cara kekerasan.

Orang tua marah gara-gara anaknya nakal juga hal biasa. Tapi tidak usahlah sampai pakai cara kekerasan ketika marah.

Honestly, pernah juga aku sampai mencubit Bani ketika dia nangis dan tidak mau didiamkan. Tapi ya gak sampe marah-marah kayak si bapak kurang ajar itu. Kalau toh perlu mencubit atau tindakan fisik, itu sebatas ngasi tau pada si Bani kalau aku tidak suka dia nakal. Tapi dia toh bukannya diam, tapi malah melawan.

Maka, berikanlah pilihan, bukan larangan. Si anak akan lebih senang kalau diberikan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya daripada kita hanya menyuruhnya diam. Sebab kadang kan si anak tidak tahu untuk apa dia berhenti. Begitu ada pilihan lain: bisa makanan, bisa mainan maka dia tidak hanya akan berhenti menangis tapi juga bisa beraktivitas dengan sesuatu yang lain.

Contohnya begini. Ketika si anak nangis, dengan alasan apa pun, ajak saja dia keluar rumah lalu perlihatkan pada dia soal mobil lewat, burung terbang, atau apalah. Pada kasus Bani, dia sangat gampang diajak diam. Cukup ajak ngomong, kasih buku dan pulpen, liatin fotonya dia, mobil, atau apa saja yang bisa mengalihkan perhatiannya dari nangis. Maka, tak sampai semenit, dia akan berhenti nangis lalu main.

Dalam skala lebih luas, ini sebenarnya bisa diterapkan pada orang dewasa. Sering kali kita hanya melarang seseorang tanpa memberikan pilihan. Ya, kadang yang dilarang juga bingung sendiri. Memang setelah tidak melakukan yang dilarang terus mau berbuat apa?

7 Comments
  • devari
    March 4, 2009

    wah klo pake kekerasan gitu berarti ortunya miskin ide tuh..pasti nanti mempengaruhi mental anak klo dah besar.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    March 4, 2009

    hmmmm…

    saya masih berpikir apa maksud penulis pada paragraf terakhir?

    ReplyReply

    [Reply]

  • pushandaka
    March 5, 2009

    Semoga si anak memaafkan sikap kasar bapaknya..

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    March 5, 2009

    -melanjutkan komentarnya Wira-
    Anton nyindir saya nih ???

    btw, membaca tulisanmu ini, saya sependapat kok. Yan namanya anak kecil itu ya kayak kertas putih. sekarang ya tergantung si orang tuanya. Apakah kertas putih itu diisi dengan berbagai gambar, corat-coret atau malahan diremas, dilempar ke tanah dan diinjak-injak seperti Bapak-Bapak diatas ?

    Tapi, lepas dari topikmu, ngomong-ngomong kenapa Wira gak ngasi komentar tentang perilaku sang Bapak ke anaknya ? Hayooooo…. ???
    Ha ?
    Ha ?
    Ha ?

    Kerana blom punya anak kali ya Wir ? 🙂
    -senyum-senyum yang artinya kurang lebih ‘enggalin dik’-

    ReplyReply

    [Reply]

  • bunda aysar
    March 10, 2009

    aduh sampai nampar segala? miris n sakit hati ngebacanya…. jangankan nampar or nyubit, teriak n marah sama anak ajah rasanya nyeseel bgt, saat ngeliat mata bening aysar saat dia bilang “ma, maaf”, hiks…. hiks…..

    ReplyReply

    [Reply]

  • widari
    March 12, 2009

    Waduh mas, Pokoknya HIDUP PRO-CHOICE…
    huahaa, dinda juga gitu. aku memberikan dia kebebasan untuk memilih. seperti contoh kecil memilih baju yang ia sukai tapi harus dengan alasan kenapa dia memilihnya…
    bukan di cubit atau di tabokkk…
    laporin mbok anggreni ajahhhh….Hihiii

    ReplyReply

    [Reply]

  • okanegara
    March 13, 2009

    bila dilihat dari UU Anak ya sudah bisa kena tuh si bapak dengan beberapa pasal pelanggaran. btw, saya tertarik dengan paragraf terakhir. betul. hidup itu pilihan.tidak bisa disamaratakan.tidak bisa dipaksakan.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *