Berikan Dukungan Bukan Ketakutan

25 , , , , Permalink 0

Diskusi Jurnalisme Warga Dewan Pers

Pertanyaan yang langsung muncul setelah melihat nama pembicara diskusi Jurnalisme Warga tersebut adalah, “Kenapa mesti dia?”. Pertanyaan itu muncul begitu saja setelah baca nama KRMT Roy Suryo Notodiprojo sebagai salah satu pembicara di diskusi yang diadakan Dewan Pers di Denpasar hari ini.

Dalam undangan resmi yang dikirim panitia, pembicara yang akan hadir di diskusi tersebut adalah Bambang Harymurti (Anggota Dewan Pers), Priyambodo RH (Kantor Berita Antara/ Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo), dan Enda Nasution (Ketua Blogger Indonesia). Btw, sejak kapan blogger Indonesia ada ketuanya? 🙂

Dari tiga pembicara yang disebut dalam undangan, hanya Priyambodo yang hadir. BHM, panggilan akrab Bambang Harymurti, diganti Wina Armada, anggota Dewan Pers yang lain. Ini bisa dimaklumi. Lha, Enda Nasution sebagai blogger diganti Roy Suryo jelas sebuah kesalahan, menurut saya.

Roy Suryo jelas bukan blogger. Nama ini bahkan menjadi semacam guyonan di kalangan blogger, aktivis dunia maya, ataupun praktisi teknologi informasi. Roy Suryo adalah pakar jadi-jadian yang dilahirkan oleh media. Atau katakanlah dia memang “pakar”. Tetap saja dia bukan blogger ataupun praktisi jurnalisme warga. Maka kalau dia hadir untuk menggantikan blogger, sekali lagi bagi saya, jauh panggang dari api.

Enda, biasa disebut Bapak Blogger oleh sesama blogger bukan Ketua Blogger Indonesia seperti ditulis panitia, diundang dalam kapasitas sebagai blogger. Kalau dia tidak bisa hadir, maka penggantinya akan lebih baik kalau juga blogger. Syukur-syukur malah dari pengelola junalisme warga.

Ya. Priyambodo juga blogger. Ini sesuatu yang kemudian baru saya tahu dalam diskusi. Tapi dalam diskusi ini, kapasitasnya adalah mewakili Antara dan LPDS, bukan blogger.

Lha ini tidak. Ketika blogger tidak bisa hadir, penggantinya malah orang yang selama ini dianggap sebagai “musuh bersama” para blogger. Salah satu alasan dia jadi nama yang identik dengan antipati adalah karena selama ini dia cenderung melihat blog dan kekuatan dunia maya lain sebagai ancaman daripada sebuah peluang. Sikapnya ini terlihat jelas dalam makalah tertulis yang dibagikan pada peserta diskusi setengah hari tersebut.

Roy Suryo sendiri datang pukul 12 lebih sementara diskusi dimulai dari pukul 9 dan berakhir pukul 1.30. Saya keluar dari diskusi, karena ada pekerjaan lain, persis ketika orang ini baru duduk di kursi pembicara. Jadi saya hanya menyimpulkan sikap tersebut dari makalah yang saya terima.

Makalah setebal 41 halaman ini lebih banyak menyoroti penyalahgunaan internet. Di lembar kedelapan misalnya dia mengutip www.clearcommerce.com bahwa Indonesia adalah negara kedua yang paling banyak menyalahgunakan internet setelah Ukraina.

Lalu di halaman-halaman berikut dia menyajikan fakta berbagai masalah di internet mulai tulisan “Satrio Kepencet” yang menuduh wartawan Kompas menerima dana dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), kasus “Rekayasa Foto” SBY, kasus hacking data Pemilu 2004 KPU, sampai pada gambar-gambar bugil dua bersaudara selebiritis seksi, Sarah Azhari dan Rahma Azhari. Saya tidak melihat relevansinya sama sekali dengan jurnalisme warga.

Pendapat saya ini kemudian dibenarkan Gus Tulank yang mengikuti diskusi sampai usai. “Dia menyampaikan hal yang jauh dari relevansi tema diskusi tentang jurnalisme warga,” kata Tulank.

Dek Didi, teman lain dari Bali Blogger Community (BBC) yang hadir pada diskusi itu pun menyatakan hal yang sama saat sesi diskusi. Bahwa apa yang disampaikan Roy Suryo dalam diskusi amat jauh relevansinya dengan jurnalisme warga. Roy Suryo terlalu melihat perkembangan dunia maya, baik blog, jejaring sosial, dan seterusnya sebagai sebuah ancaman.

Untungnya sikap berbeda justru disampaikan oleh dua pembicara lain, Priyambodo dan Wina Armada. Keduanya masih melihat bahwa jurnalisme warga adalah sebuah peluang. Ini senada dengan apa yang disampaikan Ketua Dewan Pers Ichlasul Amal dalam sambutannya.

“Jurnalisme warga semakin lama semakin penting. Di banyak negara publik lebih percaya pada jurnalisme yang dikembangkan oleh warga, misalnya lewat blog, daripada media arus utama,” kata Ichlasul dalam sambutan pembukaan.

Pernyataan Ichlasul ini didukung juga Priyambodo. “Jika publik berkehendak, apa pun bisa terjadi di internet. Jurnalisme warga ikut menentukan demokratisasi,” katanya.

Namun, saya kemudian menangkap bahwa Ichlasul menyiratkan ketakutan pada ketakutan baru jurnalisme warga ini. “Jurnalisme warga ibarat pisau bermata dua. Dia bisa destruktif kalau pemberian informasinya tidak terkendali,” tambahnya.

Karena itulah, menurut Ichlasul, jurnalisme warga perlu diatur agar tidak tak terkendali dan liar. Namun Ichlasul tidak memberikan contoh sama sekali tentang bagaimana informasi liar dan tak terkendali itu bisa menjadi ancaman.

Toh, negara ini sepertinya memang melihat perkembangan kebebasan informasi terutama di dunia maya itu sebagai sebuah ancaman. Salah satu bukti adalah munculnya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang memberikan ancaman penjara bagi para pengguna teknologi informasi ini.

Menurut Wina Armada, materi UU ITE sangat keras karena ada ancaman penjara di atas lima tahun. Apalagi ada pasal yang mengatakan bahwa tersangka bisa langsung ditahan. Masuk penjara dulu baru diadili kemudian. “Benar atau salah itu urusan nanti. Yang penting ditahan dulu. Ini ancaman besar bagi blogger ataupun jurnalisme warga,” kata Wina.

Inilah kenyataannya. Aturan-aturan yang dibuat terkait dengan informasi di dunia maya itu justru menebar ketakutan bagi para penggunanya. Jadinya ironis. Lha wong belum apa-apa kok sudah ditakut-takuti dengan ancaman penjara. Suara-suara di dunia maya itu harusnya diberikan peluang sebagai sebuah kekuatan baru. Negara harus menjaminnya. Merawat dan mengembangkan, bukan dengan menebar ketakutan..

25 Comments
  • Winarto
    November 19, 2009

    Maaf, izin mengamankan yang pertamaxx

    ReplyReply

    [Reply]

    PanDe Baik Reply:

    Waaahhh… Winarto ternyata gak cuma rajin nyambangin blog saya, tapi milik AnTon juga. sehari Online 27 jam ya Win ?

    ReplyReply

    [Reply]

    Winarto Reply:

    Kalau lagi ndak ada kerjaan aja kok Bli Pande

    ReplyReply

    [Reply]

  • Winarto
    November 19, 2009

    Maaf, izin mengamankan yang keduaxxxx

    ReplyReply

    [Reply]

  • Winarto
    November 19, 2009

    Maaf, izin mengamankan yang ketigaxxx

    ReplyReply

    [Reply]

  • Winarto
    November 19, 2009

    Lha kok foto Pak Roy Suryo ndak dipasang????

    ReplyReply

    [Reply]

  • Cahya
    November 19, 2009

    Jurnalisme warga seharusnya memberikan kebebasan, etika sudah ada di masyarakat, kalau memang warga negara yang baik, saya kira tidak akan jauh menyimpang…

    ReplyReply

    [Reply]

  • fitria
    November 19, 2009

    wah sudah lama ga ikut2 seminar2 lagi seperti ini. 🙂 tapi sebenarnya Roy suryo pun ada di seminar ga masalah menurut saya p.anton, dia dsana sbg pemberi pandangan masy.diluar blogger tetapi juga berkecimpung di dunia maya.. (lebih tepatnya srg jadi tempat curhatnya org2 yg merasa dirugikan dengan ketidakterbatasannya kekejaman dunia maya). UU tetap perlu pak, untuk membatasi perilaku menyimpang orang-orang dliuar sana, yang saya yakin P.anton ga spt itu kann 🙂 di share aja pak bahan diskusi seminarnyanya, biar kita semua tahu

    ReplyReply

    [Reply]

  • Winarto
    November 19, 2009

    Secara pribadi, saya pun kecewa dengan diskusi “jurnalisme warga” kemarin yang diadakan Dewan Pers. Namun, kecewa itu bisa terobati karena dapat berfoto bareng dengan anggota DPR dan tokoh yang sering masuk di TV 🙂

    Kenapa kecewa? Kecewa dikarenakan saya ketika membaca undangan dari Mbok Lode memiliki HARAPAN bahwa melalui diskusi tersebut, saya sebagai seseorang yang awam dengan dunia jurnalisme, apalagi jurnalisme warga, dapat mendapatkan pencerahan, ilmu dan praktek-praktek tentang jurnalisme.

    Tentu, harapan saya itu berdasarkan kepada kalimat-kalimat yang ada pada undangan Dewan Pers berikut ini:

    Di era media internet dan teknologi modern saat ini, setiap orang secara praktis dapat menjalankan fungsi sebagai jurnalis dan mengelola media sendiri. Dengan hadirnya mailing list, website, blog, youtube, termasuk ponsel, dan teknologi komunikasi sejenis, setiap individu dapat melakukan
    kegiatan : mencari, mengumpulkan, memiliki, mengolah, dan menyebarkan informasi seperti yang dijalankan jurnalis. Kecenderungan semacam ini dikenal sebagai citizen journalism atau ”jurnalisme warga”.

    Fenomena jurnalisme warga memunculkan persoalan tersendiri, mengingat pada umumnya warga memerankan diri sebagai jurnalis tidak dibekali pengetahuan dan etika tentang jurnalisme. Sehingga berpotensi melahirkan informasi yang tidak berkualitas atau merugikan pihak lain.

    Jika Dewan Pers mencermati pernyataan yang ditulisnya dalam undangan tersebut, semestinya yang dilakukan adalah mengedukasi dan memberdayakan warga supaya berani untuk terlibat dalam jurnalisme warga, entah dilakukan dalam bentuk pelatihan-pelatihan menulis, pelatihan meliput, atau pelatihan lain yang berguna untuk membekali warga sehingga informasi yang disampaikan oleh warga dalam citizen journalism dapat betul-betul dipertanggungjawabkan.

    Namun, sepertinya Dewan Pers lebih menekankan pada “memunculkan persoalan tersendiri”, yang mungkin dapat diatasi dengan cara memberikan ancaman-ancaman yang diterima jika sampai melanggar sehingga bisa menekan kontribusi warga dalam jurnalisme warga.

    Toh, meskipun media mainstream masih memegang “kekuasaan” dan punya modal, secara kualitas tulisan, sebenarnya media mainstream belum tentu semuanya berkualitas, sedangkan perkembangan saat ini, jurnalisme warga malahan memiliki potensi untuk terus berkembang.

    Melihat potensi tersebut, oke lah jika Dewan Pers memberikan sebuah rambu-rambu berupa Undang-Undang untuk mensosialisasikan kewajiban, hak hingga sanksi jika melanggar, namun harus juga dilakukan pemberdayaan warga.

    Tapi, diskusi kemarin bisa dikatakan lebih dari 50%, yang disampaikan oleh pembicara hanyalah bentuk-bentuk ancaman/larangan yang dapat “menakut-nakuti warga” untuk berani menulis dan terlibat dalam jurnalisme warga.

    Ibarat kata, orang tua yang terus melarang anaknya untuk bermain api dan menjauhkan diri dari api, tanpa memberitahu manfaat dari api bagi kehidupan. Demikian juga diskusi kemarin, yang disampaikan hanyalah tebaran ancaman/konsekuensi yang harus ditanggung, tanpa memberitahu manfaat dari jurnalisme warga, daya tarik dari jurnalisme warga dan sebagainya.

    Kalau hanya diberi ancaman, kapan masyarakat bisa berkembang dan maju. Harusnya sebagai pemerintah, mereka memberikan motivasi-motivasi untuk warga, memfasilitasi berupa pelatihan untuk warga serta menyediakan ruang bagi jurnalisme warga untuk berkembang.

    Mengenai pembicara, sebagai orang yang awam dengan jurnalisme, saya pun merasa pembicara kemarin banyak yang kehilangan konteks akan topik yang dibahas. Saya tidak tahu, apa tujuan dari diskusi itu dan tindak lanjut dari diskusi itu, dan apakah tujuan tersebut dapat tercapai, saya pun tidak tahu. Mungkin, yang penting adalah sudah memenuhi agenda-agenda yang telah dijadwalkan.

    Masih terkait dengan pembicara, lebih tepat memang kalau yang menyampaikan mereka-mereka yang terjun ke lapangan langsung, atau pengelola jurnalisme warga, sehingga mereka dapat berbagi suka dan duka berjurnalisme warga.

    Ambil contoh “Kick Andy” minggu lalu. Melalui tayangan tersebut, banyak masyarakat yang pasti terus merepon positif keberadaan jurnalisme warga, bahkan mereka berlomba-lomba untuk terlibat.

    Karena di tayangan tersebut, masyarakat dimotivasi untuk berperan di jurnalisme warga. Harapan itulah yang ada dibenak saya ketika membaca undangan dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti diskusi.

    Namun, apalah daya, ketika mengikuti seminar tersebut “ilmu jurnalisme warga” malahan tidak didapat secara optimal, lebih baik belajar sendiri tentang citizen journalism malahan akan lebih kaya pengetahuan, ditambah terus berlatih menulis untuk menghasilkan informasi yang betul-betul dipertanggungjawabkan.

    Dan yang masih terasa kurang dari diskusi kemarin adalah, tidak ada upaya pro aktif dari dewan pers untuk memperoleh informasi dari peserta yang telah mempraktekkan jurnalisme warga, padahal di Bali sudah ada dan banyak aktor intelektualnya di sana.

    Dengan memperoleh informasi tersebut, dapat menjadi bahan bagi dewan pers untuk bisa memberikan sesuatu bagi para pelaku jurnalisme warga di Bali, misalkan kendala-kendala yang dihadapi, kerjasama kedua belah pihak dalam pelatihan liputan jurnalisme warga, dan sebagainya.

    Ada baiknya, kalau ada kelanjutan diskusi jurnalisme warga di Bali, perlu mengadakan koordinasi terlebih dahulu dengan para pelaku jurnalisme warga di Bali sehingga dapat dirancang bersama-sama suatu kegiatan yang komprehensif yang jelas outputnya berupa diskusi, seminar, workshop dan pelatihan/praktek menulis dan bentuk-bentuk kegiatan lain yang memberikan dukungan untuk jurnalisme warga.

    Apabila format diskusi kemarin pun terulang lagi di Bali (jika ada kelanjutannya) atau dilaksanakan di tempat lain, apakah itu tidak jauh dari bentuk mengekang dan melarang masyarakat untuk berbicara/berpendapat/beropini? karena pada awal-awalnya terus digencar dengan ancaman-ancaman yang berpotensi untuk menakuti warga, dan apabila warga sudah takut, tentu tidak akan mau dan berani terlibat di jurnalisme warga.

    ReplyReply

    [Reply]

    PanDe Baik Reply:

    ck ck ck… Win Arto memang pantesnya jadi Dosen, kaya’Wira. mampu memberikan pandangan secara mendalam. Ga’kaya’saya yang bisanya cuman lirik2 cewe’cantik doang. :p

    ReplyReply

    [Reply]

    Winarto Reply:

    Tidak cocok saya jadi dosen, saya masih belog

    ReplyReply

    [Reply]

    eka dirgantara Reply:

    setuju sama bli pande…saya cuma suka lirik2 cewek tapi ga satupun yg ngelirik saya….:(

    ReplyReply

    [Reply]

  • fitria
    November 20, 2009

    hebadh hebadh… commentnya sama panjangya dengan blogny sendiri..

    tapi win, waktu diskusi semua hal yg ditulis ini sudah disampaikan belum unek2nya? apa karena dapat foto brg org terkenal itu jadi lupa sama unek2nya ? hehehe 😀

    ReplyReply

    [Reply]

    Winarto Reply:

    Waktunya sudah habis, tapi uneg-uneg itu sudah disampaikan oleh teman-teman yang lain meskipun dengan gaya bahasa yang berbeda.

    Dan pasti akan terus berkembang dan disebarluaskan uneg2 tersebut, salah satunya di komentar ini, dan aku juga akan buat tulisan sebagai salah satu bentuk pencurahan uneg2

    ReplyReply

    [Reply]

  • Domba Garut!
    November 20, 2009

    Jurnalisme Warga, dan segala esensi serta rambu yang akan mengaturnya seyogyanya menjadikan masing-masing individu blogger bisa mengasah ketrampilan komunikasinya masing-masing dari sedang menjadi kemudian piawai.. ini semua adalah upaya mencerdaskan bangsa..

    Perihal pakar-jadi2an itu – biarlah.. toh waktu akan membuktikan sosok pakar sungguhan, ini merupakan tantangan buat sosok sesepuh dan penggiat jurnalisme warga untuk terus berkarya secara utuh dan terus memberdayakan khalayak ramai..

    ReplyReply

    [Reply]

  • yudi
    November 20, 2009

    yakinlah bahwa akan tetap banyak blogger “ngoceh” walau terancam hukuman penjara hehe..

    ReplyReply

    [Reply]

  • bukan winardi
    November 20, 2009

    bli, kok kayaknya anti sekali dengan roy suryo seh? huehehehehe … roy suryo to antek – antek pemerintah yang tujuannya membodoh – bodohin masyarakat kita. mana ada pakar bidang x tapi latar pendidikannya y. terus dia ngomong masalah blog, jejaring sosial dll seolah – olah dia pernah melakukan penelitian tentang efek dari blog n jejaring sosial ajah. asbun aseli oy uyo mah …

    ReplyReply

    [Reply]

  • Yanuar
    November 20, 2009

    baca hardcopy slide dari pembicara bikin speechless…

    ReplyReply

    [Reply]

  • enda
    November 20, 2009

    wah menarik tampaknya diskusinya tapi mungkin ada miskomunikasi ga pernah ada yg mengkontak saya untuk hadir di acara itu looo. jadi saya ga berhalangan memang ga diundang hehe

    ReplyReply

    [Reply]

    Winarto Reply:

    Lha kok bisa begitu informasi yang disampaikan ke peserta? kenken nike?

    ReplyReply

    [Reply]

  • Hendra W Saputro
    November 20, 2009

    Wuigh, Bang Enda memang gak diundang ?. Aku memang tahu ada sms dr Bung Anton tentang acara itu, tapi akhirnya lupa utk membalasnya. Maaf ya Bung.

    Roy Suryo bukanlah nama spesial bagi saya semenjak dia ‘terlalu banyak bicara dan tidak mampu menguasai topik peristiwa, serta diragukan esksistensinya di dunia telematika’.

    Apa karena tidak penting itu ya, akhirnya sms Anton terabaikan. Hihihihii, but sekali lagi thank you sms nya Bung. Anda adalah Bapak Jurnalisme Warga Cabang Bali !

    ReplyReply

    [Reply]

  • home theater
    November 20, 2009

    ga ah,takut ditangkap sperti kasus bu prita lawan omc

    Home Theater | Audio Video | LCD HDTV | BluRay | Speakers | Remote Controls

    ReplyReply

    [Reply]

  • gustulank
    November 21, 2009

    Sebagai orang yang bukan pakar jurnalisme warga dan bukan pakar politik, saya sedikit ingin berkomentar. Dengar-dengar desas-desus, diskusi ini terasa politis.
    Kenapa begitu?? terlihat dari format acara yang diberi label diskusi tapi lebih mirip seminar.
    Jadi kapan kita terlibat lebih dalam dalam penentuan kebijakan publik??

    ReplyReply

    [Reply]

  • pushandaka
    November 22, 2009

    Jurnalisme warga? Saya sih setuju kalau jurnalisme warga ndak terlalu diatur-atur. Tapi jurnalis semacam ini juga harus mengerti tanggung jawabnya. Sebab tulisannya akan membawa dampak kepada pembacanya. Dampak itu yang akan menjadi tanggung jawabnya.

    Saya sempat nonton tema ini di kick andy. Menarik banget!

    ReplyReply

    [Reply]

  • fitria
    November 24, 2009

    saya kemarin dapat message ini di facebook :
    KEPAKARAN ROY SURYO DIRAGUKAN
    To members of PERADI on facebook

    Leo Tobing November 22 at 11:30pm Reply
    Kepakaran yang Diragukan
    Pada tanggal 25 September 2008 untuk pertama kalinya kepakaran Roy Suryo dipertanyakan di depan lembaga hukum. Situs berita detik memberitakan bahwa Assegaf, pengacara Habieb Rizieq, keberatan jika Roy Suryo sebagai saksi ahli telematika dalam kasus tragedi Monas.[20] Assegaf menegaskan bahwa latar belakang pendidikan Roy Suryo dari fakultas ilmu sosial dan politik tidak ada kaitannya dengan telematika. Ditambah pula pihaknya belum pernah menemukan tesis ilmiah Roy Suryo di bidang Telematika. Habib Rizieq pun menuduh Roy Suryo sebagai plagiator pada kasus klaim penemuan Lagu Indonesia Raya 3 Stanza, sehingga kapasitas kepakarannya sangat diragukan.

    Dalam sidang kasus Marcella Zalianty dan Ananda Mikola pada 16 April 2009, Roy Suryo dihadirkan sebagai saksi ahli oleh jaksa penuntut umum (JPU). Kesaksian Roy Suryo kemudian dibantah oleh Ruby Z Alamsyah, digital forensic analyst (analis forensik digital), yang diajukan sebagai saksi ahli oleh O.C. Kaligis, kuasa hukum Ananda Mikola, dalam sidang tanggal 20 April 2009. Ruby mengaku bahwa ia merupakan satu-satunya orang Indonesia sekaligus orang Indonesia pertama yang menjadi anggota International High Technology Crime Investigation Association (HTCIA). Kata Ruby, semua yang telah dipaparkan oleh Roy tersebut tidak valid dan tak berkualitas sebagai barang bukti. Menurut Ruby, Roy Suryo tidak punya standar operasional sebagai seorang ahli telematika, merujuk ke standar internasional, hasil analisa Roy tidak valid dan tak berkualitas sebagai barang bukti.[21]

    source: http://id.wikipedia.org/wiki/Roy_Suryo#Kepakaran_yang_Diragukan

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *