Berekspresi Lewat Kaos Oblong

0 No tags Permalink 0
Bagi sebagian orang, barangkali termasuk kita, kaos oblong tidaklah sekadar sebagai kebutuhan dasar manusia akan sandang. Ia tidak hanya untuk melindungi tubuh dari cuaca atau demi etika. Kaos oblong, meski tidak mutlak, bisa merepresentasikan identitas, status sosial, atau bahkan ideologi. Lihatlah misalnya kaos oblong made in Joger di Kuta. Ribuan orang tiap hari rela berdesak-desakan di beberapa ruangan di Jl Raya Tuban Kuta tersebut untuk mencari kaos dengan desain dan tulisan-tulisan menggelitik khas Joger. Bukan kaos sebagai pakaian yang mereka cari. Namun, bagi hampir seluruh wisatawan domestik, kaos Joger adalah representasi bahwa dia telah ke Bali.

Maka ketika di luar Bali kita bertemu dengan seseorang yang memakai kaos dengan desain khas Joger, bisa jadi kita berasumsi bahwa orang tersebut pernah ke Bali, atau setidaknya temannya, pacarnya, keluarganya.. Kaos bisa jadi semacam penunjuk hubungan seseorang dengan sebuah tempat atau kota. Hampir tiap tempat punya kaos bergambar ikon tempat tersebut. Mengutip Ariel Heryanto, salah satu pemikir kebudayaan pop di Indonesia, kaos oblong punya bobot komunikasi yang (sengaja atau tidak) telah menunjukkan identitas seseorang.

Kaos oblong bisa menjadi penanda kemudaan, sikap santai, serta perlawanan terhadap kemapanan. Pemakai kaos tertentu pun kadang ingin dilihat sebagai sesuatu yang berbeda dengan orang lain. Tulisan di punggung, dada, maupun bagian lainnya yang menunjukkan merk terkenal seperti Nike, Adidas, Benetton, Calvin Klein, dan seterusnya akan membuat pemakainya lebih percaya diri.

Kaos oblong sebagai alat ekspresi pun berjalan seiring dengan industri musik. Lihatlah puluhan distribution outlet (distro) di Denpasar yang sebagian besar menjual kaos oblong dengan desain bikinan sendiri bersama kaset dan aksesoris identitas aliran musik mereka. Mereka seperti melawan pasar besar seperti Matahari, Ramayana, atau mall-mall lain.

Beberapa orang atau kelompok musik pun menggunakan kaos oblong sebagai sarana ekspresi (atau bahkan protes). Eddy Brokoli, mantan vokalis band Harapan Jaya pernah diprotes penggemar Sheila on 7 gara-gara pakai kaos bertuliskan, “Sheila on 7 Suck!” dalam sebuah acara. Kaka, vokalis Slank, sengaja pakai kaos oblong bertuliskan Aceh-Indonesia dalam World Peace Music Award di Bali Juni tahun lalu. Katanya sebagai bentuk dukungan bahwa Aceh tetap merupakan bagian dari Indonesia. Band-band internasional pun menggunakan kaos oblong ini sebagai alat kampanye perjuangan mereka. Sebut saja Rage Against The Machine (RATM), Coldplay, Radiohead, atapun System of A Down.

RATM yang kini sudah bubar itu terkenal dengan lirik-lirik protesnya. Sejak awal berdiri, salah satu agenda mereka adalah mendorong pemerintah Amerika Serikat agar membebaskan Mumia Abu-Jamal, warga keturunan Afrika yang dituduh membunuh polisi Daniel Faulkner. Bagi band yang pernah membakar bendera AS di Woodstock 1999 ini, penahanan Mumia Abu-Jamal adalah betuk rasisme dan penindasan kelas. Maka, protes itu diekspresikan melalui kaos bertuliskan, “Free Mumia!”. RATM tidak hanya protes lewat kaos, mereka terlibat langsung dalam aksi-aksi menuntut pembebasan Mumia. Kaos oblong hanya salah satu alat untuk menyatakan ekspresi.

Chris Martin, vokalis Coldplay pun dengan sengaja memakai kaos bertuliskan, “Make Trade Fair” ketika berbincang dengan petani-petani jagung di Cancun, Mexico yang dirugikan oleh perdagangan bebas. Coldplay merupakan salah satu anggota jaringan internasional anti globalisasi. Dalam pertemuan aktivis anti globalisasi tahun lalu di Cancun, Chris Martin turut serta dengan kaos protesnya itu.

Hal yang sama dilakukan oleh Radiohead yang hingga saat ini gencar menolak pelaksanaan hukuman mati oleh beberapa negara. Sedangkan System of A Down terang-terangan menolak perang dimanapun. Lirik-lirik mereka, katakanlah seperti dalam lagu “War?” dijadikan desain kaos sebagai ekspresi mereka terhadap pelaksanaan perang. Menjelang penyerbuan tentara AS dan sekutunya ke Irak Maret tahun lalu, System of A Down pun menjadi bagian dari jutaan aktivis anti perang yang turun ke jalan menolak Perang Irak.

Bagi kelompok-kelompok musik itu, kaos oblong telah menjadi alat kampanye untuk menyampaikan protes mereka. RATM untuk pembebasan Mumia Abu-Jamal, Coldplay untuk perdagangan yang fair, Radiohead untuk penghapusan hukuman mati, dan System of A Down yang menolak pelaksanaan perang.

Tragisnya, sebagian kita, mungkin juga Anda dan saya, justru lebih bangga ketika kita memakai kaos bertuliskan merk-merk terkenal daripada kaos oblong bertuliskan ekspresi pribadi. Padahal, ketika mengenakan kaos bertuliskan merk tertentu itu, sadar atau tidak, kita telah menjadi alat iklan bagi merk-merk tersebut. Memangnya kita tukang iklan?

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *