Berbaku Gombal tentang Pangan Lokal

3 , , Permalink 0

Tema Blog Action Day (BAD) kali ini adalah tentang Pangan, yang juga diperingati tepat hari ini.

Dua hal ini, BAD 2011 dan Hari Pangan Sedunia (HPS), ibarat tumbu ketemu tutup dengan perjalananku ke Kabupaten Ngada, Flores 12-15 Oktober kemarin. Selama tiga hari di sana aku liputan tentang perayaan HPS se-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dipusatkan di Ngada, salah satu kabupaten di pegunungan Flores.

HPS di NTT, lebih dikenal dalam bahasa Inggris sebagai NTT Food Summit, merupakan kerja bareng antara Pemprov NTT melalui Badan Ketahanan Pangan setempat dengan Aliansi LSM Nasional. VECO Indonesia, tempatku kerja paruh waktu, termasuk salah satu LSM di aliansi ini.

Ini kali pertama aku meliput NTT Food Summit. Menurutku, lumayan menarik juga melihat kegiatan dua hari ini. Ada lokakarya pada hari pertama dan dua hari pameran pangan lokal di Bajawa.

Menariknya kegiatan ini karena dia bisa melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait dengan kebijakan pangan di NTT. Pada seminar di Kota Bajawa, Ngada, misalnya, Gubernur NTT Frans Lebu Raya sendiri yang berbicara di sekitar 100 peserta tersebut. Dia juga bersama Dinas Pertanian, Badan Pusat Statistik, dan seterusnya. Tak, lupa ada LSM juga.

Kolaborasi antara pemerintah dan LSM ini termasuk hal langka. Biasanya kan keduanya rajin gontok-gontokan.

Selain lokakarya, HPS ini juga diisi dengan pameran. Lokasinya di Desa Malanuza, Kecamatan Golewa, berjarak sekitar 1 jam dari Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Peserta pameran ini petani maupun instansi terkait dengan pertanian di Kabupaten Ngada.

Garing
Cuma, selama dua hari itu pula kok aku merasa garing amat ya omongan Gubernur NTT soal kedaulatan pangan ini. Di dua tempat tersebut dia berbicara tentang perlunya membangun kedaulatan pangan. Salah satunya dengan menghidupkan kembali pangan lokal di NTT.

Semangat menghidupkan pangan lokal ini juga tergambar lewat spanduk dan poster di lokasi pameran serta pangan-pangan lokal yang dipamerkan.

NTT, setidaknya Flores, ternyata punya buwanyak sekali potensi pangan lokal ini. Salah satu peserta dari Kecamatan Soa, Ngada, misalnya memamerkan umbi-umbian, biji-bijian, juga kacang-kacangan yang jadi pangan lokal. Ada ubi sebesar kepala orang yang biasa dipakai untuk upacara adat. Ada pula biji-bijian seperti jagung yang harus dikonsumsi ibu menyusui selama tiga bulan pertama menyusui.

Masih banyak lagi aneka pangan lokal ala Flores ini. Tak hanya untuk konsumsi tapi juga adat dan kesehatan. Cuma, menurut para petani, pangan lokal ini semakin terpinggirkan. Petani cuma menanam untuk kebutuhan terbatas. Itu pun tumpang sari. Bukan tanaman utama.

Belum ada dukungan serius dari pemerintah untuk mengembangkan pangan lokal ini. Tak cuma di budi daya alias produksi tapi juga penanganan pascapanen. Jadi, semua omongan di meja diskusi ya tinggal omongan. Dari tahun ke tahun rasanya tetap berulang. Omongan Gubernur NTT pun jadi terasa gombal. Bagus di mulut belum terasa dalam bentuk tindakan atau kebijakan.

Padahal, menuruku, seharusnya tak susah-susah amat untuk memulai agar pangan lokal ini lebih hidup dan dikenal. Salah satunya lewat warung makan. Pemerintah setempat mungkin bisa mulai membantu warganya agar mengelola warung dengan menu pangan lokal.

Dengan demikian, kalau ada orang luar ke Flores atau NTT, mereka bisa menikmati makanan khas lokal. Tak seperti saat ini, ke mana dan di mana pun aku liputan selama di NTT, maka pilihannya cuma dua, warung jawa atau warung padang. Menyebalkan!

3 Comments
  • HALAMAN PUTIH
    October 17, 2011

    Kurang gencarnya sosialisasi terhadap pangan lokal alternatif selain nasi memang akan menghambat masyarakat untuk memanfaatkan pangan lokal ini. Masyarakat kita terlanjur punya pedoman bahwa belum makan rasanya kalau tak makan nasi. Sesungguhnya pangan alternatif bisa diolah dengan berbagai variasi menu sehingga rasanya pun enak.

    ReplyReply

    [Reply]

  • tuteh
    October 17, 2011

    Hahahah mas Anton! Ketemu di Bali yah 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • gajah_pesing
    October 18, 2011

    saia kok merasa belum menemukan manfaat daripada acara itu ya? mungkin gak dikasih jatah gratis pangan ama yang punya blog ini ya? :p

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *