Berbagi Kegalauan tentang Bali Sekarang

3 , , Permalink 0

Hanya menulis tentang diskusi malam ini.

Ceritanya, aku diminta oleh Sukma Arida untuk jadi salah satu pembedah buku terbarunya, Pandora Bali, Refleksi di Balik Gemerlap Turisme. Selain aku, pembedah lain adalah Made Andi Arsana, Dosen Teknik Geodesi dan Geomatik Universitas Gajah Mada (UGM) yang sedang ambil program doktoral di Australia.

Bedah buku diadakan Program Studi Planologi Fakultas Teknik Universitas Hindu Indonesia (Unhi). Pesertanya sebagian besar mahasiswa. Sebagian lainnya masyarakat umum.

Tulisan berikut sekilas pendapatku tentang buku ini.

Pandora Bali merupakan buku kelima Sukma Arida. Dosen Fakutas Pariwisata Universitas Udayana ini pernah menulis empat buku lain bertema sosial, budaya, dan pariwisata di Bali. Selain dosen, Sukma juga pernah jadi wartawan SARAD, majalah bulanan tentang Bali yang sekarang sudah tutup. Dia juga peneliti maupun pengurus lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Kami berteman baik. Pernah pula latihan menyelam bareng ketika aku masih di GATRA dan dia di SARAD. Mungkin karena kami berteman, maka Sukma memberikan bukunya gratis buatku sebelum kemudian dia nodong aku untuk jadi pembedah. Hehehe..

Oke. Lanjut soal buku. Standar banget sih ulasanku.

Pertama, tentu apresiasi untuk Sukma maupun bukunya. Seperti ditulis Aryantha Soetama di epilog buku ini, tak banyak buku tentang Bali yang ditulis orang Bali sendiri. Buku ini masuk perkecualian. Sukma mewakili segelintir orang Bali yang mau menulis dengan kritis terhadap tradisi, adat, agama, sosial, dan situasi terkini di Bali.

Sukma bisa menggabungkan semua latar belakangnya sebagai akademisi, peneliti, jurnalis, plus bau-bau aktivis LSM. Karena itu Sukma bisa menulis tentang isu-isu di akar rumput plus analisisnya. Tak hanya menyampaikan fakta, Sukma juga bisa melengkapinya dengan data.

Melalui tulisan-tulisan di buku setebal 133 halaman, Sukma membagi kegalauannya tentang kakunya adat, masifnya pariwisata yang menggusur lahan pertanian, dan lain-lain.

Dua tulisan yang menurutku bisa menggabungkan latar belakang tersebut adalah tentang mahalnya biaya upacara agama (adat?) di Bali dan maraknya kekerasan horisontal. Sukma melengkapi dua tulisan ini dengan tabulasi biaya-biaya untuk upacara, vertikal ataupun sosial alias horisontal, tersebut.

Menurut hitung-hitungan Sukma, biaya upacara ini ternyata bisa lebih banyak dibandingkan pendapatan warga.

Otokritik
Sebagai orang Bali yang menulis tentang Bali, Sukma juga bisa dengan bebas melakukan otokritik terhadap peliknya persoalan adat dan budayanya sendiri. Dia menampilkan melalui tokoh-tokoh dalam 25 tulisan di buku ini. Menurutku sih ini sebuah kemewahan, mengkritik tentang identitas, pulau, dan tradisinya sendiri.

Karena ditulis oleh pelaku sendiri, maka buku ini juga bisa menyampaikan hal-hal yang tak banyak diketahui orang n0n-Bali, setidaknya seperti aku. Ada beberapa hal yang baru aku tahu setelah baca buku ini. Misalnya tentang nama-nama alias bagi lelaki Bali dan pola hidup vegeterian.

Buku ini bagus untuk tak hanya membaca kegalauan orang Bali tentang situasi di pulaunya sendiri tapi juga mengenal sisi Bali yang selama ini tenggelam di balik gemerlap pariwisata.

Kekurangan buku ini adalah karena dia tak diniatkan sebagai buku “serius”. Dia hanya berupa kumpulan tulisan. Bahasa lainnya, ini buku-bukuan. Jadi, Sukma tinggal mengumpulkan 25 tulisannya yang sudah pernah dimuat di SARAD maupun media lain, termasuk BaleBengong.

Karena itu, alur buku juga agak meloncat-loncat meskipun sudah disusun berdasarkan lima tema besar, seperti agama, lingkungan, sosial, dan seterusnya. Buku ini tidak menjadi satu kesatuan tentang tema khusus yang ditulis secara mendalam.

Kesalahejaan juga menjadi kekurangan buku ini. Penyuntingannya masih bocor di beberapa tulisan sehingga agak mengganggu.

Lengkaplah sudah ulasan ini. Sudah ada pujian dan juga kritikan. Akhir kata, buku ini tetap asyik untuk dibaca jika ingin tahu sisi lain dari Bali di balik gemerlapnya selama ini.

Foto pertama diambil dari Facebook Pak Wid.

3 Comments
  • Nike
    September 19, 2012

    Sementara yang laen pake kemeja, dirimu tetep kaos aja gitu ya mas 😀 #lospokos

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agus Lenyot
    September 22, 2012

    Di Gramedia ada nggak bukunya? Tertarik nih, Mas.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    September 24, 2012

    Tentang biaya upacara itu, memang benar adanya, muahalll… Tapi anehnya, kok ya tetap bisa berjalan, walaupun sebagian menggerutu tentang mahalnya.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *