Belajar Keragaman dari Keluarga Braiden

Prince William Tall Ship

Bulan Oktober selalu mengingatkanku pada Daniel Braden, pemuda asal London, Inggris. Kami tidak pernah bertemu secara fisik. Aku hanya membaca namanya di monumen Bom Bali di jalan Legian Kuta. Braden adalah salah satu dari 202 korban peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002 lalu.

Namun kematian Braden melahirkan semangat baru bagi pacarnya, Jun Hirst, tentang perlunya membuat dialog lintas budaya antar-remaja. Menurut Jun, yang juga lahir dari keragaman Jepang – Inggris, peledakan bom di Kuta lahir dari fanatisme pada identitas diri dan kebencian pada identitas orang lain.

Jun bersama orang tua Braden, Claire dan Alexander kemudian mendirikan Encompass Trust. Menurut mereka pembunuhan terhadap Daniel akan bisa dicegah dengan pikiran yang terbuka di antara para remaja. Maka, remaja inilah yang jadi kelompok yang mereka ajak untuk berdialog. Tiap tahun mereka mengundang remaja dari berbagai latar belakang berbeda untuk berdialog lewat kegiatan bersama.

Aku salah satu remaja yang beruntung itu. Selama sekitar 10 hari, aku dan delapan teman lain dari Indonesia diajak berdialog sekaligus mengenal tentang pluralisme dengan remaja lain dari Inggris, Irlandia, dan Israel sambil berlayar di Laut Utara Eropa pada Oktober 2003.

Diskusi tentang agama dan identitas itu tidak didiskusikan secara khusus tapi di sela kegiatan berlayar bersama. Jadi misalnya ketika bertugas mengendalikan kemudi kapal, aku bisa ngobrol dengan Sam, teman satu timku tentang bagaimana kehidupan di Inggris.

Salah satu peserta yang paling mengesankan bagiku saat itu adalah Itay Yoseph Lachman orang Yahudi Israel yang benar-benar mengubah pandanganku tentang orang Israel. Itay benar-benar sangat santun, berbeda jauh dengan bayangan tentang orang Israel dan Yahudi yang aku peroleh dari media. Dia menjadi teman paling akrab selama pelayaran sekaligus duta paling bagus untuk mengenal Israel dan Yahudi.

Aku belajar tentang keragaman yang disebarluaskan oleh semangat Daniel Braden.

Tapi bukan hanya Braden. Negara asalnya, Inggris, juga mengajarkan lebih jelas tentang bagaimana keragaman itu berjalan. Selama pelayaran dari Ipswich hingga Hull, aku juga mengenal anak-anak muslim keturunan Pakistan yang sudah jadi warga Inggris. Mereka adalah bukti betapa Inggrisnya adalah rumah untuk keragaman itu.

Ketika jalan-jalan di London aku juga melihat sendiri betapa beragamnya negara ini. Dengan mudah aku menemukan perempuan berjilbab atau laki-laki berwajah India memakai topi khas Singh atau orang-orang berkulit gelap, sesuatu yang mudah ditemukan di negara lain. Inggris benar-benar surga bagi orang-orang yang tak hanya menerima tapi juga dengan suka cita merayakan keragaman sepertiku.

Inilah salah satu alasan kenapa saya sangat bernafsu suatu saat bisa belajar di Inggris. Saya ingin ikut merayakan keragaman itu.

Namun, keragaman hanya salah satu yang membuatku kepincut pada negara ini. Hal lain yang membuatku bernafsu bisa belajar di negara ini adalah karena medianya, terutama kantor berita BBC. Sebatas yang aku tahu, media ini adalah salah satu media –atau malah yang paling- independen di dunia. Salah satunya karena media ini dimiliki publik.

Berbeda dengan media di Indonesia, katakanlah detik.com yang dimiliki oleh perusahaan swasta, atau kantor berita Antara yang dimiliki negara, maka BBC dimiliki oleh publik. Maka, lembaga ini tidak punya kepentingan secara langsung misalnya dengan Perdana Menteri Inggris karena pembiayaan mereka memang dari publik, bukan dari negara.

Karena itu pula, maka media di Inggris termasuk BBC bisa menyampaikan informasi dengan lebih berimbang dibanding, misalnya media di Amerika Serikat yang cenderung pro pemerintah. Pada masa George Bush misalnya, CNN sebagai media negara tegas mendukung sikap Bush yang menyerang Afghanistan ataupun Irak atas nama perang terhadap terorisme. Berbeda dengan CNN yang secara konsisten menolak perang terhadap negara lain atas nama pemberantasan terorisme.

Keseharian Inggris yang hidup dalam keragaman, aku yakin, berpengaruh banyak pada media di sana yang relatif tidak bias dalam menyikapi isu besar dan sensitif semacam labelisasi teroris pada kelompok Islam. Contohnya, media-media Inggris tidaklah masuk kelompok media konservatif, katakanlah seperti media Denmark Jyllands Posten yang secara provokatif menampilkan kartun Nabi Muhammad yang bagi sebagian muslim dianggap melecehkan.

Warga Inggris seperti keluarga Braden serta media di negara ini seperti BBC adalah kekuatan yang terus memanggil. Bahwa suatu saat aku harus pernah belajar lebih dalam dari mereka tentang keragaman dan tentang kejernihan melaporkan persoalan..

7 Comments
  • Cahya
    October 10, 2009

    Entah kenapa tidak semua orang menyukai keragaman, padahal sebagian besar orang pastilah merindukan kedamaian.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    itu dia. karena dia menyukai keragaman, maka dia memilih tidak suka ketika orang lain suka. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    October 11, 2009

    btw, postingan makin rajin nih, kayaknya gairah ngeblog sudah kembali πŸ˜€

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    hanya menuliskan yg tertunda. seperti biasa. πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    October 12, 2009

    good luck buat ke inggrisnya πŸ™‚

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    tengs.. tp itu udah lama banget. makanya pengen lagi ke sana. πŸ™

    ReplyReply

    [Reply]

  • Nabhan F. Choiron
    November 3, 2009

    Wah, mas anton…njenengan ikut Blog kompetisi ini juga…waduh, ceritane ini kompetisi dengan senior..heheh
    anyway, sekarang Encompass Indonesia udah establish mas, rencana mau buat dokumenter, kebetulan ada seseorang dari Jakarta yg ingin ngliput alumni2 Encompass..ntar in case we need your help ya mas.. Salam

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *