Belajar Islam Saat Odalan

17 , , , , Permalink 0

Sembahyang saat Odalan di Bali

Menjadi menantu orang Hindu Bali membuat saya juga harus bertoleransi pada upacara-upacara yang diadakan keluarga. Bukan hanya keluarga kecil seperti mertua atau saudara ipar tapi juga keluarga besar. Salah satu ciri khas Bali kan karena kuatnya ikatan di antara keluarga besar terutama saat upacara agama.

Saya tidak terlalu sering ikut upacara seperti pawiwahan (pernikahan), mepandes (potong gigi), atau odalan (perayaan enam bulanan pura keluarga atau desa). Biasanya sih alasannya karena sok sibuk atau karena memang agak malas juga. Bayangkan saja kalau odalan itu diadakan tiap enam bulan sekali di masing-masing keluarga. Kalau ada enam saudara yang mengadakan odalan, berarti bisa tiap bulan saya ikut upcara.

Kalau sudah mikir begini, saya baru bisa memahami kenapa sebagian teman Hindu merasa kegiatan upacara itu agak memberatkan bagi mereka. Lha kalau mereka punya puluhan keluarga berbeda yang melakukan odalan semua, bisa-bisa tiap minggu mereka harus ikut odalan. Hehe.. Itu baru odalan, belum lagi upacara-upacara lain yang seabrek-abrek jumlahnya.

Tapi saya toh sekali-kali harus setor wajah kalau ada upacara keluarga, entah keluarga dekat ataupun keluarga besar. Salah satunya Sabtu ini ketika ada odalan di kampung halaman mertua di Desa Pekarangan, Kecamatan Manggis, Karangasem, sekitar 70 km timur dari Denpasar.

Saya ikut odalan di kampung sekalian menebus rasa bersalah karena seminggu sebelumnya tidak ikut odalan di sanggah kakak ipar. Juga, seperti biasa, sebagai bagian untuk mengenal Hindu ataupun Bali lebih dekat.

Secara sederhana, odalan adalah peringatan enam bulanan sebuah pura keluarga ataupun pura desa. Bali menggunakan kalender bulan, seperti halnya Islam, bukan kalender matahari. Nah tiap enam bulan sekali kalender Bali inilah sebuah pura akan diperingati dengan upacara yang disebut odalan tersebut.

Kali ini pun saya ikut odalan tersebut. Saya biasa hanya milu-milu tuwung alias sekadar ikut sambil ngobrol dengan keluarga yang ada di sana. Obrolannya seputar adat atau ritual agama. Saya merasa bisa mengenal wajah Bali lebih dalam dengan cara-cara terlibat langsung begini. Sekalian menunjukkan bahwa meski berbeda keyakinan, karena saya muslim, saya tetap bisa ikut dalam ritual mereka.

Tapi odalan kali ini ternyata malah sebaliknya. Giliran saya yang harus memberikan khotbah ketika odalan. Hehe.. Sambil duduk di salah bale di samping pura menunggu kesiapan pemangku (pemimpin upacara), saya malah ditanya banyak tentang Islam, terutama soal haji. Salah satu pekak (kakek) dengan antusias bertanya tentang apa sih haji itu, bagaimana pelaksanaannya, dan seterusnya.

Pertanyaan itu berawal dari kabar bahwa ibu saya berencana berangkat haji tahun ini. Kabar ini disambut gembira keluarga di Bali, termasuk keluarga besar. Sebab menurut mereka orang yang sudah melaksanakan ibadah haji berarti secara spiritual sudah meningkat derajatnya dibanding yang belum naik haji.

“Kalau sudah naik haji itu berarti tidak boleh mengurusi dunia ya?” tanya kakek itu.

“Katanya orang tidak boleh naik haji kalau biayanya berhutang,” sahut yang lain.

“Apakah orang yang sudah naik haji berarti harus pakai kopiah putih?” pemedek (orang yang ikut bersembahyang) lain ikut bertanya.

Maka, dengan pengetahuan agama sak iprit seperti hitamnya kuku, saya menjelaskan apa yang saya tahu tentang haji. Misalnya bahwa orang yang sudah naik haji tidaklah seperti pemangku dalam kepercayaan Hindu yang tidak boleh lagi mengerjakan hal-hal tertentu yang dianggap lebih rendah.

Menurut kakek itu, orang yang sudah menjadi pemangku tidak boleh lagi misalnya makan daging hewan berkaki empat seperti babi atau sapi. Pemangku juga tidak boleh, misalnya, memandu orang yang sudah meninggal. Dia menganggap bahwa orang yang sudah naik haji juga begitu. Saya jawab tidak. Sebab, setahu saya, Islam tidak mengenal hierarki begitu hanya karena intensitas ibadahnya. Misalnya, secara ritual ataupun sosial orang yang sudah naik haji pada dasarnya sama saja dengan orang yang belum naik haji.

Di kampung halaman saya di Mencorek Lamongan Jawa Timur, misalnya, orang yang sudah naik haji tidaklah berarti otomatis akan jadi imam saat sholat jamaah di masjid. Kebetulan di desa saya itu baru ada tiga orang yang sudah naik haji. Satunya memang kiai di kampung. Dua yang lain suami istri yang bisa dikatakan paling kaya di desa kecil tersebut.

Pengertian haji, secara sederhana, adalah napak tilas. Sama dengan tirtayatra yang dilakukan orang Hindu Bali ke India. Haji sendiri adalah salah satu dari lima rukun (kewajiban) seorang muslim. Empat yang lain adalah syahadat yang mirip pernyataan terucap dengan pacar ketika baru jadian, sholat, puasa, dan membayar zakat. Meski demikian, haji hanya diwajibkan untuk mereka yang mampu secara psikis, fisik ataupun finansial.

Sepertinya finansial adalah hal terpenting. Karena itu, seperti ditanyakan salah satu keluarga, orang yang naik haji tidak boleh menggunakan biaya dari berhutang. Jadi ibadah haji itu lebih pada kemampuan orang secara materi dibanding orang yang secara spiritual atau keagamaan dianggap lebih tinggi. Jadi orang yang punya duit banyak lebih bisa naik haji dibanding orang yang punya ilmu agama lebih baik.

Selain itu, naik haji juga urusannya dengan Tuhan, bukan dengan manusia. Jadi tidak berarti setelah orang itu naik haji maka secara sosial atau spiritual dianggap lebih tinggi dibanding yang lain. Yang menilai ya yang di atas, bukan manusia. Ini sama saja dengan ibadah lain dalam Islam yang disebut dengan hablum minallah yaitu hubungan dengan Tuhan. Ibadah seperti sholat, puasa, dan haji adalah urusan masing-masing orang tersebut dengan Tuhan. Bukan untuk dipamerkan pada manusia lain.

Karena itu pula saya agak heran dengan orang yang kemudian mencantumkan tambahan kata “Haji” di depan namanya setelah dia selesai melaksanakan haji. Masak ibadah saja harus dipamer-pamerkan..

Haji tidaknya seseorang juga tidak harus ditunjukkan lewat pakaian, termasuk kopiah putih. Lha kalau cewek kan tidak mungkin pakai kopiah putih hanya karena sudah naik haji. Penggunaan kopiah putih ini lebih banyak karena budaya setempat, tidak ada hubungannya dengan sudah tidaknya seseorang naik haji.

Penjelasan ala kadarnya ini cukup membuat keluarga besar saya yang ikut odalan memiliki pengetahuan baru tentang Islam, khususnya soal haji. Senang rasanya bisa berdialog seperti ini sehingga satu sama lain akan saling memahami.

Masalahnya, saya sendiri juga agak takut memberikan banyak informasi. Pertama karena saya bukan tipe orang yang suka ngomong soal ritual-ritual agama apalagi pada penganut agama lain. Kedua, saya takut apa yang saya sampaikan juga tidak tepat karena ilmu agama yang sak iprit itu tadi.

Toh, bagi mereka itu sudah menyenangkan. “Seharusnya kita lebih banyak ngobrol seperti ini ya. Jadi satu sama lain akan lebih saling menghargai,” kata salah satu orang di bale itu. Yap. Saya benar-benar setuju.

17 Comments
  • sinyoe
    October 10, 2009

    nice artikel ton ……

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    tengs, mas. nice comment also. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Joddie
    October 11, 2009

    Wah.. keren dialognya neh.. hmmm.. seandainya setiap orang bisa terbuka seperti ini, mungkin akan tercipta kerukunan antar umat beragama yg cukup harmonis.. nice inspiration… thanks..

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    dialog-dialog seperti ini memang harus sering dilakukan, mas. kadang2 memang agak canggung. tapi justru dari situ kita bisa belajar dan mengenal satu sama lain sehingga bisa saling menghargai perbedaan..

    ReplyReply

    [Reply]

  • sugeng
    October 11, 2009

    Setuju !!! biar ada pencerahan bagi yang agak “gelap”. Semoga bisa diganjar pahala dan yang belum mendapat Nur Cahaya bisa mendapat Hidayah.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    agak “gelap” juga penting kok, mas. biar kita tau ada yg terang. hehe. asal jangan merendahkan apalagi meniadakan yg gelap. kalau semua terang kan gak asik juga. hehe..

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    October 11, 2009

    menarik sekali sir… mengetahui tentang agama lain itu perlu, asalkan ketika membicarakannya tidak ada kalimat merendahkan atau pun terlalu memuji salah satu agama karena pada dasarnya semua sama..

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    kalau ada yg merendahkan orang lain, bisa jadi itu karena dia sendiri belum cukup pengetahuannya soal agama lain tersebut. taunya hanya sedikit2. itu pun yg diambil yg dianggap jelek saja oleh dia.

    ini sering terjadi di salah satu milis yg aku ikuti. 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    October 12, 2009

    hehehe~ makanya lbh sering ikutan upacaranya mas 😛

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    hehe. soale aku mmg pemalas utk urusan ritual. yg penting kan baik hati.

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    October 13, 2009

    Terakhir saya ngobrol dengan Nyame Muslim, pas pernikahan kakak ipar. Kebetulan mengambil gadis dari Malang. Ortu dan kedua adiknyapun diajak ngobrol kangin kauh, seputar keingintahuan kedua pihak terhadap budaya dan agama masing-masing.
    Kehangatan itu tidak terjadi ketika saya ngobrol dengan seseorang yang memiliki paham fanatik terhadap Muslim. Ini terjadi ketika saya masih memiliki tampang Teroris setahun lalu. Oknum tersebut percaya kalo saya adalah seseorang yang baru belajar tentang isLam. He…

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    wahaha, ternyata bli pande jg jadi korban stigma. itu dia yg kasian sekarang. banyak orang jd korban stigma hanya karena penampilannya.

    teroris memang berhasil merusak semua orang termasuk cara pandang kita pada orang lain. mari kita lawan dengan menyebarkan keragaman..

    ReplyReply

    [Reply]

  • ekabelog
    October 13, 2009

    boleh ralat sedikit OM…kakek saya pemangku(Mangku Dalem) boleh kok makan daging sama memandu orang yang sudah meninggal, yang dimaksud Pedanda mungkin yah…heheh…sok tahu saya…

    Obrolan yang bagus nih om, saya juga pernah ngobrol sama teman muslim tentang puasa dan Idul Fitri…

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    terima kasih koreksinya. sptnya yg mereka maksud memang pedanda, bukan pemangku. tp pemangku di keluarga besarku mmg ga makan daging hewan berkaki empat itu.

    ReplyReply

    [Reply]

  • pushandaka
    October 16, 2009

    Wah, menarik ton, walaupun jujur saja aku sering banget ngobrol seperti ini bersama pacarku, yang berbeda agama.

    Aku juga sering ditanya tentang hindu oleh keluarga besar di jawa yang beragama islam dan khatolik.

    Yang lebih aneh, aku malah sering ditanya tentang islam oleh orang-orang dari keluarga besar di bali.

    Padahal sudah kubilang ke mereka, agama yang kuyakini adalah Budi Pekerti. Ndak banyak doa, ndak banyak mantra. Yang pernting berbuat baik untuk sesama! Oh yeah!!

    Haehaehae..! 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Herry Wongkeb
    April 4, 2011

    “Karena itu pula saya agak heran dengan orang yang kemudian mencantumkan tambahan kata “Haji” di depan namanya setelah dia selesai melaksanakan haji. Masak ibadah saja harus dipamer-pamerkan..” I likes this statement… buktikanlah haji dengan keluhuran budi dan ke”bergunaan” bagi sesama manusia!! Nice posting, salam kenal…

    ReplyReply

    [Reply]

  • sariya
    February 26, 2015

    Si Anton ternyata berasal dari lamongan ….hiiii…ngeri
    pasti kenal dengan ini : *mr*z* ….hiii..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *