Beban Berat di Balik Nama

1 , , Permalink 0

Batman-Bin-Suparman-2784333 Teman yang pendiam itu harus berurusan dengan pengadilan.

Sekitar dua minggu lalu, si teman tersebut, Komang Suryawan, harus ke Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Penyebabnya hanya sesuatu yang bagi banyak orang mungkin sepele, nama.

Suryawan ingin mengubah nama anak laki-lakinya. Ada satu huruf yang ingin dia tambahkan dalam salah satu kata di nama lengkap anaknya tersebut. Dari “Aditya” menjadi Raditya. Hanya beda satu huruf tapi berbeda makna dan “beban” di baliknya.

Perubahan nama tersebut harus dia lakukan karena satu alasan, anaknya sering sakit. Sebagai orang rasional, dia berobat ke dokter. Ternyata si anak masih saja suka sakit meskipun termasuk ringan, demam, pilek, dan semacam itulah.

Maka, sebagai orang Bali, Suryawan pun bertanya ke tempat “orang pintar”. Ada apakah gerangan sehingga anaknya gampang sakit. “Orang pintar” yang dalam bahasa Bali disebut balian memberikan alasan si anak terlalu berat menyandang nama.

Aditya, menurut sang Balian, adalah julukan untuk Dewa Wisnu. Ada pula yang menyebut Aditya adalah Dewa Matahari dalam kepercayaan Hindu, di India ataupun Bali. Karena itu, sang Balian menyarankan agar nama tersebut diubah menjadi “Raditya”. Artinya matahari. Suryawan sepakat.

Setelah perubahan secara adat Bali, Suryawan masih harus berurusan dengan pengadilan. Secara legal formal, harus ada keputusan pengadilan bahwa dia mengganti nama anaknya. Barulah kemudian hasil sidang tersebut dibawa ke kantor Catatan Sipil untuk pergantian akta.

Resmilah kini, secara adat maupun legal, nama anaknya berubah dari Aditya menjadi Raditya.

Tapi, urusan ganti nama bukan semata urusan Suryawan. Juga bukan hanya di Bali. Aku ingat ketika masih SD. Ada teman sekelas berganti nama menjadi “Joko Uripno”. Alasannya kurang lebih sama, si teman itu suka sakit-sakitan karena namanya.

Ndilalah, setelah ganti nama, dia sehat terus. Aku dengar dia sekarang jadi salah satu pengusaha sukses di kampung halamannya.

Teman lain juga pernah bercerita ada keluarganya berganti nama terus gara-gara suka sakit. Karena masih saja sakit meskipun sudah berganti-ganti nama, akhirnya si anak tersebut mendapatkan nama unik, “Tanpo Nomo”. Artinya jelas: “Tanpa Nama”.

Begitulah nama menjadi “beban” atau “keuntungan” bagi si pemiliknya. Bagi orang tua pemberi nama, nama si anak adalah doa atau penanda. Mereka berharap, dengan nama tersebut, si anak bisa mewujudkan harapan-harapan di balik nama.

Shakspeare mungkin harus belajar dari orang Bali atau Jawa, bahwa nama selalu punya makna dan doa beserta seluruh konsekuensi di baliknya.

1 Comment
  • imadewira
    February 17, 2014

    Indonesia, khususnya Bali memang punya keunikan soal Nama ini.

    Yang lebih ribet lagi mungkin nama yang kaitannya dengan Kasta. Konon di Bali, soal kasta ini menjadi ribet karena tidak semua orang boleh menggunakan kata tertentu pada nama.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *