Bangga Indonesia dengan Apa Adanya

10 , , Permalink 0
Tentu saja tidak ada yang sempurna dalam semua sistem. Begitu pula demokrasi. Seorang teman pernah berujar, kelemahan demokrasi adalah karena kecenderungannya untuk menilai banyak hal berdasarkan jumlah. Begitu pula hitung-hitungan dalam demokrasi di Indonesia, juga dalam Pemilu kali ini.

Secara sederhana, demokrasi sejalan lurus dengan kemauan mayoritas. Ketika mayoritas memang menghendaki si A yang jadi pemimpin, maka minoritas harus menerimanya meski mereka tidak suka si A. Apa boleh buat inilah yang digariskan demokrasi. Secara sarkas, teman lain pernah bilang bahwa dalam demokrasi pun jadi sah kalau manusia pun dianggap sebagai kambing hanya karena mayoritas menganggap manusia tersebut sebagai kambing.

Tapi ya inilah sistem politik yang paling banyak digunakan di dunia. Dia memberikan tempat untuk semua orang untuk bersuara. Dia memberikan peluang pada semua orang untuk terlibat dan berperan meski kadang tenggelam di antara suara umum. Tapi setidaknya tidak ada orang yang dibungkam dengan sengaja. Tidak ada pergantian kepemimpinan di bawah tekanan senjata.

Karena itulah, sekali lagi termasuk semua catatan di dalamnya, mari bangga pada Indonesia. Hari ini kita bisa merayakan pesta demokrasi itu meski sekali lagi termasuk dengan semua catatan di dalamnya.

Terlalu berlebihan mungkin. Tapi dalam konteks demokrasi, negeri ini melangkah jauh lebih bagus dibandingkan negara tetangganya.

Bandingkan dengan Malaysia di mana rasisme masih saja kuat dan dipelihara oleh negara. Di negeri jiran ini masih ada kebijakan untuk mengutamakan etnis Melayu dibanding etnis India dan China. Negeri ini pun masih saja membungkam kebebasan berpendapat. Atau Singapura yang tak memberi tempat untuk suara alternatif selain pemerintah. Ya, ini kalau kita melihat dua negara ini menggunakan kacamata demokrasi.

Bandingkan pula Indonesia dengan Filipina tempat di mana kekerasan, penembakan, bahkan pembunuhan masih jadi menu sehari-hari di negeri ini. Filipina adalah salah satu negara tanpa perang dengan ancaman tertinggi untuk wartawan. Lalu lihat pula Thailand. Sampai hari ini, suhu politik di negeri gajah ini masih juga naik turun. Dua tahun lalu militer melakukan kudeta lalu disusul gonjang-ganjing politik yang tak juga reda.

Dari sisi demokratisasi, Indonesia melangkah lebih baik dibanding negara-negara tetangga itu. Maka, karena itu dengan senang hati aku turut serta merayakan kebebasan memilih pada hari ini. Memang masih banyak masalah. Masih banyak calon anggota legislatif yang tidak jelas latar belakangnya. Masih banyak orang memilih hanya karena uang dibanding program. Dan banyak catatan lain.

Tapi marilah percaya diri. Semua cacat itu masih bisa diperbaiki. Kita tak bisa menguahnya hanya dengan terus membiarkan antipati dalam diri kita..

10 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *