Balita Bali Diduga Terinfeksi

0 , Permalink 0
Seorang bayi di bawah lima tahun (balita) di Bali diduga terinfeksi penyakit avian influenza (AI) yang lebih dikenal dengan nama flu burung. Anak berumur 3,5 tahun bernama Kadek Heri Darmaputra tersebut merupakan putra kedua pasangan I Kadek Adnyana, 29 tahun, dan Ni wayan Sumiati, 28 tahun, warga Banjar Senganan Kangin, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

Dugaan bahwa Kadek Heri terinfeksi flu burung diketahui Minggu (25/1) lalu. Pada hari Manis Kuningan (sehari setelah hari raya Kuningan di Bali) tersebut, Kadek Heri belum juga sembuh setelah sakit sejak dua minggu sebelumnya. Balita yang belum sekolah itu menderita panas sampai 39 derajat celcius, pilek, dan kejang atau step. Padahal Kadek Heri sudah dibawa ke bidan, mantri, maupun puskesmas setempat. Tiga kali berobat, Kadek sudah diberi sirup penurun panas. “Tapi kondisi anak tiang tidak berubah,” kata Sumiati.

Kadek pun dibawa ke dr Hanawati yang berpraktek di Desa Buruan, Kecamatan Penebel, sekitar 3 km dari tempat mereka tinggal. Hanawati kemudian melapor kepada dr Made Molin Yudiasa, suaminya yang juga Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Karena di desa Senganan dan sekitarnya seperti Desa Bolangan dan Desa Babahan sendiri ratusan ribu ayam telah mati sejak November lalu maka menurut Molin, anak tersebut sangat rentan terkena flu burung.

Toh, menurut Molin infeksi flu burung pada anak tersebut masih sebatas dugaan. Hingga saat ini, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukannya, anak itu hanya mengalami demam biasa. Gejala flu burung tidak hanya demam tapi juga flu dan batuk. Selain itu, tambah Molin, untuk lebih memastikan anak tersebut kena flu burung atau tidak, dia harus diperiksa di laboratorium.

Dugaan flu burung ini, tambah Molin, karena ibu Kadek Heri bekerja di peternakan ayam di kampungnya. Ketika berkonsultasi kepadanya, oleh Molin dikatakan agar ibu tersebut berhati-hati karena saat ini anak kecil rentan kena flu burung. Kalau pulang kerja, sebelum dekat anaknya, ibu itu harus sudah bersih. “Rupanya dia salah mengerti sehingga dikira anaknya positif kena flu burung padahal belum pasti,” kata Molin per telepon.

Ketika GATRA melihat anak itu, kondisinya masih sakit. Dia lebih sering mendekapkan kepala ke dada ibunya. Dia duduk memeluk di pangkuan ibunya yang duduk di dipan beralas karpet merah di depan rumahnya. Suhu badannya agak panas, mungkin sekitar 30 derajat celcius. Tetes-tetes keringat terlihat di wajahnya meski tidak terlalu banyak.

Kadek Heri mengenakan baju kaos hijau dengan jaket kuning, dan celana pendek hijau bergaris. Hidungnya terlihat agak beringus. Dia tidak menangis dan selalu melihat beberapa orang yang di sekitarnya. Beberapa tetangganya, termasuk Kepala Desa Senganan dan Kapolsek Penebel menjenguknya.

Sehari-hari, Sumiati bekerja sebagai buruh di salah satu kandang ayam di desanya. Dia bekerja setiap hari sendirian. Pagi hari dia memberi makan lalu pulang. Jam sepuluh dia ke kandang lagi untuk memberi makan. Balik sekitar jam 3 sore untuk mengambil telur, memberi minum, dan membersihkan kandang hingga sekitar pukul 5.

Dalam pantauan GATRA, tidak ada satu pun ayam sakit di peternakan yang terdiri dari dua kandang ini. Gusti Ngurah Kayan Suardika, pemiliknya juga mengatakan ayamnya tidak ada yang mati satupun.

Rumah Kadek Heri tidak terlalu jauh dari peternakan ayam ini. Hanya sekitar 20 meter di seberang jalan. Kadek Heri dan orangtuanya tinggal bersama tiga keluarga lainnya di satu rumah, meski terpisah bangunan. Rumah gaya Bali memang berupa beberapa bangunan yang terpisah, tidak menjadi satu. Rumah itu berlantai semen, berdinding tembok putih, dan beratap genteng. Di sebelahnya ada kandang ayam berisi sekitar 10 ekor yang dibiarkan lepas. Kotoran ayam itu terlihat membekas di lantai depan rumah mereka.

Sumiati mengaku tidak pernah tahu tentang flu burung. Dia hanya tahu bahwa ribuan ayam di desanya dan desa tetangga tiba-tiba mati. Karena tidak tahu tentang flu burung itu, maka Sumiati tidak pernah mengganti baju atau membersihkan diri sepulang kerja. “Sebelumnya juga anak tiang tidak pernah sakit karena tiang bekerja di sana,” katanya.

Kadek Heri memang pernah sakit panas dan kejang sekitar tiga bulan lalu, namun lima hari kemudian sudah sembuh. Sedangkan Luh Krisna Damayanti, anak pertamanya yang berumur 9 tahun dan kelas II di SD Senganan hingga saat ini masih sehat.

Sebelum sakit, Kadek Heri dan Luh Krisna bahkan sering main ke kandang ayam tempanya bekerja. Kini, sejak sekitar 16 hari yang lalu, Kadek Heri hanya tidur di rumah. Untuk makan dia hanya mau bubur yang itupun tidak dihabiskan. Menurut Sumiati, setelah mendapat obat berupa serbuk penurun panas dari dr Molin Yudiasa, kondisi anaknya berangsur pulih. Badannya tidak sepanas sebelumnya dan tidak lagi sesak napas meski kadang masih batuk. “Tapi tiang masih khawatir,” akunya. Wajahnya terlihat agak kuyu, meski tetap berusaha tersenyum ketika diajak ngobrol.

Kekhawatiran yang sama juga masih dialami beberapa warga Senganan lainnya. Ni Wayan Sujianisih, 29 tahun, misalnya, mengaku sekarang sangat mengkhawatirkan kondisi anak keduanya Kadek Rama Bayupramuja yang berumur 10 bulan. “Saya takut dia juga akan sakit seperti Kadek Heri,” aku ibu dua anak ini.

Sujianisih memang juga buruh di peternakan ayam. Kini, sehabis bekerja, dia mandi dulu dan berganti pakaian sebelum bertemua anaknya. Padahal sebelumnya dia cuek saja. Meski sempat sakit demam, anaknya kini sudah sembuh seperti sebelumnya.

Senganan dan desa sekitarnya merupakan sentra peternak ayam petelur maupun daging. Kepala Desa Senganan I Made Kuasa mengatakan sebagian besar penduduk desa di dekat Gunung Batukaru, Tabanan itu memang bergantung pada peternakan ayam. Sejak keluar dari Kecamatan Tabanan dan masuk Kecamatan Penebel, di kanan kiri jalan terdapat puluhan kandang ayam. Menurut Kuasa ada sekitar 80 peternak ayam di desanya.

Toh, kini sebagian besar ayam itu telah mati akibat penyakit AI. Di beberapa kandang, terlihat kosong karena semua ayamnya telah mati. Sedangkan di kandang lain, satu dua bangkai ayam tergeletak di lantai tanah kandang ayam petelur tersebut.

Nyoman Muliartha, salah satu peternak di Senganan mengaku seluruh ayamnya telah dibakar karena mati. Kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp 300 juta. “Grubug (penyakit) ini masalah terberat yang pernah kami alami,” kata Muliartha. Tidak hanya pemilik, buruh di peternakan itu pun kini bingung. I Kadek Yoga, warga Singaraja yang menjadi buruh di Senganan bahkan berencana pulang. “Kalau semua ayamnya sudah mati, lalu saya mau buruh ke siapa,” katanya. [#]

Comments are closed.