Bali dari Solidaritas menuju Rivalitas

0 , , Permalink 0

Rivalitas di jalan raya Denpasar

Melupakan pertanian, Bali kian kehilangan akar..

Budaya Bali itu berakar pada pertanian. Tidak ada ritual Bali yang bisa lepas dari akar ini. Nyepi, Galungan, Kuningan, Odalan, dan seterusnya.

Ritual-ritual itu pada umumnya menyesuaikan dengan kalender pertanian. Odalan tiap enam bulan sekali, misalnya, mengacu pada kalender tanam padi, komoditas utama pertanian Bali zaman dulu.

Ketika masih membudidayakan padi lokal, petani Bali hanya panen padi enam bulan sekali. Setelah panen, mereka punya waktu untuk melaksanakan upacara-upacara. Namun, Revolusi Hijau kemudian mengubah budaya itu. Panen tak lagi datang enam bulan sekali tapi lebih cepat, tiga bulan sekali.

Tradisi Nyepi di beberapa tempat, di luar Nyepi yang telanjur diseragamkan, juga sebagai bagian dari istirahat setelah panen padi.

Budaya pertanian juga berpengaruh pada bahan-bahan dalam upacara Hindu Bali. Lihatlah penjor yang menjulang tinggi. Bahan utamanya terbuat dari bambu. Hiasan yang melilit di sekujur tubuhnya adalah janur. Pernak-pernik yang menghiasi penjor adalah hasil-hasil pertanian: pisang, kelapa, padi, dan seterusnya.

Anggun ujung penjor yang merunduk kembali ke Bumi adalah penghormatan pada tempat di mana dia berpijak dan menghidup. Tanah.

Tak hanya secara kasat mata, budaya-budaya pertanian itu juga berpengaruh pada sistem kemasyarakatan. Pertanian di Bali, pada dasarnya adalah sistem pertanian komunal. Para petani harus berkelompok. Saling membantu dan membagi.

Pertanian secara tradisional melahirkan solidaritas.

Solidaritas itu pula yang menghidupkan manusia Bali dari zaman ke zaman. Solidaritas untuk berbagi air secara adil agar semua sawah mendapatkan air. Solidaritas bekerja secara gotong royong secara bergiliran. Lahirlah sistem subak, teknologi pengairan tradisional yang justru sangat adil dan merata.

Dari sawah, solidaritas itu juga dibawa ke ranah sosial dan budaya. Upacara harus bersama-sama. Odalan harus bersama-sama. Bahkan upacara kematian pun harus diiringi semua keluarga dan tetangga.

Orang Bali “dikutuk” untuk nyaman dalam kerumunannya.

Hingga pelan-pelan, solidaritas itu makin hilang seiring kian banyaknya alih fungsi lahan. Sawah kian berganti. Begitu pula dengan kesetiakawanan.

Saya tidak tahu pasti penyebabnya. Bisa jadi karena modernisasi. Bisa juga akibat pariwisata. Kenyataannya, budaya pertanian di Bali sudah berganti dengan budaya pariwisata di mana citra adalah segalanya.

Solidaritas yang dulu dibangun mulai dari kebun sawah, kini berganti dengan rivalitas di jalan raya. Tak peduli tetangga dan keluarga sendiri sekali pun.

Pagi hari, ketika berangkat ke tempat kerja, orang-orang di jalan yang kita temui bukan lagi orang-orang tempat di mana kita berbagi empati. Mereka adalah lawan di mana kita saling berebutan jalan.

Lihatlah lampu merah di Denpasar yang sepuluh tahun lalu tertib dan rapi, kini makin dipenuhi penyerobot dan pelanggar. Lihatlah rumah-rumah yang makin mewah tapi di sisi lain justru pagar-pagarnya kian tinggi.

Apa solusinya? Entahlah. Banyak yang lebih ahli dibanding saya.

Saya hanya ingin membagi kegelisahan dengan anak-anak muda yang sedang Merekam Bali. Gumaman ini hanya bagian pertama. Delapan minggu ke depan, akan lebih banyak lagi kegelisahan serupa..

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *