Bahkan, Anggota DPR pun Tak Tahu

18 , , Permalink 0
Kami duduk berenam Sabtu kemarin di Art Cafe Jl Hayam Wuruk Denpasar. dr Oka, Mas Rofiqi, Bodrek, Bunda, Agung, dan Bani. Bli Popo datang ketika diskusi hendak berakhir. Keprihatinan terhadap media di Bali yang mempertemukan kami sore itu.

Tanpa mengecilkan peran media di Bali selama ini, kami mencatat masih ada beberapa masalah terkait kualitas media di Bali. Terutama soal makin hilangnya hak publik di media lokal saat ini.

Suara-suara publik di media massa, kini hanya berganti dengan berita-berita iklan yang tersamar. Berita iklan itu seharusnya terpisah dari berita umum. Tapi ini tidak. Berita iklan, yang tentu saja demi kepentingan pemasang iklan, itulah yang menghiasi media di Bali saat ini.

Maka, tiap hari koran, TV, dan radio pun berhias berita peresmian proyek X, si Anu dapat pawisik sebagai penerus kejayaan Nusantara, dan semua berita yang menyanjung-nyanjung.

Atau kalau bukan berita iklan, maka isinya hanya berita kriminal. Si A membunuh si B, si C tewas karena anu, dan semacamnya.

Iklan tentu saja jadi darah sebuah penerbitan. Nyaris tidak ada media di Indonesia yang bisa menggantungkan hidup dari langganan. Karena itu media harus cari iklan. Tapi, iklan pun punya etika. Tidak boleh dicampur aduk dengan berita. Harus ada batas yang jelas mana iklan mana berita.

Sebab tanpa ada batas yang jelas, konsumen media akan tertipu. “Bahkan anggota DPR pun banyak yang tidak tahu kalau berita bertanda bintang adalah iklan, bukan berita,” kata Mas Rofiqi, wartawan TEMPO di Bali.

Karena prinsip berita iklan yang campur aduk di halaman berita beneran ini, maka makin jauh berkurang jatah bagi publik di media. Contohnya adalah prestasi siswa. Adalah tanggung jawab media untuk memuat berita prestasi seorang siswa, dosen, atau siapa pun itu yang memang punya dedikasi.

“Masak orang yang dapat promosi doktor harus bayar untuk masuk koran. Itu kan gak bener,” kurang lebih begitu kata Pak Darma Putra, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana yang kini tinggal di Brisbane, Australia. Kami chatting sehari sebelum kami bikin diskusi.

Parahnya, selama ini di Bali belum banyak yang peduli masalah ini. Kalau toh tahu, mereka lebih banyak diam. Maka, kami sepakat untuk ketemu lagi Minggu (27/7) nanti untuk ngobrol lagi masalah ini.

Mau ikut?

18 Comments
  • made eka
    July 22, 2008

    sayang ga bisa ikut.. masih nempel di sini bli..
    tapi minta postingannya deh..
    mudah2an media yang benar2 berimbang bisa segera terwujud.
    salam

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    July 22, 2008

    @ made eka: oke, ka. bantu doa saja. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • yainal
    July 23, 2008

    hmm.. nunggu oleh2 ketemuannya saja.. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    eh, aku udah pernah posting belum ya hasilnya? hehe..

    ReplyReply

    [Reply]

  • dani
    July 23, 2008

    kenapa ngga dibuat kalimat yg jelas selain tanda bintang ya?

    ngga bole ya? atau sengaja dibuat tersamar? di disclaimer bbrp situs web kedokteran (formal dan informal) luar negeri (mengacu pada honcode), editorial, suplementasi, sponsorship dan sejenisnya hrs disebutkan dgn jelas agar tdk membingungkan pembaca..

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    yap. seharusnya dibuat begitu biar jelas kalo artikel itu memang iklan, bukan berita. dengan begitu pembaca akan bisa mempertimbangkan apakah akan baca atau percaya tulisan tsb.

    kalo tidak, kasian pembaca. sudah beli koran, eh, cuma baca iklan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • budarsa
    July 23, 2008

    kelompok media bp itu memang “terlalu”….
    apalagi koran nasional yang terbit dibali itu.huh

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    maka kita jg jangan terlalu percaya sama media. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    July 23, 2008

    saia aja baru tau kalo berita bertanda bintang di akhir artikel itu berarti iklan :mrgreen: , taunya dari blog nya om anton 😉

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    ah, ada gunanya jg aku nulis di blog. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    July 23, 2008

    saya juga baru tahu “berita iklan” sejak ada BBC dari pak anton.

    yah, beginilah pak, kalau ada yg nanya saya “apa yg bisa diharapkan dari media bali saat ini?”

    jawab saya : “nothing!!”

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    trus apa yg diharapkan dari blogging?

    many thing.. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • gegary
    July 23, 2008

    kalo medianya gak cerdas, paling gak pembacanya harus lebih cerdas…..hehehe…. karena nyadar kalo beritanya akan dibaca sama pembaca yang cerdas, akhirnya pengusaha media berusaha bikin media yang cerdas…. klop deh…

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    hehehe, sayangnys sih banyakan pembaca tidak tau soal itu. jd kasian aja mereka..

    ReplyReply

    [Reply]

  • bogeloblast
    October 28, 2008

    iklan gak iklan ..yang penting berimbang aja dalam pemberitaannya..tetap ada kritisasi dari media…..bukan membela media tempat saya bernaung hihihiiii

    ReplyReply

    [Reply]

    antonemus Reply:

    tentu saja iklan itu penting, bli. malah gak mungkin media bisa hidup tanpa iklan. cuma kan harus fair, jujur.

    yg aku persoalkan tuh kalau iklan itu disembunyikan di dalam berita. kalau itu yg trjadi, beritanya ga mungkin kritis. pasti hanya menuruti kemauan pemasang iklan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • gung ws
    November 3, 2008

    ohoii..salam kenal^^

    yeah!!saia setuju bgt ma pendapatnya,bli!!halaman 2 udah ‘berita bintang’!!dodol!!terutama si ‘babipost’ ituuh..

    ReplyReply

    [Reply]

  • rusakparah
    November 26, 2008

    Ohh gitu toh artinya berita bertanda bintang.. wah dunia jurnalisme emang unik dan menarik ya???

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *