Bagi Industri, Nyepi Adalah Komoditi

9 , , , Permalink 0

Free Beer for Serene Nyepi

Spanduk di depan Circle K Jalan Letda Made Putra Denpasar menarik perhatian kami, Sabtu akhir pekan lalu. Saat itu aku, Bunda, dan Bani sedang melintas di depannya. Spanduk itu mempromosikan bonus satu botol untuk setiap pembelian satu kardus bir Bintang. Dia menarik  perhatian kami karena menggunakan Nyepi sebagai momentum untuk promosi.

“Happy serene Nyepi celebration with Circle K, buy one cartoon get one bottle,” tulis Circle K di spanduk dan poster tersebut.

Seperti sering terjadi di antara kami, tulisan spanduk itu pun jadi bahan obrolan kami sambil melaju di atas sepeda motor bahkan ketika sampai di rumah. Kami merasa, sepertinya asik kalau menulis soal bagaimana pelaku bisnis menggunakan Nyepi sebagai momentum untuk promosi atau bahkan menjadikan Nyepi sebagai komoditi. Bahasa kerennya sih komodifikasi.

Kami sepakat membagi peran. Bunda liputan lapangan tentang promosi para pelaku bisnis dan konsumen menjelang Nyepi. Aku wawancara pemikir yang kami anggap bisa menjelaskannya menurut kaca mata kajian budaya (cultural studies), Prof Dr I Wayan Ardika, Dekan Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali dan Dosen Kajian Budaya.

Tulisan kami ada di sini.

Komodifikasi Nyepi itu memang terjadi, sama halnya dengan komodifikasi perayaan Idul Fitri maupun Natal. Komodifikasi Nyepi ini, menurutku, malah merusak esensi Nyepi itu sendiri.

Begini. Secara teori, ada empat pantangan saat umat Hindu Bali melaksanakan Nyepi. Empat pantangan tersebut adalah menyalakan api (amati geni), bekerja (amati karya), bepergian (amati lelungan), dan bersenang-senang (amati lelanguan). Umat Hindu dilarang melakukan empat kegiatan tersebut selama 24 jam pada saat Nyepi.

Tapi, bagi industri, Nyepi adalah peluang bisnis. Nyepi, yang bagi umat Hindu adalah waktu untuk berefleksi, justru menjadi waktu untuk menawarkan promosi bagi pelaku industri.

Komodifikasi, secara sederhana adalah proses perubahan sesuatu menjadi komoditas, baik barang maupun jasa yang dijual pada konsumen. Perubahan ini terjadi ketika barang atau jasa tersebut dianggap bisa mendatangkan konsumen bagi produk yang dijual. Pada contoh Nyepi, misalnya, komodifikasi itu terjadi ketika Nyepi yang sebenarnya adalah ritual agama justru dimanfaatkan sebagai komoditas alias sesuatu untuk dijual.

Contohnya ya bir dan paket liburan Nyepi itu tadi. Memanfaatkan Nyepi, dua pelaku industri itu menawarkan produk mereka, yang pada bir adalah produk barang sedangkan pada paket makan adalah barang dan jasa.

Komodifikasi Nyepi ini terjadi karena masyarakat semakin konsumtif. Budaya konsumtif itu yang dipakai industri saat menjelang Nyepi. “Orang-orang modern itu sangat konsumtif dan peduli citra. Mereka sibuk merayakan  konsumerisme. Begitu pula dengan orang-orang Bali,” kata Ardika.

Sekali lagi, komodifikasi ini bukan hanya pada Nyepi. Perayaan agama lain pun sami mawon, bahkan lebih parah. Paket diskon besar-besaran menjelang Idul Fitri dan Natal adalah upaya pelaku industri untuk menggiring, atau bahkan membentuk, pikiran orang bahwa tanpa belanja, maka perayaan hari raya adalah nothing. Hari raya adalah hari untuk belanja.

Bagiku ini pertarungan antara yang sakral dengan yang profan, antara esensi dengan citra, antara agama dengan pasar. Dan, apa boleh buat, pasar yang sekarang menang. Faktanya tak sedikit ritual ataupun budaya yang harus menyesuaikan dengan selera pasar.

Di Kuta, Ardika memberikan contoh lain, semula melasti diadakan pada pagi hari. Tapi, untuk membangun citra sekaligus memenuhi ketertarikan turis, maka melasti saat ini dilakukan menjelang matahari tenggelam. “Karena kalau saat sunset bisa menjadi tontonan turis juga,” katanya lalu tertawa.

Kalau ritual sudah menjadi tontonan, maka akan mendatangkan turis makin banyak. Ini adalah logika pasar di mana supply dan demand saling mempengaruhi. “Orang Bali sekarang menjadikan Dewi Pasar, Dewi Melanting sebagai raja. Semua UUD, ujung-ujungnya duit,” lanjutnya.

9 Comments
  • Jangkrik dan Babi Terbang
    March 20, 2010

    memang sih, di tiap perayaan pasti ada aja yang bisa dijadikan celah bisnis. Mendompleng situasi.
    Merusak esensi atau tidak ya tergantung umat yang merayakan.
    Target circle K ini mungkin adalah orang yang ga merayakan Nyepi seperti bule-bule yang lagi di Bali, pelancong yang nginep di hotel atau nge kos di Bali. Mereka dianggap bakal bingung nyari solusi untuk memeriahkan sehari saat nyepi. (Jadi inget Ibnu nih…. haha!)
    tapi kalau yang merayakan juga tergoda itu toh urusan masing-masing. :p
    Si pebisnis menutup mata, lagipula ga ada Undang-undang yang bakal membelit.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wirama
    March 22, 2010

    harusnya ada, “amati memunyah” dan “amati meceki”. eh, itu udah tercover di “amati lelanguan” ya? =D

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tito
    March 25, 2010

    Serene=beer? Ironis juga. Tapi tema post ini memang sangat menarik. Pasar, budaya, agama, semua saling memengaruhi dan kategori-kategori ini mungkin tidak lagi kokoh menjaga batas. Di Australia, berbulan-bulan sebelum Paskah sudah dijual berbagai macam ‘perlengkapan wajib’ paskah seperti telur coklat. Jadi sekarang, ketika paskah sudah dekat, susah untuk merasa bahwa hari itu adalah hari yang khusus.

    ReplyReply

    [Reply]

  • eka dirgantara
    March 26, 2010

    yang ini lebih parah mas…

    http://tweetphoto.com/14373186

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    March 30, 2010

    susah, kalau ujung-ujungnya duit ya semua bisa berubah..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Amy
    April 19, 2010

    memang sih, di tiap perayaan pasti ada aja yang bisa dijadikan celah bisnis. Mendompleng situasi.
    Merusak esensi atau tidak ya tergantung umat yang merayakan.
    Target circle K ini mungkin adalah orang yang ga merayakan Nyepi seperti bule-bule yang lagi di Bali, pelancong yang nginep di hotel atau nge kos di Bali. Mereka dianggap bakal bingung nyari solusi untuk memeriahkan sehari saat nyepi. (Jadi inget Ibnu nih…. haha!)
    tapi kalau yang merayakan juga tergoda itu toh urusan masing-masing. :p
    Si pebisnis menutup mata, lagipula ga ada Undang-undang yang bakal membelit.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Amy
    April 19, 2010

    harusnya ada, “amati memunyah” dan “amati meceki”. eh, itu udah tercover di “amati lelanguan” ya? =D

    ReplyReply

    [Reply]

  • Michelle
    April 20, 2010

    susah, kalau ujung-ujungnya duit ya semua bisa berubah..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Don
    April 28, 2010

    susah, kalau ujung-ujungnya duit ya semua bisa berubah..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *