Apa yang Harus Mereka Rayakan

16 , Permalink 0

Dua anak perempuan itu menyerbu kami di tangga menuju bagian paling bawah Pasar Badung, pasar terbesar di Bali. Mereka membawa keranjang kosong di kepalanya. Muka dan pakaian mereka kusam. Dekil. Rambut kemerahan berantakan.

Aku dan tiga teman segera berhenti. Kami melihat ke mereka lalu saling mengangguk. “Ya sudah. Kita ngobrol sama mereka saja,” kata salah satu teman dari Jakarta itu.

Kami keluar dari areal pasar ke tempat lebih sepi. Dua anak itu bersama kami. Lalu satu gadis lagi menyusul. Tiga atau empat ibu juga mengikuti. Kami lalu ngobrol di tepi jalan di depan pasar yang selalu riuh itu.

Gadis-gadis kecil itu, juga para ibu, adalah buruh pasar (tukang suun) di pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari tersebut. Bedanya ibu-ibu itu memang sudah waktunya bekerja sedangkan anak-anak itu kerja karena terpaksa.

Aku membantu teman dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Jakarta yang sedang membuat pelatihan legal drafting di Bali. Salah satu agenda pelatihan adalah field trip untuk simulasi legal drafting. Dari tiga isu field trip, aku membantu jadi pemandu untuk isu pekerja anak. Pasar Badung salah satu tujuan untuk isu pekerja anak selain ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bali.

Dan, anak-anak perempuan itu memang masih sangat belia untuk bekerja sekeras itu. Usia mereka ada yang delapan tahun, tujuh tahun, bahkan ada yang kurang dari itu. Namun, mereka harus bekerja mengusung barang belanjaan di atas kepala. “Berat,” kata Ketut, salah satu dari anak itu ketika ditanya tentang bawaan mereka di kepala.

Mereka bekerja 12 jam tiap hari, dari pukul enam pagi hingga enam sore. Kerja 12 jam dan mereka hanya dapat rata-rata Rp 10 ribu per hari. Kalau lagi rame seperti Galungan bisa dapat Rp 25 ribu per hari. “Tapi kan jarang-jarang,” kata Komang, anak yang lain.

Dengan pendapatan rata-rata, katakanlah, Rp 300 ribu, anak-anak itu harus menghidupi diri sendiri. Mereka tidak tinggal dengan orang tua. Tapi kos sama temannya. Ada yang berdua, ada yang bertiga. Maka, pendapatan itu harus dipotong untuk kos sekitar Rp 150 ribu dan makan sehari-hari, tentu saja.

But, ini bukan soal bagaimana mereka menghidupi diri sendiri. Ini tentang bagaimana anak-anak itu kehilangan haknya sebagai anak.

Pertama, anak-anak itu tidak ada yang sekolah sama sekali. Semuanya. Ketika anak-anak seumur mereka sedang gembira saat tahun ajaran baru, -setidaknya itu anak-anak di gang rumahku- anak-anak di pasar itu harus bekerja demi hidup mereka. Mencari orang-orang yang belanja, menawarkan jasa, lalu membawa barang belanjaan itu untuk orang yang mau berbelas kasihan pada mereka. Mereka seharusnya ada di kelas. Duduk manis untuk belajar tentang pengetahuan yang seringkali memang hanya omong kosong.

Bukankah Negara (dengan N kapital) sudah berjanji untuk menanggung pendidikan mereka. Lalu?

Kedua, anak-anak itu seharusnya didampingi wali. Di usia itu mereka harusnya masih merasakan hangatnya dekapan orang tua, becanda dengan keluarga, dan seterusnya. Tapi mereka harus kos sendiri di Denpasar. Sementara ibu, bapak, dan kakak mereka tinggal di Tianyar, Karangasem, salah satu daerah termiskin di Bali.

Ketiga, anak-anak itu bekerja bahkan melebihi jam kerja orang tua. Bekerja harian, kata aturan soal ketenagakerjaan, seharusnya tak lebih dari dari delapan jam per hari. Tapi ini mereka bekerja sampai 12 jam per hari. “Kadang-kadang kerja lagi sampai jam sepuluh malam,” kata anak lainnya.

Keempat, kelima, keenam, mungkin lebih banyak lagi hal yang seharusnya mereka bisa nikmati tapi harus lenyap karena alasan ekonomi. Parahnya, tidak ada satu pun lembaga atau instansi yang peduli pada mereka. Maka, salah satu peserta field trips yang bekerja di Save the Children UK, hanya bisa menggeram.

Dulu, katanya, Departemen Sosial pernah menawarkan program untuk anak-anak telantar di seluruh provinsi di Indonesia. Namun, Dinas Sosial Bali adalah satu-satunya provinsi yang menolak program itu dengan alasan tidak ada anak jalanan di Bali. “Sombong sekali mereka,” katanya merujuk ke Dinas Sosial Provinsi Bali. “Sekarang saya lihat sendiri bagaimana anak-anak itu disembunyikan dari data,” tambahnya.

Usai ngobrol kami pergi.

Seperti biasa, aku hanya bisa menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Aku hanya bisa menulis tentang kalian. Hanya itu yang bisa kubantu untuk kalian.

Oya, pas sampai di rumah dan baca Kompas aku baru tahu kalau Rabu (23/07) ini adalah Hari Anak Nasional. Selamat Hari Anak untuk kalian. Meski aku tidak tahu apa yang harus kalian rayakan..

16 Comments
  • okanegara
    July 24, 2008

    selamat hari anak.banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan buat Negara ini. saya ingin sekali bisa rembug.

    btw, tulisan tentang lolot sudah saya buat.lihat saja deh.

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    July 24, 2008

    *sedih*

    ReplyReply

    [Reply]

  • nono
    July 24, 2008

    kita hanya bisa berharap, agar pemimpin BALI yang baru mau memperhatikan keluh kesah mereka…
    sedih juga…hikz…

    ReplyReply

    [Reply]

  • devari
    July 24, 2008

    lihat nanti apa gebrakan gubernur baru ttg hal ini

    ReplyReply

    [Reply]

  • made eka
    July 24, 2008

    saya meragukan kalau asal mereka semuanya dari Tianyar. Itu cuman stigma saja. Saya sering lewat sana dan teman sayapun banyak dari sana. Dulu memang ada budaya yang mengharuskan meminta dari desa tetangga untuk mengadakan suatu upacara. Tapi sekarang seiring dengan adanya budaya malu dan meningkatnya pendapatan mereka (lihat saja rumah mereka yang ga kalah sama rumah orang biasa di bali), saya rasa pengemis dari Tianyar akan jauh berkurang.
    Soalnya pernah ada pengemis yang datang ke rumah dan bilang asalnya dari tianyar, setelah saya ancam akan di kross cek dengan teman saya dari sana (kebetulan tetangga), dia beralih katanya dari trunyan. Mana yang bener??
    Selain itu wilayah munti gunung ini sangat dekat dengan daerah wisata Tulamben. Kok ga disana saja mereka minta2 dan jadi buruh angkut. Tipsnya juga dollar yang jauh lebih besar dari pasar Badung.
    salam

    ReplyReply

    [Reply]

  • made eka
    July 24, 2008

    ni ada info baru dari teman di Tianyar. di desa munti gunung (asal pengemis itu), terdapat pohon beringin besar tepat di tengh2 desa. Seandainya ada dahan yang patah, maka penduduk yang tinggalnya pada daerah patahan tersebut harus meminta2. Kalau tidak akan terjadi bencana. Dulu mitosnya seperti itu..
    salam

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    July 24, 2008

    om saia pengen beranalogi seperti ini

    negara ini hanya mengurus rumah dari tampilan depannya doang, tapi pondasinya ga pernah di urus, akhirnya ambruk

    ReplyReply

    [Reply]

  • erickningrat
    July 24, 2008

    sau lagi om,,,bukan negara saja tapi kita semua :mrgreen:

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dek Didi
    July 24, 2008

    Sebenarnya itu yang cuma nampak di permukaan dan kebetulan di kota. Di desa2 juga seperti itu.
    Tp di desa, anak2 bekerja dianggap sebagai bentuk pembelajaran untuk mandiri. Sudah biasa di desa saya, anak umur 7 tahun pegang sabit, terus mencari rumput ke Gunung Batur yang jaraknya berkilo-kilo dari rumahnya.
    Hmmmm….
    Bukan hanya itu. Di Desa pendapatan 300 ribu untuk satu keluarga menjadi hal biasa.
    Sebenarnya masih banyak hal yang tidak muncul di permukaan mengenai kemiskinan ini. Kapan2 saya ajak jalan2 ke Songan, jadi bisa tahu bagaimana kehidupan masyarakat di Desa.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imcw
    July 25, 2008

    Mudah mudahan tahun tahun kedepan keadaan menjadi lebih baik.

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    July 25, 2008

    hanya bisa berdoa, semoga keadaan bisa semakin baik..

    ReplyReply

    [Reply]

  • pandebaik
    July 27, 2008

    Hanya bisa bersyukur, lahir, besar hingga bisa nge-blog kayak gini. 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • yainal
    July 27, 2008

    ehm.. pr klasik yang memang sampe sekarang belon kelar2..

    ReplyReply

    [Reply]

  • gegary
    July 27, 2008

    ada yang baik ada yang buruk, ada yang senang ada yang susah, ada yang bisa menikmati masa kecil dengan gembira ada yang harus berjuang susah payah. Hidup itu berimbang. Hanya yang jadi harapan: semoga empati tidak pernah hilang.

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    July 29, 2008

    @ okanegara: selamat hr anak jg, dok. 🙂

    @ didut: *sedih jg liat teman sedih. 🙁

    @ nono: semoga begitu, mas.

    @ devari: sip. ayo kita tunggu dan kita tagih bersama.

    @ made eka: aku tidak sampai ricek ke daerah asal mereka. sebab, asal usul juga tidak penting bagiku. faktanya mereka dalam kondisi tdk diperhatikan. itu yg lbh penting. thx jg infonya soal tianyar. aku sudah berniat lama utk main2 ke sana. tp cuma bs niat, ga bisa jalan. 🙁

    @ erick: begitulah. tidak hanya negara, tp kita semua.

    @ dek didi: aku tunggu ajakanmu. duh, sayang bgt seringkali terkendala waktu. 🙁

    @ imcw: semoga, dok.

    @ wira: usai berdoa, mari berusaha. 🙂

    @ pandebaik: jangan lupa peduli pd yg kurang beruntung, bli. 🙂

    @ yainal: yap. PRnya ga kelar2.

    @ gegary: semoga..

    ReplyReply

    [Reply]

  • hari_bumi
    August 6, 2008

    syukuri apa yg kita dapat…apakah kita akan makan gengsi?! kok berani2 nya dinas sosial bali menolak program dan mengklaim Bali bebas anak jalanan? yach…mungkin petugasnya kebanyakan ngantor aja n jarang keluar kantor untuk melihat sekitarnya….

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *