Antem Cang Ngeling Ci

21 Permalink 0
Bondres, tetanggaku di gang, berseru lantang pada William, teman mainnya. “Antem cang ngeling Ci,” teriak Bondres sambil mengepalkan tangan ke arah William. Sore sekitar seminggu lalu dua anak tetangga yang umurnya sekitar tujuh tahun itu sedang main layangan.

William mengambil layangan Bondres lalu membawanya lari. Hanya untuk bercanda. Begitu juga ancaman Bondres ke William dalam bahasa Bali kasar tersebut. Keduanya hanya bercanda.

Teriakan Bondres ke William itu mengingatkanku lagi soal struktur bahasa Bali yang mungkin terdengar aneh di telinga rasa Bahasa Indonesia. “Antem Cang Ngeling Ci” adalah bahasa Bali kasar. Kalau diterjemahkan per kata maka artinya “Pukul Aku Nangis Kamu.” Tentu saja kalima itu sangat aneh terdengar kalau diterjemahkan menurut struktur kalimat bahasa Indonesia.

Padahal, maksud Bondres dengan kalimat itu kurang lebih adalah, “Awas ya. Aku pukul kamu. Pasti kamu nangis..”

Seorang teman yang rajin mengkaji Bahasa Bali memang pernah berpendapat. “Struktur bahasa Bali itu aneh,” katanya. Tentu saja temanku itu menggunakan struktur bahasa Indonesia sebagai perbandingan. Dalam bahasa Indonesia, struktur kalimat yang normal terdiri dari Subjek, Predikat, Objek, Keterangan. Misalnya, “Aku pukul kamu sampai nangis.” Maka subjeknya adalah Aku, predikatnya adalah Pukul, objeknya adalah Kamu, dan keterangannya adalah sampai Nangis.

Tapi struktur bahasa Bali berbeda. Dalam bahasa Bali, orang akan meletakkan Predikat dulu baru Subjek. Misalnya Seduk Basang yang berarti Perut Lapar. Seduk berarti Lapar, Basang berarti Perut. Ini sih bahasa Bali sehari-hari yang aku mengerti, bukan bahasa Bali resmi dalam lontar dan semacamnya.

Selain struktur kalimat, ada pula beberapa hal “aneh” dalam bahasa Bali dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Misalnya Ben Jep –ini sih bahasa orang Denpasar yang adalah singkatan dari Buin Kejep– berarti Lagi Sebentar. Kalau dalam bahasa Indonesia kan Sebentar Lagi, bukan Lagi Sebentar.

Tapi dalam percakapan sehari-hari di Bali pun, bahasa Indonesianya masih menggunakan cita rasa bahasa Bali. Misalnya ya itu tadi, Lagi Sebentar, Lagi Tiga, dan seterusnya.

Memahami rasa bahasa Bali dalam kalimat bahasa Indonesia ini penting untuk belajar bahasa Bali otodidak seperti aku. Juga penting agar tidak salah paham ketika ngobrol. Sebab, sebagai non-native speaker bahasa Bali, aku pun kadang susah memahami struktur bahasa Bali itu.

Pengalaman yang masih saja aku ingat adalah ketika baru seminggu tinggal di Denpasar, sekitar Juni 1997. Samar-samar aku ingat ceritanya begini. Waktu itu aku berbelanja di Pasar Sanglah Denpasar. Ketika tanya berapa harga sandal jepit, aku mendapat jawaban yang bikin aku bengong. “Seribu tiga,” kata ibu penjual sandal itu.

“Seribu kok bisa dapat tiga? Maksudnya kira-kira tiga sandal (kok aneh banget ya?) atau tiga pasang (kok murah banget ya?),” pikirku. Sebab di Pasar Blimbing, tidak jauh dari kampungku di Lamongan, memang sering ada obral barang seribu tiga begini.

Baru kemudian aku tahu, ternyata dalam bahasa Indonesia ala Bali, seribu tiga itu berarti Rp 1.300 alias seribu tiga ratus. Oalah, kirain seribu dapat tiga..

21 Comments
  • okanegara
    May 26, 2008

    haha..bener,bener sekali.bahasa bali memang unik kalau ditranslasi ke bahasa Indonesia.tidak cuma strukturnya, tapi juga makna kata per katanya. coba saja lihat contoh kalimat bahasa “kepara” atau bahasa hirarki kasar yang ini; ” Beh, keto suba ci, gedeg basang cang, kutang cang nas ci dini!”. Ini kalau diterjemahkan kalau kata per kata berurut kan artinya ” Nah, begitu sudah kamu, marah perut ku, kutinggal kepala mu di sini!”…..

    ReplyReply

    [Reply]

  • ghozan
    May 27, 2008

    he3x welcome to bali mas! gudangnya yang aneh2 dan unik2 ha3x aneh dalam artian bagus ya bukan konotasi negatif…

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    May 27, 2008

    hahahaha… inilah bali pak!!

    *sok paling bali mode on

    ReplyReply

    [Reply]

  • anima
    May 27, 2008

    haha, ngakak baca komen Dokter Oka. Aku tinggal kepalamu disini nanti ya!

    ReplyReply

    [Reply]

  • Dek Didi
    May 27, 2008

    Hahahaha, sama spt anima, ngakak baca komen dr. Oka.

    ReplyReply

    [Reply]

  • Arie
    May 27, 2008

    ada lagi nech yg sering digunakan “gedeng basang cang” yang kalo dindonesiakan “marah perutku “

    ReplyReply

    [Reply]

  • dipoetraz
    May 27, 2008

    huahauha… lucu je nok… =))

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    May 27, 2008

    tolong di translate kata ini, “nenggel”

    ke bahasa indonesia, pasti bingung dah…. DIJAMIN… he..he…he… :mrgreen:

    ReplyReply

    [Reply]

  • moko
    May 27, 2008

    iya bener juga tu. sekilas struktur gramatikal bahasa bali memakai pola inversi. Jadi inget bahasa jepang “Watashi wa CHOKOREETO o taberu”.
    saya, coklat, makan.
    Mungkin karena pengaruh kebudayaan ama jepang ya?
    Untung kebudayaan saya berasimilasi ama inggris.
    Masak Mok?
    “Yo, iyes lah!”

    ReplyReply

    [Reply]

  • pandebaik
    May 27, 2008

    Betek = Wareg
    Batis = Cokor
    Betek Batis = Waregan Cokor

    ReplyReply

    [Reply]

  • dani
    May 27, 2008

    lagi..
    “tumpel cang bungut cine”
    ..pukul aku mulut kamu..
    → kupukul mulutmu!

    nunggu komen bli devari.. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • saylow
    May 28, 2008

    Saya juga belum bisa menterjemahkan “Madak apang gelem angkuk-angkuk ci!” Sakit kutukan kalau ketemu perempatan jalan bakalan “angkuk-angkuk” badannya.
    Dalam bahasa Indonesia. Sekilas kalau “gelem” dalam bahasa jawa adalah “mau”. Tapi dalam bahasa Bali berarti “sakit”, nah kalau angkuk-angkuk? Melakukan gerakan pingggang maju-mundur dengan irama? Arrggghh… buka sekolah BF (Bali First/Khusus basa Bali) yuuuk!

    ReplyReply

    [Reply]

  • widari
    May 28, 2008

    Apalagi kalau pakai bahasa Bali Buleleng, “Yen orahin petek’e bulu matane!” = Kalau dibilangin dihitung bulu mataku!

    Kalau dibilangin dihitung bulu mataku ada limaaaa merah, kuning, kelabu, hijau muda dan biruuuu!

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    May 28, 2008

    @ semua: bingung kalo djawab satu per satu krn banyakan pd ketawa. jd ya ikut ketawa saja. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    May 28, 2008

    tambahan

    perut = basang
    lidah = layah

    perut lidah = basang layah

    ReplyReply

    [Reply]

  • gung de
    May 29, 2008

    senyum-senyum sndiri saya baca postingan bli. iya juga ya. baru sadar akan struktus bahasa nya. he he he.

    ReplyReply

    [Reply]

  • dede ne
    May 30, 2008

    Bli, basa Bali itu asalnya kan dari China, seprti dalam postingan ini ada kata: Cang, Ci, Yen, dll…………….(*ngawur*)

    ReplyReply

    [Reply]

  • erviani
    May 30, 2008

    Saya baru sadar dengan struktur kacau bahasa bali saat kuliah di malang. Banyak orang yang memprotes bahasa saya. “Kok kalau ngomong, subyek predikatnya dibolak balik sih?” begitu kata mereka. Setelah saya perhatikan, bener juga mereka. He…………………………………

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    June 2, 2008

    @ ick: makasih tambahannya. *bingung mesti komen apa. hehe..

    @ gung de: sykurlah kalo sadar, bli. 😀

    @ dede ne: oooh, gitu ya. kiran ci, cang, dst itu bahasa arab. *komen ngawur jg. 😀

    @ erviani: terima kasih komennya yg sudah pake bahasa indonesia yg baik dan benar. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • Putu Adi
    June 4, 2008

    Udah pada denger lagunya Di Ubud n Band belum??Masing2 daerahdi Bali punya dialek berbeda tapi intinya tetep bahasa Bali, sy suka senyum kalo dengernya.

    Sy juga sering diprotes temen2 ngobrol (forum/chat) yang dari luar Bali, “kok bahasanya Putu aneh”, yah mau gimana lagi bahasa ini sudah kadung nempel.

    Kalo menurut saya ini bukan tentang SPO (Subjek Predikat dan Objek) tapi tentang DM (Diterangkan Menerangkan) atau MD (Menerangkan Diterangkan) mirip2 bahasa Inggris. Sy kurang pintar menjelaskan mungkin ada rekan2 yang guru Bahasa Indonesia yang bisa menerangkan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    June 13, 2008

    heheheh… mantaps artikelne bli! baca2 SPOK, jadi ingat masa2 SMA! 😀

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *