Antara Ritual dan Tradisi Kekerasan

8 , Permalink 0
Lima laki-laki itu menari membawa api di tangan kanannya. Kedua tangan merentang. Api menyala dari tambang yang dibakar. Lalu, dengan posisi di bawah lengan kiri, api itu digerak-gerakkan. Dari ujung jari ke bahu. Mereka membakar tangan itu!

Tapi tidak ada sakit. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi yang dibakar kedua tangannya pun hanya tersenyum. Peserta lain, yang tangannya dibakar, malah berseru, “Rasanya dingin.”

Tari Pepe-pepe, tari khas Sulawesi Selatan, jadi salah satu tari yang dipertunjukkan pada malam ramah peserta Pertemuan Nasional Harm Reduction (PNHR) II di Benteng Rotterdam Makassar malam ini. Menurut pembawa acara yang cantik itu, tari pepe-pepe merupakan simbol dari perjuangan Ibrahim, salah satu nabi dalam Islam, ketika dibakar raja Namrud. Karena itu penari juga harus dibakar seperti halnya Ibrahim pada saat itu.

Melihat orang dibakar yang tidak merasa sakit, tentu saja aku kagum. Tapi muncul pula rasa heran, tepatnya tidak bisa menerima secara akal sehat. Bagaimana bisa. Orang dibakar kok tidak kesakitan.

Tapi ada tarian lebih sadis lagi, ngurek! Aku melihatnya Rabu pekan lalu, ketika liputan tentang odalan di Pura Beten Kepah, milik keluarga (bekas) petani di Pecatu, Bali. Sebagai bagian dari upacara tiap enem bulan sekali itu, pengempon (mereka yang bersembahyang) di pura itu harus melakukan ngurek.

Dan, ngurek itu memang sadis. Bagaimana tidak. Penari membawa keris lalu menusuk-nusukkan ujung keris itu ke dada. Mereka yang kerauhan (semacam kesurupan) menancapkan ujung keris itu lalu mendorongnya kuat-kuat. Tapi tidak ada darah yang tercecer. Tidak ada yang menjerit karena sakit.

Tari pepe-pepe di Makassar dan ngurek di Bali adalah dua hal yang belum masuk di logikaku. Kenapa para penari itu tidak merasakan sakit apa pun ketika melakukan sesuatu yang sebenarnya menyakitkan?

Bukan hanya di Makassar dan Bali, ada beberapa contoh lain tari-tari yang berbau kekerasan. Tari rodat oleh warga Kampung Bugis di Bali selalu dilakukan dengan membawa pedang. Atraksi debus di Banten dilakukan dengan membacok-bacokkan pedang pada badan. Tari kabasaran di Manado malah dengan cara mengiris lidah, sama halnya dengan debus.

Inilah tradisi kekerasan yang terus saja kita pelihara. Tak heran kita pun akrab dengan begitu banyak kekerasan.

8 Comments
  • ick
    June 16, 2008

    “Tari pepe-pepe di Makassar dan ngurek di Bali adalah dua hal yang belum masuk di logikaku. Kenapa para penari itu tidak merasakan sakit apa pun ketika melakukan sesuatu yang sebenarnya menyakitkan?”

    mereka tidak merasakan sakit karena mereka sedang tidak sadar… atau nama balinya karauhan oleh leluhur maupun betara [tuhan].

    ReplyReply

    [Reply]

    ubhe Reply:

    pepe-pepe bukan hal yang di alami oleh pemainsecara tidak sadar…
    tapi mnurutku ada mantra yang mengikat mereka,kepercayaan yang mereka pegang yang membuat mereka bsa kebal…

    ReplyReply

    [Reply]

  • ghozan
    June 16, 2008

    idem dengan ick: sepertinya di Indonesia banyak hal yang tidak bisa diterima dengan akal sehat dan logika tapi ternyata ada. seperti bantuan BLT yang disunat dengan dalih biaya administrasi. cuma ada di Indonesia kan? 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • wira
    June 16, 2008

    sebenarnya orang indonesia itu punya banyak kekuatan dan keunikan, tp heran, kok ga bisa maju ya…?

    ReplyReply

    [Reply]

  • mohammad
    June 17, 2008

    hampir semua tarian tradisional kita adalah tari bertema perang-perangan, membawa tombak, pedang, panah, dll.

    Misalnya, untuk menyambut tokoh atau pesajab pusat, bupati di daerah sebut saja Lamongan (hehehe… hidup lamongan!), bakal menyambut sang tamu dengan tari perang2an bawa arit dan klewang…

    memang, disamping memiliki filsafat “the spirit of warrior” atau “struggling to the death” atau “patriotism”, tarian2 tersebut juga menunjukkan bahwa tradisi kita relatif dekat dengan budaya kekerasan.

    ReplyReply

    [Reply]

  • setanmipaselatan
    June 18, 2008

    ahahaha, paradoks ya, oom? :mrgreen:

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    June 30, 2008

    @ ick: tetep aja ngeri meliatnya.

    @ ghozan: walah. larinya kok ke BLT.

    @ wira: mungkin karena tidak tau bahwa keunikannya itu unik dan tidak ada di tempat lain. makanya merasa biasa saja. padahal itu berbeda.

    @ mohammad: walah. mosok ning lamongan yo enek ngene juga. tak pikir cuma disambut pake pengajian. 😀

    @ setanmipaselatan: iya, tante. memang paradoks.

    ReplyReply

    [Reply]

  • supriadi
    November 18, 2008

    nanggapin komen dari mas wira nih…

    mengenai tarian indonesia yang banyak mengandung mejik…
    itulah indonesia…
    dan sekarang banyak orang dari barat yang menmukan sesuatu yang sebenarnya di indonesia lebih dahulu menemukannya dan memilikinya
    contoh:
    sebuah tarian yang ekstrim dimana tarian ini dibarat baru dicptakan oleh seseorang…
    tarian ini menyakiti dirinya… dan dianggap orang ini sudah tidak waras…
    karena dia menari di jalan raya dan berhenti disebuah halaman… kemudian dia mengeluarkan beberapa senjata tajam seperti pisau, kawat, silet dan pistol…
    alat-alat ini diberikan kepada penonton yang melihat kemudian penari menyuruh penonton untuk menyakiti dirinya…
    al hasil.. dia disakiti oleh penonton karena perintah dari penari itu (perintahnya ditulis pada sebuah kertas dan di taruh didepan senjata tajam tersebut, perintahnya:”silahkan memilih dan sakiti aku dengan menggnakan alat itu”)… kemudian berkelanjutan sampai….
    semua alat-alat itu menyakiti dirinya…
    dan yang terakhir adalah pistol…
    ada seseorang yang mengambilnya…
    penari menyuruh penonton melakukan tembakan itu pada dirinya…
    salh seorang tersebut tidak melakukannya karena itu dianggap sangat berbahaya…

    >>> hal ini sebenarnya sudah ditemukan oleh indonesia seperti tarian ini… tarian PEPE dan tarian Keris.. ada lagi… tari piring yang menginjak pecahan beling… tari TIBAN dua orang yang saling menyakiti dirinya dan masih banyak lagi…

    indonesia nga bisa maju…
    karena orang-orangnya gak sadar bahwa sebenarnya kekayaan yang ada dalm dirinya itu adalah kekayaan lokal yang sudah tumbuh mulai dari mana asalnya dia dilahirkan…

    dan saya berbangga dan mengangkat topi terhadap masyarakat indonesia yang cinta terhadap kekayaan lokalnya… dan senantiasa melestarikannya…
    orang-orang yang seperti ini sangat berharga di mata dunia…

    oleh karena itu… ayo bangsaku…
    bangkit dengan mengangkat diri anda dari apa yang sudah melekat pada diri anda di daerah anda… dengan menyeimbangkan kekayan intelektual anda….

    hidup… terus hidup…

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *