Antara Braga dan Menghisap Shisha

7 Permalink 0
Mampir di satu kota tanpa jalan-jalan itu ibarat sayur tanpa garam. *Btw, basi banget sih pengandaiannya. Hehe..*

Maka, meski hanya lima hari dengan jadwal pelatihan yang padat bahkan sampai sekitar pukul 9 malam, jalan-jalan di Bandung tetap harus dilakukan. Pada hari selama pelatihan, jalan-jalan ini setelah materi selesai. Tidak enak juga. Masak jauh-jauh datang dari Bali dengan semua biaya ditanggung panitia, aku malah jalan-jalan saja. 😀 Pada hari terakhir, setelah pelatihan semua selesai, barulah bisa jalan-jalan lebih lama.

Tapi tulisan ini soal jalan-jalan malamnya saja. Soal perjalanan belanja oleh-oleh dan keliling museum nanti di posting lain. Bagian ini soal pengalaman jalan-jalan di Braga dan Dago.

Aku sendiri tidak tahu banyak tentang Bandung. Maunya minta diantar Rana, teman wartawan di Bandung sesama anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), eh wartawan Tempo ini sepertinya sibuk banget. Jadinya tidak bisa. Apa boleh buat, aku hanya jalan-jalan dengan teman sesama peserta. Eh, fasilitator dan pemateri pun ada yang ikut ding.

Karena kami semua jalan kaki, maka pertimbangan pertama tempat yang dipilih adalah tidak jauh dari hotel Karang Setra, tempat pelatihan kami di Bandung bagian barat ini. Tempat nongkrong paling dekat dan asik adalah Paris van Java, kawasan pertokoan dengan banyak cafe di sana.

Setelah lihat-lihat sebentar, kami pilih duduk-duduk di depan Black Canyon Cafe. Mohon maklum, tidak kuat bayar kalau bersantai di sana. Jadi, kanggoang di depannya saja. Toh, tetap saja asik. Duduk lesehan di lantai menikmati udara malam Bandung ternyata asik juga di tempat ini.

Pada malam yang lain, tempat nongkrong lainnya adalah di jalan Braga, kawasan tua di kota Bandung. Tapi meski tua, menurutku, tempat ini terlihat elit. Mungkin karena bentuk bangunan art deco yang khas Eropa, meski ukurannya lebih kecil.

Di daerah ini ada beberapa bar dan cafe. Sayangnya aku tidak sempat masuk salah satu cafe di sini. Karena kesannya elit itu tadi. Makanya sudah terintimidasi duluan. 😀 Apalagi aku lihat, para petugas keamanannya juga kekar dan sangar. Ya udah. Batal sajalah masuk di salah satu tempat nongkrong di sini.

Toh, meski terkesan elit, tempat ini masih memberikan ruang untuk orang-orang miskin. Di salah satu sudut, tidak jauh dari pusat fast food, seorang nenek berpakaian kumal duduk di trotoar sambil menadahkan kaleng. Padahal waktu itu sudah sekitar pukul 10 malam.

Masih di jalan yang sama, aku lihat pula seorang kakek, umurnya mungkin di atas 70 dengan yakinnya memasang bekas kardus dengan tulisan “Pijat Rp 10.000”. Terasa ironis di antara gemerlap Braga dan gaduh suara musik dari bar-bar di sana.

Kami lalu kabur saja setelah di sana sekitar 30 menit. Pilihannya: kawasan Dago. Tempat ini adalah tempat nongkrong asik di Bandung.

Daerah Dago ini sepertinya lebih tepat buat kami. Meski tetap saja canggung di antara anak-anak gaul Bandung yang trendi-trendi itu. Tapi setidaknya tidak ada satpam berbadan kekar dengan muka sangar menghadang kami di depan pintu.

Kami pilih Cafe Olala berdasarkan rekomendasi dua teman lain yang sudah pernah ke sini sebelumnya. Aku dengan delapan teman lain naik saja di lantai dua. Tempat ini memang asik. Ketika kami baru datang, anak-anak gaul, rata-rata umur pelajar dan mahasiswa, lagi asik ngobrol dengan gerombolannya. Ada yang main kartu, ada yang asik menghisap sisha.

Asik juga melihat anak-anak gaul itu menghisap sisha bersama-sama. Satu tabung besar dengan banyak selang yang mengeluarkan asap kalau dihisap. Mirip orang ngrokok, tapi ini menghisap pakai selang. Aku sempat pengen nyoba menghisap sisha yang berasal dari kebudayaan Mesir ini. Tapi karena takut jadi bahan ketawaan kalau salah hisap, apa daya, aku batalkan saja.

Gantinya, cukup satu botol kecil bir dingin. Lumayan menghilangkan capek seharian itu. Ketika botol kecil sudah kosong, baru kami balik ke hotel. Istirahat..

7 Comments
  • dani
    April 25, 2008

    ctrl+f: sisha
    …ada di paragraf terakhir…

    emang gaya wartawan gini ya..bikin penasaran ampe akhir.. 🙂
    kirain mo nyeritain budaya sisha itu.. 😀

    wuih kalah trendi ya bli..tp kan ngga kalah tampang..

    ReplyReply

    [Reply]

  • Tonny
    April 25, 2008

    jadi kangen kota Bandung…

    salam kenal Pak..

    T.

    ReplyReply

    [Reply]

  • ick
    April 25, 2008

    bli.. besok postingin tentang cewek dago…yah…please…

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    April 28, 2008

    @ dani: hehe, itu ga sengaja bli. sukanya mmg bikin judul dg paragraf terakhir. btw, kalo pake ctrl+F, brarti ga baca smpe akhir. tp cuma baca paragraf trakhir. 😀

    @ tonny: yuk, kapan2 ke sana bareng, bli. 🙂

    @ ick: waaah, soal ceweknya udah, bli. tinggal museum nihyg blm.

    ReplyReply

    [Reply]

  • riverz
    November 14, 2008

    shisa apaan yak???? 😛

    ReplyReply

    [Reply]

    furdan shisha Reply:

    shisha = rokok khas daerah timur tengah, yang disajikan dengan menggunaan tabung (bong), rasanya bermacam-macam, dari aroma buah-buahan hingga minuman seperti coffee, capuchino dll.
    mampir aja ke braga city walk – bandung, di atrium tersebut ada counter khusus yang menyajikan shisha. namanya Furdan Shisha..

    ReplyReply

    [Reply]

  • furdan shisha
    December 10, 2009

    tempat shisha yang berlokasi di Braga City Walk (Atrium) Bandung, silahkan mampir

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *