Aksen “a” Para Penunggang Kuda

6 , , , , Permalink 0

Bahasa Jawa itu punya banyak dialek atau logat. Satu tempat berbeda dialek dengan tempat lain. Karena beda dialek ini, dua orang yang berbicara pun kadang bingung pada makna kata lawan bicaranya satu sama lain meski sama-sama ngomong Bahasa Jawa.

Ini aku alami pula ketika di Bromo, Probolinggo. Pembicaraan sesama penunggang kuda yang memandu perjalanan ke puncak Bromo terdengar asing bagiku. Padahal mereka semua berbincang dalam bahasa Jawa, bahasa yang aku akrabi bahkan sejak aku belum lahir.

Aku baru tahu kemudian ketika ikut nimbrung dengan mereka sambil menikmati kopi, rokok, dan Gunung Batok di depan kami. Menurut pemandu kuda yang menemaniku, Suko, orang Tengger di sekitar Bromo yang tersebar di tiga kabupaten yaitu Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang memang punya dialek berbeda. Huruf “o” pada bahasa sebagian besar orang Jowo berganti jadi “a” bagi lidah orang sini. Misalnya “piro” yang berarti “berapa” akan menjadi “pira”.

Meski demikian, huruf “o” itu tetap dibaca “o” ketika ada di nama orang. “Suko”, misalnya tidak kemudian menjadi “Suka”. Soal nama ini juga ada keunikan tersendiri. Hampir semua orang di sini hanya punya satu kata untuk namanya. Selain Suko juga ada Jiwo, Sugianto, dan semacamnya.

Selain perubahan “o” menjadi “a” itu, huruf vokal di depan juga ditambah dengan “ng” sebelumnya. Contohnya adalah “opo” yang menjadi “ngapa”. Sekilas dialek mereka memang mirip basa Jawa Ngapak di daerah Jawa Tengah.

Warga Tengger juga punya beberapa bahasa lokal yang hanya dimengerti orang setempat. Dua di antaranya adalah “eyang” sebagai “kata orang pertama untuk laki-laki” dan “esun” untuk perempuan. Jadi misalnya aku yang bicara sama orang lain, maka aku akan bilang, “eyang dari Bali”. Maksudnya, saya dari Bali. tapi kalau aku perempuan maka berganti jadi “esun dari Bali.”.

Hal lain yang menarik bagiku tentang para penunggang kuda itu adalah kebersamaannya. Asik saja mendengar cerita keguyuban mereka. “Kami tidak pernah rebutan penumpang. Satu sama lain sudah ada rezekinya,” kata Jiwo.

Padahal tidak sedikit jumlah penunggang kuda tersebut. Para penunggang kuda itu punya paguyuban. Namanya Paguyuban Pemandu Kuda. Saat ini anggotanya sekitar 250 orang. Dulu anggotanya pernah sampai 600 orang. “Setelah bom Bali tahun 2002, jumlah turis ke sini memang jauh lebih sepi,” ujar Suko.

Tak kusangka. Bom di Bali ternyata memang berpengaruh ke mana-mana, termasuk para penunggang kuda di kawasan Tengger ini.

Tiap hari, satu orang bisa naik turun gunung Batur itu tiga sampai empat kali. Jarak tempuh ini sekitar 2 km. Tapi karena melewati lautan pasir, jadi perjalanan lebih lama.

Bagi para pemandu kuda yang sekaligus adalah pemandu perjalanan selain memandu kuda agar berjalan ke arah yang benar, kuda-kuda tersebut adalah aset. Kuda yang mereka beli dari Sumba, Nusa Tenggara Timur ini hrganya berkisar antara Rp 3 juta sampai Rp 8 juta. Brown, kuda milik Suko, misalnya dibeli seharga Rp 3,5 juta.

Karena itulah mereka juga merawatnya baik-baik. Pendapatan harian mereka disisihkan untuk perawatan kuda selain untuk kebutuhan keluarga dan ditabung di koperasi paguyuban pemandu kuda.

Koperasi ini, kata Jiwo, tak hanya jadi tempat mereka menyimpan dan meminjam uang. Koperasi juga menjadi tempat untuk mengatur anggotanya agar tidak berbuat curang pada turis. Misalnya memasang tarif yang terlalu mahal atau menelantarkan. “Sebab kalau ada tamu komplain, kan kami sendiri yang rugi,” tambah Suko.

Kesepakatan di antara para pemandu kuda ini menurutku menarik. Sebab aku sempat takut ketika Viar, teman blogger di Bali, mengingatkanku untu waspada. “Hatih-hati kena palak tukang kuda,” kurang lebih begitu katanya. Eeh, ternyata yang kutemui justru sebaliknya.

Maka, perlu takut menyewa kuda. Asal harga sudah oke di depan, dijamin semua lancar. Mereka akan jadi teman perjalanan yang menyenangkan..

6 Comments
  • wira
    September 3, 2009

    lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya..

    hehehe

    ReplyReply

    [Reply]

  • pushandaka
    September 4, 2009

    Hmm., menarik banget pengalamanmu, Ton..

    ReplyReply

    [Reply]

  • morishige
    September 4, 2009

    wah.. berarti beda banget ya sama tukang ojek di sekitar pelabuhan Gilimanuk: suka maksa penumpang untuk naik ojeknya..

    ReplyReply

    [Reply]

  • sugeng
    September 6, 2009

    Tapi sayang gak ada foto mas anto yang jadi koboi di tengah padang pasir Bromo 😆 .

    ReplyReply

    [Reply]

  • Artha
    September 7, 2009

    asik juga kayaknya naik kuda, kemarin kami malah jalan kaki dari parkiran terakhir sampai di pura, tapi asik-asik aja 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • Joddie
    September 7, 2009

    Wah menyenangkan sekali yah keliatannya.. hmm Indonesia memang kaya! thanks for sharing yoo..

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *