AJI Denpasar, Nasibmu Kini..

6 , , Permalink 0
SMS dari Ervi pagi ini mengusikku. Ervi, teman di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar itu mengabarkan tentang kegiatan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Bali di Hotel Niki Denpasar hari ini. “Acr PJI hr ini dihadiri bnyk sekali wartawan Bali. Nada2nya, AJI Dps bakal kehilangan anggota ni. Ketua PJI Bali, Justin. Panitinya jug org2 AJI. Weleh2.”

Hari ini pengurus PJI Bali dilantik di hotel Niki Denpasar. Sebagai sesama jurnalis, ini menyenangkan bagiku. Makin banyak organisasi wartawan semoga akan membuat wartawan makin sadar bahwa berorganisasi itu penting. Nantinya juga semoga makin meningkatkan kualitas jurnalis ataupun media itu sendiri.

Hadirnya PJI akan menambah jumlah organisasi wartawan di Bali. Dalam catatanku sih saat ini sudah ada AJI, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), PWI Reformasi (ini aku tidak yakin pasti masih ada apa tidak), Persatuan Wartawan Indonesia Independen (PWII), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan terakhir Perhimpunan Wartawan Multimedia (Perwami).

Di antara semua organisasi itu, PWII yang aku tidak kenal sama sekali siapa orangnya. Kegiatannya juga aku tidak tahu. Tapi dia paling rajin bikin spanduk di pinggir jalan kerja sama dengan instansi tertentu. Terakhir kali aku lihat sih pas Hari Pers Nasional Februari lalu. Dengar-dengar mereka suka minta duit ke instansi tertentu untuk pasang spanduk, salah satunya di Jalan Melati Denpasar itu. Makanya PWI, yang logonya dijiplak habis sama PWII, kebakaran jenggot. Tapi ulah PWII ini pun jadi aib di antara kami, sesama wartawan. Wartawan bodrek, wartawan tukang amplop, dan seterusnya itu memang selalu meresahkan.

Oke, lalu balik ke soal PJI tadi.

Hal yang membuatku kepikiran soal ini adalah karena pengurus PJI adalah anggota AJI Denpasar juga. Setahuku teman-temanku ini belum mengundurkan diri dari AJI Denpasar.

Setelah aku liputan dari Kuta tadi sore, aku sempetin main ke Hotel Niki. Maunya sih sekalian ngobrol dengan teman-teman di sana. Sayangnya pas aku sampai sana, mereka malah pada masuk ruangan. Padahal sebelumnya pada duduk-duduk di luar ruangan. Selain untuk melihat acaranya, aku datang juga hendak menanyakan tentang PJI, posisi mereka, dan seterusnya. Biar aku tidak hanya tahu tentang situasi ini dari sumber kedua. Aku mau dapat informasi dari sumber pertama.

But, entah sengaja atau tidak, mereka terkesan menghindariku. Maka, aku pun bermain dengan asumsiku sendiri.

Pertama soal pilihan organisasi. Ini adalah pilihan setiap orang. Tidak ada yang punya otoritas penuh atas pilihan seseorang. Maka, terserah siapa saja untuk memilih organisasi mana. Bukan zamannya lagi penunggalan organisasi seperti zaman Orde Baru. Bukankah AJI pun lahir untuk melawan hegemoni PWI pada masa itu yang hanya diam membebek pada pemerintah lalim?

Cuma, pilihan ini juga harus etis. Kalau memang masih terikat di satu organisasi dan merasa tidak cocok, sebaiknya bilang saja ke pengurus atau mundur dengan hormat. Hingga detik ini aku belum pernah dengar teman-teman pengurus PJI ini mundur dari AJI. Lha ini kok sudah jadi anggota organisasi lain, bahkan jadi pengurus?

Kedua, persoalan ini pun melahirkan kembali pertanyaanku tentang AJI Denpasar. Apa sih yang sebenarnya terjadi saat ini? Aku merasa apa yang terjadi dengan teman-teman yang ikut di PJI saat ini seperti puncak yang terlihat dari masalah lain yang terpendam.

Sebab, aku tahu teman-teman yang sekarang di PJI Bali adalah orang-orang yang peduli pada AJI. Justin Herman, yang Direktur Radar Bali, adalah orang yang siap untuk ditodong kapan dan berapa saja ketika AJI Denpasar butuh duit. Hehe.. Aku ingat zaman masih jadi Ketua AJI Denpasar (2004-2006) lalu. Meski sudah senior, Justin masih mau ikut berdiskusi merumuskan siapa saja yang bisa mengurus AJI Denpasar. Albert pun demikian. Pemred Koran Pak Oles ini bahkan rela ikut ke Kongres AJI Indonesia di Bogor November 2005 lalu dengan biaya sendiri. Di luar itu, mereka pun bisa jadi senior yang memberi spirit tersendiri untuk orang gagap dan hijau macam aku ketika mengurusi AJI Denpasar.

Beberapa teman lain di PJI saat ini pun, aku tahu, sebagian besar bukanlah orang-orang cuek pada AJI. Tapi situasi kini sudah berbeda.

Sebelum muncul kasus PJI ini, sebenarnya sudah ada teman lain Syafruddin Siregar, wartawan RCTI yang memilih mengurusi IJTI Bali Nusra. Karena aku sudah bukan pengurus inti, aku tidak tahu bagaimana posisi Bang Syaf sebenarnya di AJI, apakah sudah mundur atau masih tercatat sebagai anggota.

Seingetku, bulan lalu, pengurus AJI Denpasar saat ini menyodorkan nama-nama anggota AJI Denpasar untuk aku review tentang keanggotannya. Dan, data itu bukanlah data baru. Itu data lama pada masa kepengurusanku.

Di luar urusan keanggotaan, AJI Denpasar sekarang memang seperti sekarat. Sepi. Tidak ada sesuatu yang menunjukkan giginya sebagai sebuah organisasi wartawan yang dulu dikenal militan. Ya, aku tahu zaman sudah berganti. Tapi bukan berarti semangat itu harus hilang.

Meski kadang takut dibilang sebagai orang yang mengalami post power syndrome, aku masih juga nawarin kerja bareng dengan AJI Denpasar. Salah satu yang aku ingat adalah soal ajakan aksi solidaritas Myanmar ketika salah satu wartawan dari Jepang ada yang ditembak mati. Meski tidak ada pengurus AJI Denpasar terlibat, kami tetap saja cantumin mereka sebagai organ yang peduli pada masalah ini. Nyatanya, tidak ada satu pun pengurus inti yang ikut turun ke jalan. Aku hanya mengelus dada.

Pada saat rame-rame NGO Bali bikin koalisi untuk perubahan iklim, aku juga ngajak AJI Denpasar untuk terlibat. Selain dalam koalisi bersama Walhi, aku yang pakai Sloka juga bikin workshop meliput isu perubahan iklim. Meski sudah mengajak AJI, respon dari ketua juga malah mengecewakan dengan alasan yang bagiku tidak masuk akal. Kasihan Ervi yang pada saat itu malah capek mengurusi sendiri. Ketuanya bahkan nongol di acara pun tidak.

Bagiku, ketua berperan penting untuk membentuk karakter sebuah organisasi. Namun ini sepertinya makin menghilang di AJI Denpasar.

6 Comments
  • devari
    March 30, 2008

    wartawan juga manusia, manusia juga blogger, blogger juga suka pindah2 rumah (theme/domain) jadi wartawan memang suka juga ganti2 theme alias bikin wadah baru 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • Nyoman Ribeka
    March 30, 2008

    sing ngerti ah bli. mungkin ada konspirasi? wakakakaka … teori konspirasi lagi deh 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • imsuryawan
    March 30, 2008

    Duh, kepanjangan Bli! wkwkwkw… komen dulu aja ya! 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  • paramarta
    March 30, 2008

    nanya nih .. apa sih wartawan bodrek itu? kalo wartawan tukang amplop kayaknya saya udah ngerti deh

    ReplyReply

    [Reply]

  • antonemus
    March 31, 2008

    @ devari: asal tidak ganti-ganti istri sing masalah, bli. 😀 bener sih. pindah2 itu biasa saja. cuma ya pasti ada alasannya. makanya aku jd mikir jg. kenapa pindah? kenapa dg tempat lama? dst. dst..

    @ nyoman ribeka: konspirasi? waduh, dasar intel amrik. 😀

    @ imsuryawan: gapapa. asal jangan lupa komen. ;))

    @ paramarta: wartawan bodrek itu istilah untuk wartawan yg suka rombongan cari amplop. patuh dogen ajak wartawan tukang amplop. hmm, kapan2 deh aku bikin postingan soal wartawan beginian. itu jg kalo moodnya bagus. *ngeles lagi*

    ReplyReply

    [Reply]

  • INSANY
    September 14, 2008

    yah… syukur AJI ada di Bali mas…karena image wartawan amplop itu pula hingga kini, Ambon nggak punya AJI, menyedihkan….

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *