Agar Rasa Bisa Bercerita

8 , , Permalink 0
Tak ada makan siang gratis. Begitu pula dengan traktiran untuk Tulank dan Intan sore tadi. Setelah bagi-bagi gaji dan honor di kantor siang hari, sorenya kami makan bersama di kafe Warung Taji di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. Lina PW yang ada di Sloka juga kami ajak. Karena dia bawa kamera, dia kebagian tugas moto-moto.

Sementara itu Tulank dan Intan, kami minta untuk menulis pengalaman bersantap di kafe penyedia menu Italia dan Jepang ini. Gara-gara meminta mereka untuk menulis kuliner itu, aku jadi inget ide lama untuk berbagi pengalaman menulis topik yang masuk kategori berita ringan (soft news) ini.

Aku sendiri tak pernah belajar formal soal teori menulis kuliner meski lumayan sering nulis tema ini. Pengalaman pertama menulis topik kuliner aku mulai ketika diminta jadi kontributor untuk majalah Appetite Journey pada awal 2008. Tiap bulan aku harus mengirim setidaknya dua tulisan. Pengalaman ini kemudian jadi kebiasaan sampai sekarang. Hasilnya, aku tulis di blog sendiri atau di Bale Bengong.

Ternyata onani itu berguna juga. Majalah Intisari kemudian minta aku untuk membuat buku Kuliner Bali setelah mereka mencari di internet. Kontrak ini membuat aku dan Lode, sebagai satu tim, membuat 40 artikel kuliner dengan beragam menu.

Referensi lain adalah liputannya Bondan ”Mak Nyus” Winarno. Pelopor jurnalisme kuliner ini top markotop kalau urusan membahas makna di balik makanan. Aku sampai termehek-mehek saking takjubnya melihat wawasan yang luas tentang kuliner. Bukan hanya soal rasa dan bahan tapi sejarah dan masalah sosial di balik sebuah menu.

Nah, berdasarkan pengalaman menulis kuliner otodidak dan beberapa referensi itu, aku simpulkan sendiri bahwa inilah kurang lebih teori praktis menulis kuliner. Teori ini terutama pada apa saja yang biasa ada dalam sebuah tulisan kuliner, bukan pada tahap liputan.

Mulailah dengan Pembuka
Ibarat bersantap menu lengkap, inilah makanan pembukanya. Buka saja dengan pengantar kenapa memilih makan di sini. Atau bisa saja memulai dengan sesuatu yang tak langsung berhubungan dengan kuliner tapi nyambung.

Contohnya, menulis tentang masakan Jepang di Bali. Frase ini bisa jadi salah satu pembuka.

Akhir-akhir ini, perempuan Jepang di Bali jadi tindak kriminal di Bali. Nah, kalau perempuan Jepang ibaratnya diburu pelaku tindak kriminal, restoran Jepang justru diburu pecinta wisata kuliner.

Ini masuk kategori contoh makanan, eh, kalimat pembuka yang tidak langsung berhubungan dengan kuliner tapi tentang situasi umum di Bali.

Temukan Bahan dan Bumbunya
Seperti makanan itu sendiri, inilah bagian terpenting dari tulisan tentang kuliner. Pertama, sebutkan apa nama menu itu. Katakanlah, soto ayam lamongan. Setelah itu, kedua, apa saja bahan dan bumbunya. Pada menu soto ayam lamongan, misalnya, bahan utama adalah irisan daging ayam dan telur rebus yang disajikan dalam kuah. Irisan daging ayam ini disertai bihun dan seledri.

Adapun bumbunya antara lain bawang merah, bawang putih, garam, dan sedikit penyedap rasa. Bumbu ini bisa dirasakan sendiri saat menyantap. Kalau asin, misalnya, itu pasti karena garam, bukan karena gula. Hehe.. Kalau tidak cukup yakin dengan bumbunya, cara lain adalah dengan bertanya pada pelayan. Santai saja. Tidak akan ada tambahan biaya kok kalau hanya bertanya.

Jika untuk bertanya juga malu, gampang. Googling saja. Ketik, misalnya, resep ayam betutu bali. Kalau memang mau tau apa saja bumbu yang dipakai memasak ayam betutu.

Nikmatilah Rasanya
Memang benar. Dalam banyak tulisan kuliner, biasanya cuma ada dua rasa: enak dan uwenak tenan. Meski demikian, rasa ini kan juga banyak turunannya. Misalnya, gurih atau tidak. Pedas atau datar. Asin atau manis. Asam atau pahit. Dan seterusnya.

Katakanlah pada menu ayam betutu gilimanuk, tentu saja rasanya pedas. Tapi tingkat pedas kan juga beda-beda. Kalau ayam betutu di Meh Tempeh Gilimanuk sana, pedasnya pasti sampai bikin air mata meleleh saking pedasnya. Tapi kalau di ayam betutu Jl Merdeka Renon tentu tak sepedas di Gilimanuk.

Begitu pula dengan rasa yang lain, misalnya, ada rasa asam dan manis kalau menu yang ditulis adalah es jeruk. Lalu masing-masing rasa itu datang dari bahan yang mana. Itu semua bisa disebut untuk memperkaya tulisan. Semakin detail menggambarkan rasa ini, akan makin menarik.

Bila perlu, buatlah kata-kata yang hiperbolis atau berlebih-lebihan ketika menulis rasa ini. Contohnya, gurihnya sampai membuat lidah tak bisa berhenti bergoyang. Ya, menulis kuliner termasuk menulis subjektif. Jadi, sah-sah saja melebih-lebihkan. Apalagi kalau menulisnya untuk blog. ?

Tambahkan Teksturnya
Tiap menu punya tekstur berbeda-beda. Tipat kuah ala Warung Tresni, misalnya, punya banyak tekstur di dalam satu menu ini. Ada tipat yang teksturnya lembut meski padat. Ada daging ayam yang sedikit kenyal. Namun ada juga jagung sangrai, digoreng pakai pasir, yang renyah. Bahasakan pula bagaimana tekstur tersebut. Pada krupuk, contohnya, sebutkan saja bahwa saking renyahnya, krupuk ini bersuara, kriuk kriuk, ketika digigit.

Tekstur pada menu yang disantap ini sekaligus membantu pembaca untuk menyiapkan kekuatan gigi kalau mereka mau menikmati menu yang kita tulis. Kalau memang teksturnya lembut, gigi saja tentu cukup. Kalau, teksturnya alot, barangkali mereka mau bawa peralatan lain. Palu, misalnya. Wahaha..

Sajikan Proses Pengolahan
Bagian ini bisa saja masuk langsung di bagian rasa dan teksur. Soale berhubungan erat. Jadi, katakanlah pada menu kuah yang terasa gurih. Bisa saja langsung disebut bahwa kuah tersebut dihasilkan dari kaldu ayam. Karena itu terasa sangat gurih. Nah dituliskan saja bagaimana kaldu ayam itu dibuat. Begitu juga dengan tekstur yang lembut. Kenapa kok bisa lembut? Apakah karena dagingnya dipijat dulu, ataukah karena dagingnya pakai lotion untuk kecantikan sehingga lembut sekali. :p

Susahnya, proses pembuatan ini tak bisa kita ketahui tanpa bertanya pada tukang masak, atau paling tidak pada pelayan. Karena itu kalau memang niatnya hanya semata menulis untuk diri sendiri, bagian ini bisa saja diabaikan. Lagian kalau terlalu fokus pada masalah ini,

Sertakan Juga Suasana
Nah, ini bisa jadi melengkapi tulisan kuliner. Gambarkan bagaimana suasana tempat makan tersebut. Berapa luasnya? Pakai meja kursi ataukah lesehan? Muat berapa orang? Ketika kita makan di sana sedang ramai apa tidak? Apakah panas atau dingin karena kipas atau AC? Dan seterusnya. Suasana ini tak terbatas pada ruangan tapi juga situasi di luar tempat bersantap.

Contoh yang bisa dipakai adalah suasana bersantap di Kedai Desa Dusun, Gatsu Timur. Sambil bersantap, pengunjung akan dimanjakan oleh pemandangan serupa Ubud. Lansekap agak miring karena berada di sisi sungai. Tanaman asri menghijau di areal sekitar 20 are ini. Ada sungai (Tukad) Ayung di bagian bawah. Di seberangnya ada perumahan mewah Teras Ayung. Jadi sambil bersantap, kita bisa bermimpi kapan kita bisa tinggal di kawasan elit Denpasar tersebut. Suara gamelan bali sayup-sayup terdengar di sela asrinya taman.

Itu hanya salah satu contoh. Masih banyak contoh lain.

Tambahkanlah Detail
Ada beberapa hal yang bisa ditambahkan dalam detail tulisan kuliner. Kalau memang sudah mahir ala Bondan Mak Nyus sih bagus banget. Tambahkan makna budaya atau sosial apa di balik makanan tersebut. Ini tentu akan menambah daya tarik tersendiri pada menu yang kita tulis.

Tapi kalau ilmunya belum sampe sana, seperti halnya aku, lengkapi saja dengan detail lain seperti cara penyajian, riwayat warung, jam buka, jumlah pengunjung, dan harga.

Cuma ya tidak usah semua bagian di atas ditulis semua. Pilih saja bagian mana yang mau ditonjolkan. Jadinya lebih enak dinikmati. Ibarat santapan itu sendiri, kalau tulisan terlalu banyak bahan juga malah rasanya tidak karuan..

8 Comments
  • asn
    January 25, 2010

    bener2 jurnalis sejati!
    *ato tukang makan sejati? :))

    ReplyReply

    [Reply]

  • imadewira
    January 26, 2010

    wah wah wah.. tulisan ini bener2 mak nyus, cocok banget untuk saya yang ingin sesekali menulis tentang kuliner 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • eka dirgantara
    January 27, 2010

    TOP MARKOTOP…SIP MARKUSIP…CROT MAKROCOT…

    bisa nih jadi acuan, ntar mau coba menulis tentang kuliner ah…

    ReplyReply

    [Reply]

  • PanDe Baik
    January 28, 2010

    hmmm… saya siy biasanya duluan habis menyantap makanannya ketimbang tanya sana sini buat bahan nulisnya. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  • Agung Pushandaka
    January 30, 2010

    Susah buatku untuk menulis kuliner. Isinya paling cuma bilang, enak dan ndak enak doank! 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

  • andy (delupher)
    February 6, 2010

    idih enak banget si Lina Pw dapet maem gratisan mimih banyak dagh negengeknya dy entar quiqiqiiqiqiqiiqiqiqiiqiqiqiiq

    ReplyReply

    [Reply]

  • richo
    February 8, 2010

    wah bisa detail…. hebat n mantap grak…. salam kenal

    ReplyReply

    [Reply]

  • didut
    February 9, 2010

    wah disewa Intisari juga ya 🙂

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *