Agar Nusa Penida Tak Serupa Induknya

1 , , Permalink 0

lets-go-to-nusa-penida

Diam-diam, Nusa Penida makin membuat ketagihan.

Makin sering kami datang, makin sering kami ingin berkunjung lagi. Makin banyak tempat kami jelajahi, makin banyak pula cerita dan perspektif baru tentang pulau ini.

Begitu pula setelah kami mengikuti Festival Nusa Penida 2016. Festival Nusa Penida kegiatan tahunan Pemerintah Kabupaten Klungkung. Tahun ini yang ketiga. Targetnya untuk mempromosikan kawasan tiga pulau di sisi tenggara Bali ini.

Sejak diadakan pertama kali dua tahun lalu, lokasi festival berpindah-pindah. Pertama kali dulu di Desa Sampalan, kawasan paling ramai di pulau ini. Pada tahun lalu lokasinya di Nusa Lembongan. Kali ini lokasinya di Banjar Nyuh, sisi barat pulau.

Teman baik di Nusa Penida, Wayan Sukadana, selalu menjadi tuan rumah yang baik bagi kami. Begitu pula kali ini. Kemarin pagi kami berangkat dari Sanur. Siang tadi kami kembali.

Dia tak hanya mengundang kami secara pribadi tapi juga menyediakan rumah untuk menginap. Tak hanya menikmati segarnya menu favorit ikan tongkol bakar dan sambal matah, kami juga bisa ngobrol asyik dengan teman-teman di sana. Ngobrol dengan mereka ini memperkaya informasi. Sesuatu yang tak bakal ada di lembar-lembar brosur pariwisata.

Salah satu isu menarik dalam obrolan kali ini adalah soal ancaman di balik makin menggeliatnya pariwisata.

Tak bisa dipungkiri, Nusa Penida makin menggeliat. Secara ekonomi dan politik.

Untuk pertama kalinya, putra Nusa Penida, tepatnya dari Nusa Ceningan, menjadi Bupati Klungkung. Secara politis, tiga pulau di Kecamatan Nusa Penida yaitu Nusa Gede, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan pun lebih terangkat.

Pembangunan pun makin lancar. Dari sekitar 200 km jalan lingkar, hampir 50 persen sudah teraspal. Bagus dan mulus. Memudahkan pergerakan warga lokal dan turis-turis yang berkunjung ke pulau ini.

Lebih mudahnya akses transportasi mudah membuat makin banyak tempat bisa dikunjungi juga. Tempat-tempat tersembunyi yang memikat terus saja bertambah. Jika dulu yang terkenal hanya Crystal Bay, maka sekarang ada Pantai Atuh, Pantai Billabong, mata air Tembeling, dan seterusnya.

Tempat-tempat baru itu menambah daya tarik Nusa Penida yang sebelumnya terkenal dengan wisata baharinya. Pariwisata membuat Nusa Penida makin kelihatan sebagai telur emas Pulau Dewata. Tiga pulau yang semula dilihat sebelah mata kini makin populer sebagai salah satu tujuan pariwisata.

Dulu, orang Nusa Penida minder mengaku berasal dari pulau ini. Sekarang, mereka menyebutnya dengan bangga. Pariwisata mengubah Nusa Penida.

Masalahnya, makin banyak turis, makan tinggi tekanan terhadap lingkungan. Begitulah hukum alam. Terus bertambahnya turis ke Nusa Penida juga makin membuat lingkungan bahari pulau ini makin terancam.

Dwi, anak muda lokal yang kini menjalankan perjalanan untuk turis domestik bermodal akun Instagram, mengatakan, Nusa Penida sepenuhnya bergantung pada wisata bahari. Karena itu perlu ada pembatasan terhadap jumlah turis. Tapi, ini belum terjadi.

Dia menyebut misalnya di Crystal Bay. Saking bening dan bagusnya air laut di sini, makanya disebut kristal. Terumbu karangnya juga bagus. Tapi, itu dulu. “Sekarang sudah makin rusak dan keruh,” kata Dwi.

Pada saat ngobrol santai dengan Bupati Klungkung I Nyoman Suwitra, salah satu pengusaha wisata bawah air juga mengatakan hal serupa. Menurutnya, makin hari jumlah turis ke Nusa Penida makin tak terkendali.

“Kalau kita menyelam di Nusa Penida atau Nusa Lembongan sudah kayak di pasar. Terlalu banyak. Padahal itu merusak lingkungan,” katanya.

Omongan Dwi dan pengusaha yang aku juga lupa mencatat namanya itu bisa jadi hanya dua contoh bagaimana pariwisata di satu sisi memang mengubah hidup tapi juga bisa mengancam keberlanjutan.

Mumpung baru mulai, Nusa Penida perlu mengantisipasi semua kemajuan yang mereka peroleh saat ini. Biar nanti tidak kadung malah makin parah lalu serupa pulau induknya, Bali daratan.

1 Comment
  • Jody
    October 9, 2016

    Solusi membatasi pengunjung wisata bawah air ini sebenarnya menarik,tapi juga agak dilematis, mas.

    Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah mengadakan retribusi yang cukup mahal untuk wisata bawah air (snorkeling / diving). Ini sudah terjadi di Pulau Menjangan.

    Tiket turis mancanegara utk taman nasional bali barat yang dulu hanya 20rb per orang, sekarang dinaikkan jadi 200rb per orang. Alhasil, banyak travel agen yang berhenti memasukkan pulau menjangan ke paket turnya. Atau dibuat paket opsional (wisatawan harus bayar ekstra lagi untuk ke Menjangan).

    Di satu sisi, ini lumayan berhasil. Kunjungan wisatawan mancanegara ke Menjangan relatif lebih stabil (cenderung menurun malahan). Tapi yang sekarang dilematis, jumlah turis lokal sekarang jadi JAUUUH lebih banyak. Terutama yang berangkat dari Bangsring (Banyuwangi).

    Pemerintah jelas tidak berani mengenakan tarif 200rb per orang ke turis lokal. Kalau tidak salah, untuk turis lokal hanya 10-20 rb saja. Masalahnya, turis lokal itu dampaknya justru cenderung lebih destruktif drpd turis mancanegara. Kebanyakan snorkeling itu bukan untuk lihat ikan, tapi untuk foto. Jadilah banyak yang berdiri di atas karang, buang sampah ke laut, dll.

    Akhirnya, solusi menaikkan retribusi wisata bawah air ini cenderung jadi senjata makan tuan. Benar jumlah turis asing berkurang, tapi jumlah turis lokal yang cenderung lebih ‘merusak’ malah meningkat drastis. Tingginya harga tiket turis asing juga membuka kesempatan bagi petugas taman nasional utk ‘bermain’ dengan uang tiket

    Pengalaman ini mungkin bisa dipertimbangkan untuk mencari solusi utk mencegah Nusa Penida mengulangi kesalahan yang sudah dibuat induknya 🙁

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *