Agama Tak Cuma Surga dan Neraka

1 , , , Permalink 0

Kenapa ya kok males dengerin khotbah?

Pertanyaan itu sudah lama ada di pikiranku. Bawaannya malas kalau dengerin khotbah di TV ataupun di tempat lain.

Awalnya kupikir cuma aku yang malas begini. Sampai kemudian aku baca status kakakku. Dia yang lebih religius dibanding aku, setidaknya dia sudah umrah sementara aku kepikiran untuk umrah pun tidak (hehe), merasakan hal sama. Dia menulis pertanyaan tersebut di akun Facebooknya.

Pada bulan puasa, wajah-wajah para penceramah itu semakin akrab di layar kaca. Dari dini hari hingga kembali pagi, mereka akan memenuhi televishit.

Dan, semakin sering khotbah-khotbah ini disampaikan, aku kok semakin bosan. Mungkin tak hanya aku tapi juga pemirsa TV yang tak punya banyak pilihan. Tentu tak semua khotbah di TV membosankan. Ada juga yang masih menyenangkan dan menenangkan seperti Quraish Shihab.

Ada beberapa alasan kenapa khotbah di TV jadi membosankan. Pertama dari sisi materi. Dari zaman bahuela sampai zaman internet ini, tema khotbahnya nyaris seragam: surga, neraka, dosa, pahala, dan seterusnya. Tema ini boleh saja. Wajar. Tugas utama para pengkhotbah memang untuk membicarakan tema ini. Cuma, kalau terus menerus mengulang tema sama, lama-lama bosan juga.

Perlu ada tema khotbah yang lebih membumi. Tak hanya melulu pahala dan dosa, surga dan neraka, dan semacamnya tapi juga tentang tema-tema aktual, terutama yang berbau sosial.

Misalnya, tema tentang perlunya menguasi teknologi, membangun soldaritas sesama manusia meski berbeda agama, dan seterusnya. Dengan tema lebih membumi, aku yakin khotbah di mana pun itu akan lebih terasa menyenangkan.

Dagdigdug
Dan, jangan lupa, tidak elok kalau khotbah justru isinya untuk menebar kebencian pada umat ataupun golongan lain yang berbeda. Bukankah agama itu sendiri, konon, hadir agar manusia bisa lebih tenang hidupnya. Jadi, jangan kemudian malah digunakan untuk membenci orang lain yang berbeda.

Selain karena tema yang cenderung monoton, khotbah juga jadi kurang asik karena cara menyampaikannya kurang asik. Inilah alasan kedua. Materi khotbahnya mungkin bagus. Cuma, karena menerangkannya dengan intonasi tinggi seperti orang marah-marah, jadinya malah membuat hati dagdigdug seperti sedang dimarahi orang.

Salah satu contoh khotbah yang cara penyampaiannya kurang bagus ini adalah ibu-ibu yang pagi-pagi sudah berkhotbah di layar kaca. Kadang-kadang lucu sih gayanya. Tapi, sering pula seperti marah-marah dan menggurui. Padahal, khotbah itu seharusnya menasehati, bukan memarah-marahi atau mendikte orang.

Tapi, pada akhirnya, khotbah di TV hanyalah komoditi. Bukan pesan yang jadi tujuan utama tapi seberapa banyak orang menontonnya. Tujuan utamanya tetap hiburan. Tontonan, bukan memberikan tuntunan.

Dan, kadang-kadang banyaknya jumlah penonton ini tak berbanding lurus dengan kualitas. Lihatlah shitnetron yang hampir semuanya ditayangkan pada jam utama (prime time) atau acara-acara gosip dengan rating tinggi. Mereka semua membuktikan bahwa banyaknya orang yang menonton tidaklah berarti acaranya bagus.

Kadang kita menontonnya hanya karena tak ada pilihan. Tayangan TV kita bukanlah karena permintaan pemirsa (demand driven) tapi karena hanya itu yang diberikan TV (supply driven).

Jadi, biar tak terus menerus dibombardir khotbah membosankan, berhentilah menontonnya. Cari acara lain yang lebih berguna. Atau sekalian matikan TV Anda.

1 Comment
  • imadewira
    September 21, 2011

    Pak Anton, walaupun saya bukan muslim, tapi pernah saya menonton acara khotbah yang cukup bagus, saya lupa kapan di siapa peng-khotbah-nya. Tapi yg jelas isinya waktu itu tentang perlunya menghargai umat selain muslim di Indonesia.

    Yang acara khotbah pagi-pagi dengan gaya membentak-bentak seperti itu, saya sendiri sangat tidak suka, tapi berhubung setelah itu ada acara “berita olaharaga” yang biasanya saya tunggu, jadi kadang acara khotbah itu tertonton oleh saya di bagian akhirnya.

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *