Adakah Tempat untuk Orang-orang Miskin?

0 No tags Permalink 0
Menjelang siang di Jl Waturenggong, Denpasar. Jalan dua arah ini sering banget menyebalkan. Lebarnya cuma cukup untuk tiga mobil berjejer. Tapi banyak banget yang parkir di kanan kiri jalan. Kalo udah gini, bawaannya pasti macet. Motor saling serobot. Mobil saling ngotot. Semrawut! But, mau gak mau aku harus melewatinya tiap hari.

Jalan ini relatif kecil, seperti umumnya jalan raya di Denpasar. Pernah sih ada yang bilang kalau Denpasar memang tidak disiapkan sebagai kota. Karena itu jalannya kecil-kecil, meskipun jalan utama. Untuk tiga mobil berjejer aja jalan udah penuh.

Tapi siang itu jalan relatif lancar. Hanya ada mobil berjalan pelan di depanku. Aku juga ikut pelan.

Tiba-tiba saja mobil itu nglakson kenceng-kenceng. Aku menangkapnya sebagai petanda dia sebal atau marah. Dan benar saja. Mobil itu pelan, ternyata karena ada seorang pemulung barang bekas naik sepeda. Mobil itu mau nyalip, tapi agak susah. Mungkin karena lama nunggu tetap saja gak bisa nyalip, akhirnya dia sebal lalu bunyiin klakson kenceng-kenceng.

Pemulung itu lalu berhenti dan menepi. Pas mobil bisa nyalip, sopirnya bentak-bentak ke arah pemulung. Tentu saja pemulung itu hanya bisa diam. Secara ekonomi dan secara sosial jelas dia kalah. Pengendara mobil itu jelas naik mobil, dia hanya naik sepeda. Secara mental -dalam pengertian berani melawan- pemulung itu juga kalah. Lalu mau apa dia? Melawan?

Mata pemulung itu jelas tidak senang dibentak-bentak. Tapi dia kemudian hanya menunduk. Dia hanya berhenti.

Aku melihatnya, dan hanya bisa menahan nafas. Tidakkah pemulung itu juga punya hak pake jalan tanpa harus dibentak-bentak? Tidakkah semua sarana itu memang dibangun untuk kepentingan bersama, tidak hanya untuk mereka yang punya mobil? Kalau begitu, mereka yang naik mobil juga sekali-kali harus mengalah, dong.

Masa selalu saja orang miskin dan lemah harus dikalahkan?

No Comments Yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *