A9ama, Menyigi Misteri Penyampai Informasi

4 , , Permalink 0

Media massa itu semata memberitakan apa yang ingin mereka sampaikan.

Berita, lewat media apa saja, merupakan hasil saringan wartawan dan media itu sendiri. Ada sudut pandang wartawan, pemilihan oleh tim redaksi, juga politik media yang memberitakan. Di balik berita, banyak fakta “pertarungan” antar-media atau sesama wartawan di satu media.

Fakta-fakta itu amat jarang terungkap ke publik. Sebab, meski bekerja untuk menyampaikan informasi, dinamika di balik media justru jadi semacam misteri. Tak banyak yang tahu.

Biar tahu bagaimana dinamika di balik media tersebut, bacalah buku A9ama Saya Adalah Jurnalisme ini. Dia memberikan informasi sekaligus perspektif baru tentang dinamika di balik media ini. Buku terbitan Kanisius (2010) setebal 262 halaman ini menyigi misteri di balik media tersebut lewat empat topik utama: laku wartawan, penulisan, dinamika ruang redaksi, dan peliputan.

Penyusun buku ini Andreas Harsono. Dia pernah bekerja di beberapa media, seperti The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), dan The Star (Kuala Lumpur). Saat ini dia bekerja untuk Human Right Watch (HRW), lembaga pengawas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang berbasis di New York selain menulis lepas untuk media nasional maupun internasional dan mengelola Yayasan Pantau, lembaga untuk meningkatkan kualitas jurnalisme di Indonesia.

Andreas ini, menurutku, layak disebut sebagai salah satu guru jurnalisme di Indonesia saat ini. Aku sendiri beberapa kali berdiskusi atau membantunya untuk urusan-urusan lain terkait jurnalisme di Bali. Dia juga salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI), organisasi jurnalis di mana aku masih jadi anggota hingga saat ini.

Konflik
Buku ini merupakan kumpulan tulisan Andreas yang tersebar di berbagai media, seperti blog, mailing list, juga majalah (almarhum) PANTAU. Karena itu pula, Andreas menyebut buku antologi ini sebagai buku-bukuan karena tak berupa buku utuh melainkan kumpulan bahan yang terserak.

Toh, meski penulisnya menyebut sebagai buku-bukuan, menurutku, buku ini tetap bisa jadi panduan sekaligus sumber pengetahuan bagi mereka yang ingin tahu seluk beluk jurnalisme.

Dia memuat 34 tulisan, seperti isu model pelatihan media kampus, beasiswa untuk jurnalis, cara menulis dalam Bahasa Inggris, konflik TEMPO vs Tommy Winata, hingga bagaimana media meliput konflik. Seluruh tulisan dibagi dalam empat tema utama, yaitu laku wartawan, penulisan, dinamika ruang redaksi, dan peliputan.

Di antara empat tema utama buku ini, dinamika ruang redaksi mengambil porsi terbanyak. Di tema ini ada sepuluh tulisan mengambil 89 halaman dari 262 halaman. Bandingkan dengan tema lain, yaitu peliputan (9 tulisan di 59 halaman), penulisan (6 tulisan di 30 halaman), dan laku wartawan (9 tulisan di 60 halaman).

Selain dari jumlah tulisan dan halaman yang lebih banyak, bahasan tentang dinamika ruang redaksi ini juga diulas lebih mendalam. Maklum, tulisan-tulisan ini memang hasil reportase mendalam Andreas, sendiri maupun bersama tim, yang pernah dimuat di majalah PANTAU. Majalah yang sudah tak terbit lagi ini dulu membahas fakta-fakta di balik media dengan gaya penulisan baru, jurnalisme sastrawi.

Dengan gaya tulisan sastrawi nan memikat, tema-tema berat dalam tulisan ini jadi tetap amat enak dibaca.

Dinamika
Tulisan berjudul Kecepatan, Ketepatan, dan Perdebatan misalnya mengungkap politik media dalam memberitakan jatuhnya Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia keempat Indonesia dalam gonjang-ganjing politik tahun 2001.

Berdasarkan reportase Andreas dan tim PANTAU ini terungkap bahwa media TV nasional, seperti RCTI, Metro TV, dan SCTV, sengaja atau tidak, memang berpihak pada Amien Rais CS yang saat itu menjatuhkan Gus Dur. Keberpihakan ini bisa dilihat dari siapa narasumber yang lebih sering dikutip dan kira-kira ke mana dia akan berpihak. Inilah hal-hal yang belum tentu diketahui konsumen media.

Tulisan lain terkait dinamika ruang redaksi ini juga ada tentang bagaimana media membahas terorisme, konflik, hingga suka duka wartawan di daerah, seperti di Ende, Flores.

Dengan tema amat beragam itu, memang susah mendapatkan satu tema khusus yang dibahas buku ini. Meski demikian, ada satu hal yang paling sering diulas Andreas dalam buku ini, 9 Elemen Jurnalisme, yang dihasilkan Bill Kovach dan Tom Rosentstiel, begawan jurnalisme di Universitas Harvard dan Committee of Concerned Journalists. Inilah alasan kenapa buku ini berjudul A9ama Saya Adalah Jurnalisme.

Khusus tentang Kovach, jelas terlihat bahwa Andreas amat memuja kuratornya selama ikut program Nieman Fellowship pada tahun 1999-2000. Karena itu, hampir di tiap tulisan, dia selalu menyebut nama ini sebagai acuan. Sangat terasa Kovach adalah patron Andreas. Mungkin ini yang terasa agak berlebihan.

Foto diambil dari Balairung.

4 Comments
  • jarwadi
    October 23, 2011

    karena itu lah diperlukan citizen jurnalisme agar bisa menjadi penyeimbang berita media mainstream 🙂

    walau wacana citizen jurnalisme masih sebatas idealisme, hehe

    ReplyReply

    [Reply]

  • Hanif Mahaldi
    October 24, 2011

    sudah baca, bahkan sudah beli, bener2 sebuah A9ama yah jurnalisme itu. beliau menghadirkan kisahnya sangat idealisme.

    ReplyReply

    [Reply]

  • nich
    October 25, 2011

    Barangkali saya tidak termasuk satu-diantara-jurnalis-Indonesia, tapi sedikit tentang “semata memberitakan apa yang ingin mereka sampaikan” ini tergantung media massa mana yang kita santap 😀

    Seandainya masyarakat dididik untuk bisa terbiasa untuk mencoba melihat gambar besar, barangkali yang semakin repot adalah jurnalis mainstream :p
    *barangkali ya*

    ReplyReply

    [Reply]

  • dhenok habibie
    October 27, 2011

    bukunya lumayan berat yaa sob.. saya membaca review-nya disini aja udah pusing dengan istilah2 politik yang membuat kepala saya mendadak pusing.. masalah jurnalis, no komen ah.. 2 komentator diatas sudah memberikan komentar yang pas.. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *