Ironi di Balik Sejahteranya Singapura

“Singapura bukan tempat yang enak buat hidup.”

Jawaban senada itu datang dari empat orang berbeda di tempat berbeda dan dalam waktu berbeda pula. Amat mengejutkan bagiku.

Empat orang itu dua orang Indonesia, satu warga Singapura sendiri, dan satu lagi orang Belanda. Keempatnya memberikan jawaban senada. Bagi mereka, Singapura itu memang tertib, aman, sejahtera. Namun, terlalu banyak aturan di negeri ini. Biaya hidup juga amat mahal. Makanya terasa mengekang dan membosankan.

Tapi, aku nyatakan sejak awal, pendapat ini amat umum karena hanya berdasar pada obrolan santai. Juga mengandalkan pengamatan selama tiga hari di sana.

Berkali-kali naik kereta, misalnya, aku lebih sering menemukan wajah stres seperti aku daripada yang cerah ceria. Tiap orang sibuk dengan iPad atau iPhone masing-masing. Kalau ada yang bawa Blackberry, dijamin itu dari Indonesia, seperti Nike dan Indah Juli. :p

Perilaku para pengguna gawai (gadget) di Singapura ini, menurutku, kok lebih memprihatinkan dibanding di Indonesia. Sejauh yang aku tahu, pengguna gawai di Indonesia masih mengakses jejaring sosial, seperti Facebook atau Twitter. Jadi, meski sibuk dengan gawai, mereka masih berhubungan dengan orang lain meski secara virtual.

Kalau di Singapura tidak. Tiap kali melirik pengguna gawai di kereta atau bus selama di Singapura, yang terlihat tuh mereka amat asyik dengan dunianya sendiri. Misalnya buka video, game, atau musik. Pengguna gawai di Singapura amat soliter.

Alan, sopir taksi pengantar kami dari hotel ke kawasan Nanyang Technological University, membenarkan apa yang aku lihat. “Orang sini sangat individualis. Beda dengan orang Indonesia,” kata warga Singapura yang beristri orang Medan, Indonesia ini.

Aku pernah dengar tentang betapa individualisnya orang Singapura seperti juga orang Jepang. Pas di sana juga mengalami sendiri. Seorang teman blogger Indonesia yang jalan-jalan bersamaku bermaksud menolong seorang nenek yang akan turun dari kereta. Bagiku sih itu wajar banget kalau di Indonesia. Eh, si nenek malah menolak dan tak tersenyum sama sekali. Maksud baik bisa ditanggapi berbeda di negeri ini.

Adik sepupuku, Pradana Boy, yang lagi kuliah doktor di National University of Singapore (NUS) menceritakan hal sama. Mahasiswa dari Indonesia bermaksud ngajak ngobrol penumpang lain di kereta, eh, dia malah dijauhin. Mahasiswa itu merasa malah dicurigai.

Tingginya tingkat stress warga Singapura, antara lain akibat tinginya biaya hidup di negeri berpenduduk sekitar 5 juta ini. Harga barang dan jasa di negeri bekas jajahan Sriwijaya dan Majapahit ini bisa sampai 6 x lipat dibanding di Indonesia.

Ela, adik sepupu yang juga tinggal di Singapura, bercerita. Harga sewa flat di sini bisa sampai Rp 20an juta per bulan. Lha itu kalau di kampung sih bisa buat bangun rumah sederhana.

Alan si sopir taksi juga bercerita bagaimana tiap akhir pekan warga Singapura justru rame-rame nyeberang ke Batam. Alasannya, “Biar bebas hura-hura dengan biaya murah.”

Dia memberikan contoh. Di Batam mereka hanya beli rokok Rp 15.000 per bungkus yang kalau di Singapura bisa sampai Rp 60.000. Begitu pula dengan bir. Harga di Indonesia jauh lebih murah. Aku sendiri tak pernah beli rokok ataupun bir selama di Singapura. Tapi, aku percaya omongan Alan.

Kebiasaan warga Singapura lari ke Batam saat akhir pekan itu juga karena hukum di Indonesia yang jauh lebih longgar dibanding di Singapura. “Kalau di negara kalian kami bebas ngapain saja. Merokok dan minum bir di mana saja. Kalau di sini susah. Salah sedikit bisa kena denda. Mahal,” katanya.

Maka, begitulah menurut mereka. Singapura memang enak buat jalan-jalan tapi tak enak buat tempat tinggal. Bisa cepat stres.

15 Comments

  1. keren! suka mas tulisan ini

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    makasih, mas. aku suka komenmu juga. :p

    ReplyReply

    [Reply]

  2. kayak manusia kan, selalu ada kurang dan lebihnya. ambil dan belajar dari positifnya suatu negara :)
    kalo aku diajak tinggal di Singapura sih mau aja, bikin perkumpulan orang Indonesia dan sering2lah bertemu :)

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    ya, mbak. karena sudah ada nulis yg bagus2, maka aku nulis sisi lain saja. biar berimbang. banyak kok sisi positifnya sekarang giliran nulis sisi yg mungkin belum banyak yg nulis.

    semoga kapan2 bisa tinggal di sana deh, mbak. sekalian bikin komunitas blogger di sana.

    ReplyReply

    [Reply]

  3. waduh, ternyata singapure seperti itu ya mas. mengerikan sekkali kirain saya enak gitu jadi I LOVE INDONESIA LAH.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    jyah. gak sampe mengerikan sih. cuma ya itu sisi lain yg mungkin menarik bagiku. soale selama ini kan aku hanya mengenal singapura sebagai tempat asyik banget. ternyata ya ada sisi “buruk” juga.

    ReplyReply

    [Reply]

  4. wah…..untung belum pernah ke singapura…
    ternyata begitu yah..

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    hahaha. tentu saja tetap lebih beruntung mereka yg pernah ke singapura daripada tidak sama sekali. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  5. Jadi pengen mulangin orang-orang Indonesia yang merantau ke Singapura. Tapi kalau buat menggali dolar, Singapura sepertinya tempat yang bagus.. :)

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    buat menggali dolar sih bagus. tp buat menghabiskannya juga bagus banget. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  6. Beberapa tahun lalu pas aku ke Singapura aku pernah diceritain sama guidenya pernah ada anak bule turis dihukum krn nyoret2 dinding disana. Sampe dipidanakan Bapaknya krn ga terima anaknya diperlalukan spt itu. Yah, tapi itulah Singapura. Peraturannya ketat, ga pandang bulu. Sebagian org, khususnya yg udah lama tgl disana nyaman bgt dgn kakunya aturan2 disana. Lengkap dgn situasi individu yg “nyaman” buat mereka :)

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    bisa jadi karena ketatnya aturan tersebut, maka pecinta kebebasa seperti kita jd terganggu. :)

    ReplyReply

    [Reply]

  7. menurut sy orang disini cukup friendly..samalah seperti dijakarta
    mungkin karena anda cuma turis ya… dan jika anda bertanya pada orang indo yang tinggal disini tolong dikonfirmasi mereka lebih banyak bergaul dengan sesama indo atau dengan orang singapurnya
    selama sy tinggal dijakarta juga klo ada orang asing ajak omong mana mau sy tanggapi, apalagi dikendaraan umum (kembali kemasing2 individu) karena disini banyak juga org singapur yg friendly saat diajak obrol org asing.
    oya dan 1 pendapat sy juga jgn hanya bertanya pada supir taksi, maaf bukan bermaksud merendahkan tetapi rata2 mereka memiliki pendapatan yg medium low, wajar saja mainannya kebatam. Coba tanyakan pada anak muda umumnya dan orang2 tua disini mereka sih spend time disg atau merencanakan liburan keluarnegeri, ya seperti umumnya orang indonesia saja bagaimana.

    menurut pengalaman sy lagi makanan disini sama saja ah dengan dijkt harganya, klo lunch dijkt bisa spend 25rb-30rb…disini juga 3-4sgd klo dihawker…klo masak ya pasti lebih murah. yang mahal mungkin tempat tinggal, tapi dijkt pun sudah umum ya hrg rumah seperti daerah cibubur saja bisa 1-2M.
    tergantung kita juga atur keuangan, mau dikasih gaji 30jt diindo tp gabisa nabung jg ya gabisa beli rumah..

    cheers,
    (berdasar pengalaman sy, suami org singapur dan jarang bergaul dengan sesama indo, tempat tinggal dan lingkungan org singapur)

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    terimakasih atas penjelesannya. sangat memberikan keberimbangan dalam tulisan ini karena ditulis langsung oleh orang singapura. sekali lagi terimakasih.

    seperti saya tulis di sini, tulisan tersebut memang amat general dan menyederhanakan. itu hanya berdasarkan pengamatan dangkal dan sebentar. tentu tak bisa mewakili kondisi sebenarnya.

    soal omongan sopir taksi, dia sendiri memang bilang begitu. bagi orang kaya, singapura itu negara enak banget. tp bagi orang miskin seperti dia dan teman2nya, negeri itu memang membuat hidup mereka amat penuh tekanan. tentu saja ini memang tergantung siapa yg ngomong. kalo saya sendiri sih menikmati saja ketertiban singapura. bersih. rapi. tertib. saya cuma merasa kurang nyaman dg banyaknya CCTV di mana2. :)

    demikian.

    ReplyReply

    [Reply]

  8. Teman-teman yang pernah ke Singapura bilang, emang lebih enak di Indonesia. Atau mungkin kita sudah terbiasa dengan keadaan di Indonesia yang walaupun aturan ada tetap saja bisa dilanggar yah? 😀
    Mungkin bagi yang suka dengan aturan, tertib, semuanya dengan sistem, Singapura bisa jadi tempat yang menyenangkan yah.. But I love Indonesia utamanya Makassar 😀

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    saya juga cinta makassar, apalagi makanannya. dari sekian banyak tempat yg sering aku kunjungi, belum ada yg mengalahkan makassar dari makanannya. serius. enak banget di sana. surga deh pokoknya. 😀

    ReplyReply

    [Reply]

  9. Teman saya jadi warga Singapura sejak kuliah S2 disana dan kerja disana. hmm.. orangnya jadi rada “pelit” hihi (dalanm arti becanda ya) soalnya mereka (suami istri) nyiapin buat biaya sekolah anak dua atau tiga tahun lagi tuh udah hemat2 banget. Bahkan makan juga ngirit. Maklum, “hanya”peneliti di kampus NTU.

    Suka gemes deh kalau ketemu keluarga ini. Jadi klo ke Indonesia tak suruh makan sebanyak2 nya ke saung-saung sunda hehehe..

    ReplyReply

    [Reply]

  10. Yeah,untuk konteks demikian, kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang

    ReplyReply

    [Reply]

  11. Aq nyari tmn q,namanya jirzy,dia berasal dari malang pindah ke singapore thn 2002.kl misalnya ada info ttg dia,tolong crita ya,trims…

    ReplyReply

    [Reply]

  12. claudia tjahjadi

    27/06/2012 at 9:21 am

    bener bgt ini tulisannya!! saya sndiri merasakan hal yg sama krn saya lg stay di sg dr sptember 2011 untuk kuliah diploma in culinary skills disini. sekedar tambahan, dunia kitchen di singapura jg menyeramkan..banyak sekali saya menemui orang2 yg sangat sangat individualistis sampai tidak mau membantu sekalipun mereka sedang free.malah saya sering menerima kalimat-kalimat tidak mengenakan dari orang-orang hotel tempat saya magang sekarang..

    kesimpulannya..tidak ada tempat yang lebih indah daripada negeri kita sndiri hehe

    ReplyReply

    [Reply]

  13. cerita nya bgs? saya menyukainya maksh ya/

    ReplyReply

    [Reply]

  14. Bisa minta kontak sepupunya yg studi doktoral di NUS nya mb? saya kbtulan mau studi S3 juga disana, ingin diskusi dan konsultasi, terima kasih sebelumnya.

    ReplyReply

    [Reply]

    a! Reply:

    coba lewat facebook, mbak. :)

    https://www.facebook.com/leyla.azzaky

    ReplyReply

    [Reply]

  15. seenak-enak nya negara tetangga tapi masih enak negara kita sendiri? enak nya singapur itu yaaa bagi saya buat represing aja ya jalan jalan gitu lah?

    ReplyReply

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

© 2015 Rumah Tulisan

Theme by Anders NorenUp ↑