Memburu Jejak Dampak Perubahan Iklim di Bali
Wayan menambahkan kalau berkurangnya debit air juga karena adanya alih fungsi. Sebagian warga tidak menanam padi lagi tapi beralih ke tanaman coklat dan pisang. Namun saat ini tanaman pengganti itu pun bermasalah. Pisang busuk. Coklat tidak berbuah.
Namun, semua kondisi itu tidak membuat Wayan Puja, pekaseh (pemimpin subak) di Jatiluwih di khawatir. Puja membantah jika saat ini terjadi kekurangan air di Jatiluwih. “Kalau sekarang sebagian kering, itu karena memang musim kering. Kalau Desember pasti sudah basah lagi,” katanya.
Menurut mantan pegawai Telkom ini, sesuai perkiraan, saat ini memang musim subak abian (kering). Kira-kira sampai Desember nanti akan begini. “Pada Januari 2008 kami akan mulai bertanam padi Bali, sehingga kondisi lebih hijau lagi,” ujarnya.
Ketika sudah musim tanam padi Bali, semua petani di Jatiluwih akan menanam jenis padi bali. Kalau ada yang menanam padi jenis lain pada musim tanam Bali, maka petani itu akan mendapat sanksi untuk melakukan caru. Aturan ini sudah ada di awig-awig dan perarem (hukum tradisional Bali).
Alasan Puja sepertinya logis. Namun aku sih curiga ada sesuatu yang dia sembunyikan. Menurut dua Wayan sebelumnya, baru tiga tahun terakhir terjadi kekurangan air di Jatiluwih. Seumur-umur belum pernah terjadi. Menurut mereka, Jatiluwih memang sedang menyembunyikan masalah kekeringan itu. Sebab, mereka sedang dalam proses oleh Unesco untuk menjadikan Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia. Salah satu syarat untuk menjadi WBD adalah bahwa kondisi di daerah itu tidak boleh bermasalah.
Karena itu, mereka sendiri mengaku, bahwa kalau ada tim dari Unesco mereka tidak pernah menyampaikan masalah tersebut. “Kami hanya menunjukkan daerah-daerah yang masih hijau,” kata Sukabuana.
Well, itulah kondisi di Jatiluwih. Sekarang ke lokasi kedua.
Pulau Serangan, Denpasar
Karena Serangan adalah lokasi paling dekat dari rumah, aku sebenarnya berniat ke sini kalau dua lokasi lain sudah beres. Tapi karena Pak Nyoman Sadra, narasumber di Tenganan baru bisa Sabtu ini, jadinya aku ke Serangan duluan. Tak apa-apa. Yang penting semua bisa selesai.
Serangan jadi pilihan menarik karena pulau kecil ini adalah korban kerakusan pariwisata Bali. Mulanya Serangan adalah pulau kecil yang terpisah dari daratan Bali oleh selat sempit, sekitar 2 km.
Pada 1992, Serangan direklamasi oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID). Pulau ini luasnya jadi 491 hektar dari yang luas semula hanya 112 hektar. Bayangkan, urukan pasir yang dikeruk dari pantai sekitar pulau kecil ini membuat ukuran Serangan jadi empat kali lipat luasnya.
Pembangunan oleh PT BTID di mana dua anak Soeharto, Bambang dan Tommy, terlibat di dalamnya, terhenti akibat krisis ekonomi pada 1997. Meski demikian, pembangunan yang terhenti sementara itu tetap meninggalkan masalah bagi warga setempat baik secara ekologis (lingkungan) maupun sosial. Penyu, ikan hias, dan terumbu karang hilang karena dikeruk. Warga setempat pun kehilangan pekerjaan sebagai nelayan. Mereka kini kerja serabutan.
Sejak awal pembangunan Serangan memang penuh masalah. Tentara terlibat memaksa warga untuk menjual tanahnya. Pada zaman itu, siapa sih yang berani melawan tentara.
Mengunjungi Serangan selalu seperti mengunjungi teman lama. Aku punya kenangan sendiri atas pulau ini. Pada 18 April 2001, ketika aku masih di Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana, kami bikin diskusi tentang nasib Serangan. Diskusi di wantilan Pura Sakenan Serangan itu mengundang warga setempat, dosen, dan tentara. Eh, pas diskusi baru dimulai, datang dua mobil penuh berisi preman. Tanpa ba bi bu mereka langsung memukuli Wayan Patut, narasumber dari masyarakat Serangan yang selama ini getol menolak reklamasi. Diskusi pun bubar. Anehnya, tentara yang kami undang hanya diam melihat pemukulan itu.
Soal Serangan saat ini, kapan-kapan saja deh aku posting lagi. Banyak yang menarik soale. Sekarang balik ke soal rencana field trip saja.
Jejak-jejak dampak perubahan iklim itu memang tidak langsung terasa. Penyebab paling jelas di Serangan adalah reklamasi itu. perluasan pulau hingga empat kali lipat membuat perubahan aliran arus di sekitar pantai. Menurut beberapa ahli lingkungan yang pernah aku wawancarai perubahan arus ini mengakibatkan rusaknya pantai di Padanggalak, Mertasari, dan Sanur.
Selain ya itu tadi, hilangnya ikan hias, terumbu karang, dan penyu. Binatang terakhir itu padahal maskot Serangan.
Nah, sejak 2003, warga Serangan menanam terumbu karang buatan. Ide Patut, teman lamaku yang kini sudah dapat Ashoka Fellowship, penghargaan untuk para aktivis, itu berkembang. Dari hanya 500 terumbu karang kini sudah jadi sekitar 20.000 bibit koral di 3 hektar area.
Masalahnya, koral itu pun ditanam di areal milik PT BTID. Menurutku sih ini akan jadi masalah suatu saat nanti antara warga Serangan dengan PT BTID yang sekarang mulai beraktivitas lagi.
Tenganan, Karangasem
Page 2 of 3 | Previous page | Next page