Nulis tentang periboga Lombok mengingatkanku pada NTT.
Setiap kali ke Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti Sumba, Flores ataupun Timor, aku selalu kecewa untuk urusan lidah.
Aku tak menemukan warung makan dengan menu lokal yang enak di pulau-pulau tersebut. Tiap kali makan, teman-teman di sana akan mengajak ke warung jawa atau warung padang.
Kalau hanya warung jawa atau padang, aku tak perlu jauh-jauh ke NTT. Di Bali pun banyak. Sebagai penggemar makanan lokal, aku ingin makan menu khas setempat, seperti di Sumba, Flores, ataupun Timor. Nyatanya, aku hampir tak pernah menemukannya.
Perjalanan ke Lombok kali ini lebih lengkap dengan berburu periboga.
Maka, selama di sini pun aku benar-benar berniat dari awal, harus menikmati menu-menu khas Lombok, seperti ayam bakar taliwang dan sate bulayak. Ternyata, kemudian ada menu khas yang juga aku baru tahu, bebalung.
![]()
Seperti biasa, selesaiin pekerjaan pun tetap harus sambil jalan-jalan.
Begitu pula liputan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) kali ini. Meskipun tak bisa jalan-jalan ke banyak tempat, tapi lumayanlah bisa menambal kenangan tentang Lombok sekitar 10 tahun silam bersama teman-teman kuliah.
“Videonya aktivis sekali,” kata beberapa teman.
Mereka mengomentari video produksi Cahyo dan aku. Video berjudul Don’t Wait itu kami buat buat ikut lomba video kebebasan berekspresi yang diadakan Internet Sehat. Setelah kami lihat dan lihat lagi, ternyata ada benarnya. Video yang kami buat ini memang terlalu “aktivis”.
Di tengah langkanya referensi tentang jurnalisme warga, buku ini serasa pelepas dahaga.
Buku yang diterbitkan Peter Lang, New York tahun 2009 ini memberikan gambaran bagaimana praktik jurnalisme warga tak hanya diterapkan tapi juga bisa mendorong perubahan di banyak negara. Melalui contoh-contoh di Irak, China, Amerika Serikat, India, Australia, dan negara-negara lain, para penulis menegaskan bahwa perubahan warga sekaligus sebagai pewarta bukanlah hal mustahil.
Teriakan bersahutan dan sorakan itu terdengar hingga ruang tamu.
Setelah aku keluar, ternyata puluhan laki-laki itu sedang main sabung ayam (tajen). Mereka saling bersorak memberikan dukungan pada ayam pilihan yang sedang bertarung sore itu.























